DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
MENUNJUKKAN BUKTI


__ADS_3

Rima masuk ke dalam rumahnya dengan langkah lesu. Wanita itu seperti kehilangan tenaga. Kabar yang diterimanya hari ini benar-benar membuatnya syok dan tidak bisa berpikir dengan jernih.


Rima menatap ke arah ruang keluarga. Di sana, terlihat Aditya dan Sagara terlihat sedang berbicara dengan serius. Merasa penasaran, Rima langsung mendekat ke arah suami dan putranya.


Namun, hatinya bertambah bergemuruh saat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Rima sangat marah mendengar mereka membicarakan tentang pernikahan. Pernikahan Sagara dengan Freya.


"Yang benar saja mereka mau menikah? Jika Freya adalah Amora, berarti wanita itu sampai saat ini masih sah menjadi istri Sagara. Mereka belum bercerai bukan?" batin Rima kesal. Apalagi, saat kedua orang itu seolah tidak peduli dengan kedatangannya.


"Papa akan datang ke rumah Freya untuk melamar gadis itu jika kamu sudah siap, Saga. Apa kamu sudah membicarakan niatmu dengan Freya?" Aditya menatap sang putra dengan serius.


Lelaki itu memang sangat menyukai Freya. Bagi Aditya gadis itu adalah pengganti yang Amora. Aditya merasa, jika Freya menjadi menantunya, maka ia akan menebus semua kesalahan yang dulu pernah dilakukannya pada Amora.


Kesalahan Aditya yang tidak bisa menjaga Amora dengan baik hingga akhirnya wanita itu menderita dan berakhir meninggal dunia di tangan istri dan anaknya.


Aditya merasa, Freya sama persis seperti Amora. Bahkan saat Freya berada di rumah itu, Aditya merasa kalau Amora kembali hidup meskipun dengan penampilan yang berbeda.


Amora dengan kesederhanaannya, sedangkan Freya dengan kecantikannya yang mampu menghipnotis semua orang.


"Aku sudah membicarakannya dengan Freya, tapi dia mengatakan kalau dia belum mau menikah. Dia masih ingin bebas. Lagipula, kuliahnya juga belum selesai," jawab Sagara.


"Kamu bisa bertunangan terlebih dahulu dengan Freya, Saga. Gadis pintar seperti Freya pasti banyak yang menginginkannya di luaran sana. Kamu tidak mau jika suatu saat Freya berubah pikiran dan meninggalkan kamu bukan?"


"Aku percaya pada Freya, Pa."

__ADS_1


"Papa tahu kamu percaya pada Freya. Tapi orang lain? Pria lain yang menyukai Freya bisa berbuat nekad untuk mendapatkan Freya meskipun gadis itu tidak menginginkannya." Aditya memperingatkan putranya.


Rima semakin kesal mendengar ucapan Aditya yang begitu menginginkan Freya untuk menjadi menantunya.


Wanita paruh baya itu kemudian melempar beberapa dokumen yang dia dapatkan dari detektif itu hanya saja Rima tidak melemparkan semua dokumen dari detektif itu ke hadapan Sagara dan Aditya Rima sudah memisahkan dokumen yang menunjukkan kalau Amora adalah gadis kecil yang dulu pernah diculik olehnya. Rima hanya menunjukkan bukti tentang Freya yang ternyata adalah Amora.


"Baca itu baik-baik! Mama selama ini telah diam-diam menyelidiki Freya dan lelaki yang pernah mama lihat jalan bersama dengan Freya saat di mall saat itu, dan itu adalah semua buktinya!" Mira menunjuk ke arah dokumen yang tergeletak di depan Sagara dan Aditya.


"Mama sudah bilang, kalau Freya tidaklah sebaik dugaan kalian, tapi kalian tidak percaya!" lanjut Rima dengan napas naik turun menahan amarah.


"Apa maksud, Mama? Untuk apa mama menyelidiki tentang Freya? Apa Mama tidak mendengar apa yang aku katakan kemarin pada Mama?" Sagara menatap pada sang mama dengan tatapan tidak mengerti.


Kenapa mamanya itu begitu keras kepala? Padahal, Sagara sudah menyuruh wanita yang melahirkannya itu untuk tidak ikut campur kehidupan Freya, apalagi sampai mencari tahu dengan cara menguntitnya.


"Jangan ganggu Freya lagi, Ma! Beberapa kali lagi aku harus mengatakan pada Mama jika aku sangat mencintai Freya?" Sagara menatap Rima dengan perasaan kecewa.


Sementara itu, Aditya yang merasa penasaran membuka dan membaca satu persatu dokumen yang dilempar oleh Rima tadi.


"Tidak mungkin ...." Aditya menggumam lirih, tetapi, masih terdengar oleh Sagara dan Rima.


"Ini tidak mungkin! Dari mana kamu mendapatkan dokumen ini?" Aditya menatap terkejut pada tulisan yang tertera pada dokumen tersebut.


"Freya dan Amora adalah orang yang sama?" Sagara melebarkan kedua matanya.

__ADS_1


"Tidak mungkin." Sagara dan Aditya saling berpandangan.


"Apa-apaan ini, Rima? Apa kamu sedang menipuku?" Aditya berteriak marah. Namun, lelaki paruh baya itu tidak berhenti membaca tulisan demi tulisan yang tertulis dalam dokumen itu.


"Sejelas itu tertulis di sana, tapi kalian masih belum mempercayainya?"


"Ini tidak mungkin, Rima. Lagipula, kenapa kamu sampai menyewa detektif untuk menyelidiki Freya?" Aditya masih belum mempercayainya.


Tetapi, jantungnya berdetak dengan kencang. Seandainya Freya adalah Amora bukannya itu bagus?


"Aku hanya merasa curiga padanya. Freya dan Amora memiliki tanda lahir yang sama. Kamu boleh periksa di bagian mana saja letak tanda lahir Freya yang sama persis seperti Amora!" teriak Rima merasa sangat marah pada Aditya dan Sagara.


"Kenapa kalian berdua tidak pernah mempercayaiku? Apa yang aku ucapkan adalah kebenaran. Aku bahkan sudah membayar mahal untuk mendapatkan informasi ini!" Rima menatap Aditya dan Sagara secara bergantian.


"Sekarang, terserah kalian percaya atau tidak yang jelas seandainya Freya adalah Amora, kita harus bersiap-siap mulai dari sekarang. Bisa jadi, Freya datang ke keluarga kita untuk membalas dendam!" Rima menatap kedua lelaki beda generasi itu, kemudian wanita itu melangkah menuju kamarnya dengan hati dongkol.


"Pa, apa mungkin ini adalah benar? Tidak mungkin Amora yang jelas-jelas sudah meninggal hidup lagi kan?"


"Di sini dijelaskan kalau Amora mengalami mati suri. Jika benar Freya adalah Amora, bukannya itu bagus? Berarti kamu dan dia masih terikat pernikahan. Amora masih istrimu karena kalian belum bercerai. Itu berarti Freya adalah istrimu." Aditya menepuk bahu Sagara.


"Tapi itu juga kalau dokumen ini bukan hasil manipulasi ibumu. Kamu tahu pasti siapa ibumu 'kan?"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2