DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
JANGAN ULANGI KESALAHAN YANG SAMA


__ADS_3

Mengingat Freya adalah anak dari orang yang dibencinya, tentu sudah sewajarnya kalau Rima tidak mau menerima Freya sebagai menantunya.


Kalau tahu kejadiannya akan seperti ini, Rima jelas lebih memilih Amora, si yatim piatu dan gadis kampung itu untuk menjadi menantunya, daripada harus menjalin hubungan kembali dengan Rania dan Dirga.


Akan tetapi, semua itu tidak mungkin dia ungkapkan pada Sagara. Walaupun Sagara adalah putranya dan pastinya akan melindungi ibu kandungnya, tetapi, Rima tidak mungkin menceritakan semua rahasia masa lalunya pada Sagara yang saat ini begitu tergila-gila pada Freya.


Bisa-bisa Rima akan masuk penjara atas perbuatan jahatnya bertahun-tahun lalu. Dia tidak bisa menjamin bahwa Dirga sudah tidak mencari penculik anaknya, walaupun kini, mungkin anak itu sudah berada bersama mereka. Itu pun jika benar gadis kecil yang dulu dia culik itu benar-benar Freya.


Ah! Sepertinya, Rima harus segera menyuruh orang untuk menyelidikinya agar dia tidak merasa penasaran.


"Terserah Mama mau menganggapnya seperti apa, yang pasti aku sangat mencintai Freya dan tidak akan melepaskan gadis itu. Cukup sudah kebodohanku membiarkan Amora tersiksa oleh kelakuan Mama dan juga Laura kala itu, untuk yang satu ini sampai mati pun aku akan memperjuangkannya. Jadi, suka tidak suka, Mama harus menerima Freya sebagai menantu di rumah ini!" tegas Sagara membuyarkan lamunan Rima. Pria itu kemudian berlalu meninggalkan Rima seorang diri di kamar itu.

__ADS_1


Kepergian Sagara semakin menyadarkan Rima bahwa kini hidupnya seorang diri, tanpa suami dan juga anak.


Mereka memang masih tinggal satu rumah, tetapi, mereka hidup tidak selayaknya sepasang suami istri dan anak. Mereka bertiga bagaikan orang asing yang hanya datang saat sedang dibutuhkan saja.


Sagara bahkan tidak bertanya tentang musibah yang menimpanya tadi sore saat dirinya hampir saja mati tenggelam di kolam renang. Seandainya Freya tidak menolongnya mungkin Rima saat ini sudah tinggal nama karena dia tidak bisa berenang.


Tiba-tiba bayangan saat Amora dulu tercebur di kolam dan hampir saja tenggelam karena ia dan Laura meninggalkannya kembali terlintas.


****


"Bagaimana? Apa kamu sudah bicara dengan ibumu?" tanya Aditya saat berpapasan dengan Sagara di anak tangga ketiga, pria itu tampaknya ingin masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Sagara hanya mengangguk lemah, walau sekuat dan sekeras apapun dia bicara pada ibunya tadi, dia tahu bahwa Rima belum bisa menerima hubungannya dengan Freya. Dia takut bahwa setelah menikah Rima akan berupaya untuk memisahkan mereka kembali seperti yang wanita itu lakukan pada Amora.


"Papa akan membantumu bicara pada ibumu agar dia tidak ikut campur hubunganmu dengan Freya. Papa merestuimu, kalau kalian memang saling mencintai tidak perlu menunggu lama. Kapan kau siap, Papa akan melamar Freya untukmu," ucap Aditya memberi semangat pada putranya.


"Terima kasih, Pa. Aku akan membicarakannya dulu dengan Freya. Jika dia setuju, aku akan menikahinya secepatnya."


Aditya menepuk bahu Sagara. "Belajarlah bertanggung jawab pada orang yang kamu cintai. Apa yang pernah dialami Amora, jangan kamu ulangi lagi pada Freya. Anggap saja kenangan pahit di masa lalu itu adalah sebuah pelajaran agar kamu tidak mengulanginya lagi." Aditya menasihati putranya agar tidak kembali melakukan kesalahan yang sama seperti kesalahan yang dia lakukan di masa lalu.


"Sekali lagi, terima kasih karena Papa sudah mendukungku. Aku janji, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu."


Sagara tersenyum pada Aditya. Setidaknya, dia memiliki satu orang yang mendukungnya, walaupun jauh dalam hatinya dia akan lebih bahagia jika ibunya ikut merestui hubungannya dengan Freya.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2