DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
AMARAH ADITYA


__ADS_3

Aditya menatap Sagara dengan penuh amarah saat melihat pria itu pulang dalam keadaan mabuk. Hampir setiap malam Sagara menghabiskan waktunya ke klub malam dan berakhir pulang dalam keadaan mabuk berat.


"Mau sampai kapan kamu akan seperti ini Sagara?" Aditya berteriak dengan keras.


Sudah beberapa bulan berlalu, Sagara masih saja terpuruk karena kehilangan Amora. Kuliahnya berantakan, kerjaan kantor juga terbengkalai. Sagara benar-benar menjadi orang yang tidak lagi bisa diandalkan.


"Kelakuanmu yang seperti ini tidak akan membuat Amora hidup lagi, Saga! Istrimu sudah meninggal! Harusnya kamu mendoakan dia agar dia tenang di sana dan mau memaafkan kesalahanmu. Bukan malah menjadi bodoh seperti ini!" teriak Aditya.


Namun, apalah arti teriakannya. Sagara saja saat ini dalam keadaan tidak sadar. Mana mungkin anak itu mendengarkannya?


"Dadang! Dadang ...!" teriak lelaki paruh baya itu pada sopir pribadinya.


Lelaki bernama Dadang itu berlari dengan tergesa mendekati majikannya yang sedang diliputi amarah. Dadang bahkan sampai gemetar ketakutan saat melihat wajah Aditya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Dadang takut-takut.


"Seret dia ke kamar mandi belakang. Biarkan dia di sana sampai di sadar. Bila perlu, kurung dia di kamar mandi sampai dia sadar!" Aditya menatap Dadang yang kesusahan mengangkat Sagara.


"Bibi!"


Asisten rumah tangga yang Aditya panggil segera mendekatinya.


"Bantu Dadang menyeret Sagara ke kamar mandi!"


"Ta–tapi–"


"Tapi apa? Kau membantah perintahku?"

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Saya akan membantu Mang Dadang sekarang juga." Asisten rumah tangga berusia hampir empat puluh tahun itu tidak lagi berani membantah. Sebenarnya, tadi ia ingin membantu Sagara agar Aditya tidak kembali menyiksa majikan mudanya. Namun, melihat kemarahan Aditya, seketika asisten rumah tangga itu mengurungkan niatnya.


Dadang dan wanita itu memapah Sagara menuju kamar mandi.


"Mas, kamu benar-benar keterlaluan!" teriak Rima.


"Aku? Keterlaluan?" Aditya menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"Apa aku tidak salah dengar?" teriak Aditya membuat Rima terlonjak kaget.


"Semua ini gara-gara kamu! Jika kamu dan Laura tidak menyiksa Amora, perempuan itu pasti masih hidup. Cucuku juga tidak akan meninggal!" Napas Aditya naik turun.


"Sagara hampir gila seperti itu karena dirimu. Puas kamu sudah menghancurkan anakmu sendiri?"


Rima menangis mendengar teriakan Aditya.


"Mas!" Rima berteriak marah.


"Apa? Kau tidak terima?" Aditya mencibir.


"Dengar, Rima. Aku sangat tahu bagaimana kehidupan kamu di masa lalu. Aku mencintaimu karena itu aku menikahimu. Berharap, kamu akan benar-benar berubah menjadi orang baik.


Bertahun-tahun kamu sudah berhasil, Rima. Aku tidak mempermasalahkan perselisihanmu dengan siapapun, aku tidak peduli. Selagi kau masih menjaga nama baik keluarga, aku memaafkanmu.


Tapi, kenapa hanya karena kau tidak menyukai Amora menjadi menantumu, kamu kemudian berubah lagi menjadi orang jahat? Kau bahkan bekerja sama dengan Laura untuk menghancurkan Amora dan membunuh cucumu sendiri!"


"Tidak! Aku tidak membunuhnya!" teriak Rima.

__ADS_1


"Tanyakan itu pada hati nuranimu sendiri, Rima! Jika sampai terbukti kau dan Laura memang terbukti membunuh Amora dan cucuku, aku sendiri yang akan menyeretmu dan Laura ke penjara!"


"Mas!"


"Bukan hanya memasukkanmu ke penjara, aku pastikan, aku juga akan mengakhiri pernikahan kita!"


"Mas! Mas Aditya!" Rima berteriak memanggil Aditya, tetapi, pria itu tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar utama. Aditya mengunci kamar itu agar Rima tidak ikut masuk ke dalam kamar.


Semenjak kematian Amora dan mengetahui kejahatan Rima, Aditya memutuskan untuk pisah kamar dengan Rima.


Hubungan mereka berdua berantakan. Aditya merasa kecewa dan marah pada Rima karena perempuan itu telah berbuat jahat melenyapkan Amora.


Aditya mengingat percakapannya dengan Dokter Rama beberapa hari yang lalu.


"Pak Aditya, tim dokter di rumah sakit menemukan kejanggalan. Mereka menemukan sesuatu yang menjadi penyebab utama kematian menantu Anda."


"Sesuatu?" Aditya menatap Dokter Rama dengan serius.


"Nona Amora meninggal dunia bukan hanya karena pendarahan saja, tapi juga karena kelebihan mengkonsumsi obat."


"Apa maksudmu mengkonsumsi obat berlebih? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau Amora tidak sadarkan diri selama dirawat di rumah?" Aditya menatap dokter pribadinya itu dengan tajam.


"Itulah, Pak. Makanya saya juga merasa bingung. Saat itu, aku mempercayakan obat-obatan itu pada Nyonya Rima dan Nona Laura. Mereka berdua berjanji sama saya akan memberikan obat itu tepat waktu dan sesuai dosis yang ditentukan. Tapi–"


"Apa kau mencurigai istriku dan Laura?"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2