DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
RENCANA LAURA


__ADS_3

Hasutan Laura akhirnya kemakan oleh Rima. Kebencian dan hasratnya untuk menyingkirkan Amora yang dianggap sebagai aib keluarganya, membuat Rima menerima tawaran Laura.


"Apa rencanamu, Laura? Jangan sampai gegabah salah langkah yang membuat kita berakhir di tiang gantungan!" ucap Rima menatap intens mata Laura.


Mereka baru saja keluar dari kamar Amora, saat ini gadis itu sedang tidur setelah diberi obat oleh Dokter Rama sesaat sebelum dokter itu pamit undur diri.


"Kalau kita menghabisinya secara langsung, maka Om Aditya dan juga Saga akan curiga. Jadi, mumpung saat ini dia tidak sadarkan diri dan perlu banyak meminum obat, kita naikkan saja dosisnya. Bila perlu, pada infusnya juga kita masukkan." Laura berbisik di telinga Rima. Wanita paruh baya itu tersentak kaget mendengar ucapan Laura.


"Amora akan mengalami komplikasi, syukur-syukur gagal jantung dan cepat mati. Kalau sudah begitu, tidak akan ada yang curiga pada kita, Tante. Apalagi, Amora mengalami pendarahan dahsyat. Jadi, kalaupun dia meninggal, tidak akan ada yang curiga pada kita," terang Laura dengan seringai licik.


Rima diam menimbang perkataan Laura. Apa yang dikatakan gadis itu sangat masuk akal. Akhirnya Rima setuju. Dia juga sudah muak diminta Sagara untuk menjaga istrinya itu.


Sejak saat itu mereka mulai konspirasinya. Memberikan Amora minum obat melebihi anjuran dokter. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Laura menyuntikkan obat yang jenisnya sama namun dosis dan kandungan di dalamnya lebih keras ke dalam infus Amora.


Usaha mereka berhasil. Kesehatan Amora kembali menurun drastis. Wanita itu semakin lemah, dan tiba-tiba kembali terjadi pendarahan.

__ADS_1


Sagara yang panik dan sangat ketakutan akhirnya membawa istrinya ke rumah sakit. Sore itu, dia baru tiba di rumah sepulang dari kantor dengan lelah dan pikiran kalut menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia ingin segera bertemu dengan istrinya.


Sejak pagi pikirannya bercabang. Tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan yang sedang dia selesaikan. Ada perasaan khawatir yang berlebihan pada Amora hari ini, sangat berbeda dari biasanya.


Namun, betapa pias wajahnya ketika mendapati keadaan Amora semakin memburuk. Noda darah juga terlihat di sprei membuatnya semakin panik.


Sagara bergegas menggendong Amora dan dengan perlahan memasukkan ke dalam mobil tepat saat itu ibu dan juga Laura datang menghampirinya.


"Loh, mau ke mana kamu bawa Amora?" tanya Rima sedikit heran. Baru siang tadi mereka menyuntikkan obat dan tidak memperlihatkan reaksi apapun, lantas mengapa sore ini keadaannya semakin memburuk?


"Gimana nih Laura, kita nggak akan kena masalah, kan?" tanya Rima yang mulai dihantui rasa panik. Bagaimana kalau dokter bisa mendeteksi hasil perbuatan mereka? Bisa terjerat dan akan masuk bui nantinya.


"Tante tenang saja, jangan panik. Semua akan baik-baik saja dan yang terpenting rencana kita berjalan dengan baik. Kali ini, aku pastikan Amora tidak akan kembali lagi ke rumah ini. Walaupun dokter bisa mencoba menolongnya, tapi itu akan sia-sia," ucap Laura penuh percaya diri.


***

__ADS_1


"Apa? Kenapa bisa sampai terjadi seperti itu? Kau sudah memeriksa keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Aditya panik ketika Rama memberi laporan mengenai keadaan Amora.


"Saya tidak tahu pasti penyebab pendarahan itu, Tuan, karena harus memeriksa lebih lanjut lagi, kemungkinan karena adanya penyiksaan maaf, pada organ intim, tapi seharusnya Amora dibawa ke rumah sakit, Tuan." Dokter Rama menelepon Aditya karena merasa khawatir dengan keadaan Amora.


"Kalau hanya mengandalkan infus dan juga obat yang saya berikan, saya takut kondisi tubuhnya lemah tidak bisa menerima asupan obat itu bahkan terlalu berat sehingga bisa menimbulkan komplikasi, apalagi dia sedang hamil," terang Rama yang tidak ingin disalahkan jika terjadi hal buruk terhadap diri Amora dan bayinya.


Aditya begitu cemas dengan keadaan Amora tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah mencoba untuk mengundur jadwal pertemuannya dengan investor asing, tapi sialnya investor menolak me- re schedule pertemuan mereka. Akhirnya Aditya menghubungi Sagara meminta penjelasan, tapi saat ini Sagara sedang sibuk mengurus istrinya, sehingga tidak berniat untuk mengangkat telepon dari siapapun.


Dokter sudah membawa Amora ke ruangan, prediksi dokter benar setelah melihat pupil mata Amora.


"Bagaimana Dokter, apa yang terjadi dengan istri saya?" ucap Sagara menyongsong kedatangan dokter dari ruangan tempat Amora dirawat.


"Maaf Pak, sepertinya keadaan ibu sudah melemah dan juga kami sangat menyesal, bayi yang ada dalam kandungan istri bapak sudah tidak ada dan kita harus segera melakukan proses pembuangan janinnya ada di dalam kandungannya," terang sang dokter menggunakan bahasa yang paling sederhana.


"Ti-dak! Tidak mungkin ...."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2