DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
KESAL


__ADS_3

Sagara mengantarkan Amora pulang ke rumahnya saat itu juga. Setelah pulang mengantar Amora, Sagara segera menemui Rima di kamarnya.


Lelaki itu sangat kesal karena sang mama mengatakan pada Freya kalau dirinya tertarik pada Freya karena gadis itu mirip dengan Amora.


Rima yang memang tidak menyukai Freya mengatakan kalau Sagara menyukai Freya karena wajahnya yang mirip dengan Amora. Sagara mengingat kata-kata Freya sebelum dirinya mengantar kekasihnya itu pulang.


"Apa kau masih mengingatnya saat kau sedang bersamaku?" Amora menatap Sagara yang saat itu juga sedang menatapnya.


"Aku sudah melupakannya saat aku bertemu denganmu. Meskipun aku akui, Amora tetap ada dalam hatiku yang paling dalam. Tapi, sungguh! Saat ini aku hanya mencintaimu. Amora sudah meninggal. Aku tidak mungkin terus larut dalam kesedihan bukan?" Sagara memindai wajah cantik Amora.


Tidak dapat dipungkiri, terkadang, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Sagara mengingat Amora saat melihat wajah cantik Freya. Namun, tidak mungkin Sagara mengatakannya dengan jujur pada Freya bukan? Bisa-bisa wanita itu meninggalkannya tanpa ragu-ragu.


"Aku sudah lama hidup dalam penyesalan saat Amora meninggalkan aku. Kini, aku tidak ingin lagi hidup dalam masa lalu. Amora sudah bahagia di sana, dan aku juga akan berusaha membuat diriku sendiri bahagia. Kamu adalah orang yang bisa membuatku bahagia, Freya. Aku mencintaimu. Aku ingin merajut masa depan bersamamu."


"Kamu jangan berbohong, Saga. Tante Rima bilang, kamu menyukaiku karena wajahku mirip dengan Amora. Mama kamu juga mengatakan padaku, kalau satu-satunya wanita yang kau cintai adalah Amora."


"Sagara. Sampai kapan kamu terus berdiri di sana?" Suara Aditya membuyarkan lamunannya tentang Freya. Lelaki paruh baya itu baru saja datang dari dapur untuk mengambil minum.


Saat ini, Sagara memang masih berdiri di depan pintu kamar ibunya. Terlalu memikirkan Freya membuat Sagara tidak sadar jika dia sudah lama berdiri di depan pintu kamar.

__ADS_1


Aditya mendekati Sagara yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.


"Ada apa? Kau terlihat sedang tidak baik-baik saja?" Aditya memindai wajah putranya yang terlihat kusut.


"Aku hanya sedang kesal," jawab Sagara.


"Kesal kenapa? Apa kamu bertengkar dengan Freya?"


Sagara menggeleng pelan.


"Freya baru saja pulang. Aku dan dia baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun."


"Mama yang membuatku kesal."


"Mama kamu?"Aditya menghela napas panjang. Apalagi yang telah dilakukan oleh Rima hingga menyebabkan putranya marah? Kenapa istrinya itu terus saja berulah?


"Mama mengatakan pada Freya kalau aku menyukainya karena wajah Freya mirip dengan Amora."


"Apa?" Aditya sangat terkejut mendengar ucapan Sagara. Lelaki itu mengepalkan tangannya erat.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu selalu ikut campur urusan putramu Rima. Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu. Kenapa kamu tidak jera sama sekali dengan apa yang sudah menimpamu?" batin Aditya.


"Kenapa mama selalu ikut campur urusanku, Pa? Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa agar Mama mau mengerti apa yang aku inginkan." Sagara mengacak rambutnya frustasi.


Sungguh! Ia benar-benar dalam posisi serba salah. Kebencian Sagara pada sang mama yang telah menyebabkan Amora meninggal, belum sepenuhnya hilang. Kini, wanita yang melahirkannya itu kembali ikut merecoki hubungannya dengan Freya.


Apa sebenarnya yang mamanya inginkan? Apa wanita itu tidak ingin melihatnya bahagia?


"Kau tanya sendiri saja sama mama kamu. Papa pusing mendengar tingkah laku mama kamu yang semakin hari bikin papa sakit kepala." Aditya menepuk pundak Sagara kemudian pergi menuju ruang kerjanya.


Sagara mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar sang mama yang tidak terkunci.


Rima yang ternyata sedari tadi menguping pembicaraan anak dan suaminya dari balik pintu, pura-pura tertidur. Wanita itu dengan tergesa lari dan langsung membaringkan tubuhnya saat mendengar suara Aditya yang menyuruh Sagara masuk ke dalam kamarnya.


Sagara mendekati Rima yang berbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke bagian leher.


"Aku tahu, Mama tidak tidur. Aku ingin bicara pada Mama tentang Freya."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2