DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
INGIN BERTEMU AMORA


__ADS_3

Tidak sampai sebulan, Amora benar-benar pindah ke Jakarta. Dirga mengurus kepindahan Amora ke kampus barunya dengan menggunakan identitas baru, yaitu, Freya Aurora Dirgantara.


Wanita itu kini tinggal di sebuah rumah yang cukup besar bersama Rania untuk sementara. Seminggu sekali, Dirga akan mengunjunginya.


Dirga dan Rania baru akan melepaskan putrinya untuk tinggal sendirian di rumah itu setelah putrinya aman berada di sana.


"Maafkan aku ya, Ma, karena menemaniku, Mama dan Papa harus berjauhan gini," ucap Amora memeluk Rania. Tidak terkira, bagaimana perasaan haru sekaligus bahagia karena sudah diberi orang tua sebaik mereka.


"Nggak, apa-apa, Nak. Kamu anak kami satu-satunya, kemana pun kamu melangkah, kami senantiasa akan mendukung dan melindungi mu," jawab Rania menepuk punggung tangan Amora.


***


Nama belakang Amora ternyata membawa pengaruh besar pada sikap dosen, staf dan juga teman-teman satu jurusannya. Mereka seolah berlomba untuk mendapatkan perhatian dari Amora.

__ADS_1


Namun, Amora yang sudah biasa dimanfaatkan lebih berhati-hati dalam memilih teman, terlebih saat ini ada satu rahasia besar yang dia simpan, jangan sampai kedekatannya dengan teman membuatnya menceritakan masalah pribadinya.


"Freya, pulang kuliah, kita nonton, yok?" sapa Tika, teman sebangkunya. Gadis itu cukup baik, tidak banyak tingkah seperti kelompok gadis lain yang satu kelas dengannya.


"Sorry, Tik. Nanti aku ada janji sama teman. Mungkin lain kali, ya?" jawab Amora tersenyum. Dia bukan menghindari atau tidak suka berteman dengan Tika, tetapi, hari ini dia memang ada janji dengan Dewa.


Aneh, tapi ini nyata. Amora sangat menantikan setiap pertemuannya dengan Dewa. Hari ini, mereka janji untuk makan siang, tidak hanya itu, Dewa juga ingin membawa Amora bertemu dengan orang tuanya.


Amora sudah menolak, mengatakan kalau tidak siap bertemu dengan orang tua Dewa, tetapi, Dewa tetap memaksa karena ibunya sudah sejak lama ingin bertemu dengan Amora.


Dewa memang sangat dekat dengan ibunya, jadi ketika dia terlihat berubah lebih ceria, Mariana sangat penasaran ingin bertemu dengan wanita yang sudah berhasil membawa dan memberi kebahagiaan kepada putranya itu.


"Oke deh, tapi janji ya, lain kali kita jalan," ucap Tika mengerti.

__ADS_1


"Oke."


***


"Udah lama nunggu, Mas?" tanya Amora ketika sudah bertemu dengan Dewa di parkiran.


"Selama apapun, asal menunggumu aku pasti bisa bersabar," jawab Dewa mengulum senyum sembari mengerlingkan mata pada Amora.


Selalu saja begitu, Dewa berhasil membuatnya malu. Akan tetapi, anehnya Amora merasa perkataan Dewa bukan untuk menggombal, seolah kalimat itu memang tulus berasal dari dalam hatinya.


"Mas, sejujurnya aku belum berani bertemu dengan orang tuamu. Bagaimana kalau mereka menanyakan perihal statusku?" tanya Amora setelah sepuluh menit meninggalkan kampus.


"Jangan khawatir, sampai saat ini mamaku hanya tahu ada seorang gadis yang sudah membuatku bahagia dan berhasil membuat putranya jatuh cinta. Mama ingin bertemu dengan wanita hebat itu, yaitu kamu," jawab Dewa menoleh ke samping mencoba menenangkan Amora yang masih terlihat ragu.

__ADS_1


"Sama saja aku sudah membohongi orang tuamu. Aku bukanlah gadis yang ada dalam bayangan mereka. Aku yakin kalau mereka tahu tentang kisahku, ibumu pasti tidak mengizinkanmu berteman denganku," tukas Amora dengan sangat yakin.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2