
Amora dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman Sagara. Dalam hati, ia memaki pria itu.
Brengsek! Berani-beraninya dia memegang tanganku.
"Pantas saja semua wanita bertekuk lutut padamu, kau sangat pandai merayu ternyata." Amora tersenyum manis.
Senyum yang lagi-lagi menggetarkan hatinya dan mengingatkannya pada Amora, istri yang terlambat dicintainya.
"Aku hanya ingin membuktikan padamu kalau apa yang kurasakan memang benar, dan aku baru kali ini merasakannya. Merasakan kembali jatuh cinta setelah bertahun-tahun."
"Bertahun-tahun?" Amora menatap Sagara. Merasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.
Sagara mengangguk. "Aku pernah jatuh cinta pada seseorang. Namun, aku terlambat menyadarinya. Setelah dia pergi, aku baru menyadari, kalau aku sangat mencintainya." Raut wajah Sagara berubah sedih.
"Kalau kamu sangat mencintainya, kenapa kamu tidak kembali padanya? Kamu bisa merayunya agar dia kembali padamu," ucap Amora. Ia sangat yakin jika wanita yang dimaksud oleh Sagara adalah Laura. Wanita jahat yang sudah membuatnya menderita.
__ADS_1
Amora mengepalkan tangannya. Sorot matanya berkilat penuh amarah. Namun, tatapan itu hanya sekilas saja karena dengan cepat Amora kembali menetralkan emosinya.
"Kamu benar. Rasanya aku ingin sekali mengejarnya dan mengatakan padanya kalau aku sangat mencintainya. Namun, semua itu tidak mungkin bisa aku lakukan. Dia–"
"Bukankah kau sangat keren dan sukses sekarang? Kenapa kamu tidak percaya diri untuk mengejarnya kembali?" sela Amora.
"Karena aku tidak mungkin bisa mengejarnya kembali."
"Kenapa tidak mungkin?" Amora semakin penasaran. Perempuan itu bahkan sepertinya lupa pada rencana awalnya. Niat hati ingin bersikap dingin pada Sagara, Amora justru kepo dengan kehidupan Sagara setelah kematiannya saat itu.
"Karena dia sudah tidak ada lagi di dunia ini."
"Apa?" Amora menatap Sagara dengan raut wajah terkejut.
"Dia meninggal dunia di saat hatiku sudah mulai jatuh cinta padanya." Sagara menatap Amora dengan lekat.
__ADS_1
"Amora, Sayang, seandainya saja wanita yang ada di hadapanku sekarang adalah kamu, aku pasti akan memelukmu saat ini juga," batin Sagara.
"Perempuan di hadapanku itu sangat mirip denganmu. Entah kenapa, saat aku berdekatan dengannya seperti ini, hatiku bergetar, jantungku berdetak cepat seperti saat aku terakhir melihatmu sebelum kamu mengembuskan napas terakhirmu.
Izinkan aku mencintainya seperti aku mencintaimu, Amora. Aku berjanji akan tetap menyimpan namamu di hatiku yang paling dalam." Sagara terus berbicara dalam hati. Sementara itu, Amora sibuk menerka-nerka siapa perempuan yang dimaksud oleh Sagara.
Seandainya benar wanita yang dimaksud adalah dirinya kenapa Sagara tidak mengakui kalau dia sudah menikah? Atau seandainya wanita itu adalah Laura, bukankah wanita ular itu masih hidup? Beberapa hari kemarin Amora bahkan melihat Laura dengan seorang pria berperut buncit di sebuah hotel.
Saat itu, Amora dan ibunya sedang menghadiri undangan makan malam di sebuah hotel bintang lima. Di sana, dia tidak sengaja bertemu dengan Laura. Saat itu juga, Amora menyuruh beberapa bodyguard yang biasa bertugas untuk mengawasi dan menjaganya secara sembunyi-sembunyi untuk mengikuti Laura.
Rania begitu antusias saat Amora menceritakan tentang Amora. Wanita yang melahirkan Amora itu akhirnya menyusun rencana untuk membalaskan dendam putrinya pada wanita jahat itu.
Akan tetapi, kalau bukan Laura, siapa lagi? Bukankah Sagara sangat mencintai Laura? Lelaki itu bahkan dengan tega berbuat jahat pada Amora saat dia mengira kalau istrinya itu telah mendorong Laura hingga terjatuh dari tangga. Jadi, tidak mungkin lelaki itu mencintai orang lain setelah kematian Amora bukan?
"Gadis itu namanya Amora. Gadis cantik yang telah membuatku hampir gila setelah kematiannya."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....