
Bersama Inem, Amora menghidangkan nasi dan lauk pauk untuk Laura. Tapi setelah semua tertata, Laura protes.
"Tante, apa-apaan sih, menu nya. Apa maksudnya ini nyuruh aku makan karbo? Gila kamu ya!" umpat Laura menoyor kening Amora saat gadis itu meletakkan sop.
Rima diam. Bingung harus mengatakan apa lagi guna menunjukkan kesalahan Amora. Pasalnya, Rima juga gak mengerti, dimana kesalahan Amora. Bukankah Laura memang meminta makan tadi? Lalu apa yang dihidangkan di atas meja adalah makanan. Rima jadi menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Sayang, jadi kamu mau apa? Kalau ngomong sama orang kampung seperti mereka memang harus lebih detail, kalau tidak pekerjaannya akan selalu salah dan membuat kita marah-marah. Sekarang Tante tanya, kamu mau makan apa? Biar mereka siapkan segera," akhirnya Rima mencoba menenangkan Laura.
"Aku mau roti Gandung Tante, dan segelas susu dengan taburan kacang almond yang diparut, tapi terlebih dulu dipanggang di api kecil, dan diberi sedikit madu. Aku rasa itu cukup untuk makan siangku."
__ADS_1
"Hanya itu, Laura? Apa kamu akan kenyang?" tanya Rima yang sedikit bingung. Keningnya tampak berkerut.
"Tante, aku harus menjaga badan aku supaya tetap proporsional. Jangan sampai punya bentuk tubuh gendut dan tidak jelas seperti dia! Amit-amit, deh, Tante. Makanya aku heran, kenapa Sagara sampai mau tidur sama wanita seburuk ini, membuat harga diriku jatuh saja. Masa aku harus saingan dengan wanita kumuh, jorok dan tidak fashionable seperti ini sih," umpat Laura menatap jijik pada Amora.
"Kamu benar Laura. Kamu tidak sebanding dengan dia, makanya Tante berharap kamu yang menjadi menantu di rumah ini. Kamu harus sabar ya, Sayang, menunggu sampai waktunya, tiba kita akan tendang gadis ini dari rumah ini," sambar Rima membelai punggung Laura. Lalu kembali menoleh ke arah Amora.
"Kau punya telinga, kan? Segera siapkan apa yang diminta Laura tadi, dan jangan sampai ada yang salah takarannya!"
Tugas dari dalam yang diperintahkan Rima untuk dikerjakan Amora sudah selesai dan kini sebelum dia bisa beristirahat ataupun sekedar mandi, dia harus membersihkan pekarangan yang begitu luas menyiram bunga dan juga memberi pupuk pada tanaman lainnya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan Amora? Apa yang kau angkat ini? Ini sangat berat," ucap Aditya mengambil karung yang sedang diangkat oleh Amora dan meletakkan di tanah. Penasaran, Aditya membuka ikatan simpul pada ujung karung ingin mengetahui isi di dalamnya.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan hal ini? Sangat berbahaya untuk kandunganmu, mengangkat benda seberat ini. Di mana tukang kebun yang biasa mengerjakannya?" tanya Aditya menatap wajah lelah Amora yang sejak pagi tidak ada henti mengerjakan semua yang diperintahkan oleh ibu mertuanya.
"Sudah beberapa hari ini tidak masuk kerja, Ayah. Jadi, ibu menugaskanku untuk menggantikannya mengurus tanaman ibu," jawab Amora jujur.
Dia sama sekali tidak berpikiran untuk mengadu kepada mertuanya ini namun, lelah membuatnya tidak memilah apa yang akan dia katakan. Semua kejujuran itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Ayo, tinggalkan aja semua itu. Kita masuk," paksa Aditya yang kali ini sangat marah terhadap istrinya.
__ADS_1
Dia yakin bahwa Rima sengaja melakukan hal ini karena ingin menyiksa Amora. Bahkan bisa jadi dengan sadar, wanita itu memikirkan cara ini untuk menyingkirkan bayi yang ada di kandungan Amora karena sejak awal Rima tidak menyetujui pernikahan Amora dengan Sagara terjadi.