
Amora menatap Sagara kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Sagara. Lagi-lagi, ada rasa yang menggelitik hati gadis itu, dia tidak bisa memungkiri bahwa getar itu masih ada.
Mungkin yang dikata orang bahwa cinta pertama tidak mudah mati nyatanya benar. Dia masih menyimpan rasa pada pria itu.
Amora tidak bisa seratus persen menghilangkan rasa sukanya kepada Sagara karena pria itu memang cinta pertamanya. Namun, rasa sakit yang diberikan pria itu kepada dirinya jauh lebih besar dari rasa cintanya hingga perasaan itu seiring waktu mulai terkikis dan hampir habis.
Keduanya akhirnya kembali ke dalam ballroom. Rania dengan cemas menunggu kedatangan Amora dan ingin bertanya apakah semua baik-baik saja.
Biar bagaimanapun wanita itu tetap merasa khawatir dan takut bahwa Sagara akan menyakiti putrinya. Bagaimana kalau pria itu menyadari bahwa dia adalah Amora dan pria itu tiba-tiba mencelakainya? Sungguh! Rania tidak akan menerimanya.
"Mama? Sedang apa di sini?" pekik Amora yang begitu membukakan pintu samping tempat mereka masuk sudah bertemu dengan Rania yang berdiri di sana sendiri tanpa ditemani oleh Dirga.
"Mama menunggumu. Mama ingin kamu menemani Mama ke toilet, rasanya perut Mama sakit," ucap Rania sambil mengangguk dan tersenyum kepada Sagara lalu menarik tangan Amora tanpa menunggu gadis itu berpamitan pada Sagara.
"Ada apa Mama? Kalau memang perut Mama sakit, sebaiknya kita pulang saja," pinta Amora yang merasa khawatir akan kesehatan ibunya.
__ADS_1
"Mama baik-baik saja. Itu hanya alasan untuk membawamu pergi dari hadapan pria itu. Bagaimana? Apa dia menyakitimu? Kau baik-baik saja 'kan?" serbu Rania mencerca Amora dengan berbagai pertanyaan. Kalau sampai Sagara menyakiti Amora, Rania bersumpah akan membalas dendam pada pria itu.
"Aku baik-baik saja Ma, Maaf sudah membuat Mama khawatir. Target sudah jatuh ke tangan kita. Apa Mama tahu? Dia memintaku untuk menjadi pacarnya," terang Amora penuh semangat.
"Lalu?" tanya Rania sedikit terkejut, tidak menyangka bahwa sasaran langsung masuk ke dalam jebakan yang mereka buat. Padahal, rencana mereka belum terlalu matang hanya sampai batas untuk memperkenalkan Amora saja.
"Aku memintanya untuk bersabar dengan alasan harus memikirkan terlebih dahulu," jawab Amora dan terlihat wajah Rania berubah menjadi lebih tenang
"Bagus! Jawaban kamu sudah sangat tepat," ucap Rania. "Kamu juga harus bicara dengan Dewa perihal ini," lanjut Rania. Dia bukan tidak tahu kalau Dewa menaruh perasaan terhadap putrinya dan sejujurnya sebagai seorang ibu Rania lebih setuju Kalau Dewa yang menjadi menantunya
Demi kenyamanan Amora dan menghindari desakan Sagara yang ingin terus memepetnya, Rania memutuskan untuk meminta Amora beristirahat saja di hotel tempat acara itu berlangsung.
Rania kembali menemui Dirga. Wanita itu menjelaskan atas tidak kembalinya Amora bersamanya ke ruang pesta.
"Saya minta maaf, Freya tidak bisa kembali menemui kalian. Dia ingin beristirahat, katanya kepalanya sedikit pusing. Mungkin karena kelelahan," ucap Rania setelah berdiri di samping Dirga yang tengah berbicara dengan Aditya dan juga Rima.
__ADS_1
Terlihat wajah Sagara yang tidak puas akan berita yang dia dapat. Padahal, Sagara masih ingin bicara sekaligus memberikan sesuatu kepada Amora. Dia ingin memakaikan cincin yang belum sempat dia berikan kepada istrinya.
Cincin itu selalu dia bawa dan di simpan di dompetnya. Cincin yang belum sempat dikenakan di jari Amora, karena gadis itu telah pergi lebih dulu sebelum Sagara memberikan cincin itu padanya. Munculnya Freya membuat Sagara merasa kalau kini cincin itu sudah menemukan tuannya kembali.
***
Sejak malam itu, Sagara yang sudah mendapatkan alamat Amora segera meluncurkan aksinya guna mendapatkan cinta Amora. Berbagai perhatian dia lakukan mulai dari mengirim buket bunga, coklat ataupun hadiah lainnya yang dia pikir bisa membuat Amora merasa tersentuh.
Amora sedikit risih, bahkan bisa dibilang agak mual melihat aksi Sagara yang memberikan perhatian bertubi-tubi kepadanya.
Malam ini, setelah memaksa beberapa kali akhirnya Amora mau menerima ajakan Sagara untuk makan malam di luar.
"Sagara sudah di bawah, dia menunggumu di ruang tamu."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1