
Mobil ambulans yang dikendarai oleh Dewa sampai di rumah sakit. Jika awalnya Dewa tidak membunyikan sirine ambulans saat meninggalkan rumah sakit, saat melihat Amora kembali terbangun, lelaki itu menyembunyikan sirine mobil agar cepat sampai di tujuan.
Beberapa perawat berlarian saat melihat Dewa sampai. Dewa turun dari mobil dengan cepat. Lelaki itu kemudian ikut membantu beberapa perawat yang terlebih dulu membuka pintu mobil. Mereka kemudian mengangkat tubuh Amora dan meletakkan tubuh perempuan itu ke atas brankar.
"Hati-hati, dia baru saja bangun dari koma," ucap Dewa.
Beberapa perawat dengan sigap mendorong brankar menuju ruang IGD. Dewa dan Ibu Mawar ikut berlari mengikuti para perawat itu.
Mereka berhenti di depan pintu ruangan karena tidak diizinkan masuk. Ibu Mawar mengikuti langkah Dewa yang menggandengnya menuju ruang tunggu.
Lelaki itu merangkul tubuh Ibu Mawar, menenangkan wanita baya itu.
"Tenanglah! Semoga putri ibu baik-baik saja. Ini adalah keajaiban dari Tuhan." Dewa menenangkan Ibu Mawar.
"Saya harus menelepon dan memberitahukan sua–"
"Jangan! Jangan memberitahu siapapun tentang ini."
"Tapi–" Suara dering ponsel milik pria itu menghentikan ucapan Ibu Mawar.
"Kalian sudah mendapatkan hasilnya?" Dewa berbicara dengan serius. Tangan kanannya masih merangkul bahu Ibu Mawar.
"Sudah, Pak. Pasien bernama Amora dinyatakan meninggal karena pendarahan pasca keguguran. Wanita itu kehilangan banyak darah karena itu nyawanya tidak tertolong lagi. Tapi–"
"Tapi apa?" tukas Dewa tidak sabar.
__ADS_1
"Kami menemukan hal lain yang diduga menjadi penyebab pasien mengalami gagal jantung."
"Apa itu? Cepat katakan!" Dewa sedikit membentak.
"Over dosis obat."
"Over dosis?" Kedua mata Dewa membola.
"Sepertinya ada yang sengaja meracuni pasien dengan menyuntikkan obat yang berlebihan sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit karena mengalami pendarahan. Saat ini kami sedang mencari informasi pada dokter pribadi keluarga pasien karena dialah yang merawat pasien bernama Amora itu sebelum dibawa ke rumah sakit," jelas seseorang di seberang sana.
"Cari tahu semuanya dan segera laporkan padaku hasilnya."
"Baik, Pak."
Dewa mematikan panggilan teleponnya secara sepihak. Lelaki itu meremas ponselnya sambil menahan geram.
"Ada yang sengaja ingin melenyapkan putri ibu."
"Apa?" Kedua mata Ibu Mawar membola mendengar penuturan lelaki muda yang baru dikenalnya itu.
"Kenalkan, nama saya Dewa. Saya adalah pemilik rumah sakit tempat Amora dirawat." Dewa mengulurkan tangannya pada Ibu Mawar.
Ibu Mawar sangat terkejut mendengar pengakuan pria muda itu.
"Saya meminta tim dokter kembali memeriksa penyebab kematian Amora karena saya mencurigai sesuatu." Dewa kemudian menceritakan semuanya pada Ibu Mawar.
__ADS_1
"Saat saya melewati ruangan Amora, saya mendengar pembicaraan dua orang wanita yang mengatakan kalau mereka sudah berhasil membuat putri ibu meninggal."
Ibu Mawar menutup mulutnya karena terkejut. Wanita itu menggeleng, merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Dewa.
Belum sempat Dewa melanjutkan ucapannya, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter diikuti perawat keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dokter?"
"Putri Ibu akan kami pindahkan di ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif."
"Lakukan apapun yang terbaik untuk putri saya, Dokter." Ibu Mawar menangkupkan kedua tangannya sambil meneteskan air mata.
"Tentu saja. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan putri ibu. Berdoalah! Semoga Tuhan memberikan keajaiban selanjutnya." Sang dokter tersenyum. Ia sudah tahu jika pasien yang ditanganinya kali ini adalah pasien yang baru saja mengalami kematian. Namun, karena keajaiban Tuhan, wanita itu itu tiba-tiba kembali bernapas.
"Terima kasih, Dokter."
Ibu Mawar dan Dewa mengikuti petunjuk dokter. Mereka melakukan administrasi untuk pemindahan Amora ke ruang ICU.
"Nak, Dewa, apa ini tidak terlalu berlebihan?"
"Ibu jangan khawatir. Anggap saja ini ganti rugi karena pihak rumah sakit salah mendiagnosa pasien."
"Tidak, Nak, pihak rumah sakit tidak salah mendiagnosa kematian Amora. Kita sama-sama tahu jika Amora benar-benar sudah kehilangan napas beberapa waktu lalu. Beruntung, dia hanya mati suri." Ibu Mawar menangis. Merasa beruntung karena Tuhan menghidupkan Amora kembali.
"Mungkin Tuhan ingin memberikan Amora kesempatan untuk membalas ketidak adilan yang selama ini dia terima."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....