DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
DIA SUDAH MENINGGAL


__ADS_3

"Ini ...." Tenggorokan Ibu Mawar tercekat.


Ditatapnya kedua pasangan suami istri itu, lalu kembali ke foto yang diberikan oleh tamunya. Jelas dia


tahu anak kecil bergaun merah itu siapa.


"Kalian siapa?" tanya Ibu Mawar penuh selidik.


Dia tidak bisa memberitahu mengenai keberadaan anak yang mereka cari tanpa mengetahui terlebih dulu identitas kedua orang yang ada di hadapannya itu.


"Kami orang tua dari anak ini. Saya mohon, Bu, bantu kami. Bertahun-tahun lamanya kami mencari anak kami. Kami sudah melaporkan ke polisi kala anak ini hilang." Perempuan yang memberikan foto tadi terlihat menitikkan air mata.


"Kami juga sudah mencari ke beberapa panti asuhan di daerah kami karena mengikuti saran dan pendapat para sahabat dan keluarga. Tetapi, kami tetap tidak menemukan anak kami di manapun. Hingga kami menugaskan seorang detektif untuk menyelidiki keberadaan putri kami, Freya," lanjut Rania dengan terisak.

__ADS_1


Dia berharap kali ini usaha mereka membuahkan hasil. Kerinduan untuk bertemu dengan putrinya sangat besar. Tidak sedetikpun dalam hidupnya dia melupakan Freya.


Setiap hembusan napasnya ada Freya, dalam setiap lantunan doanya dia menyebut nama anak itu. Memohon, agar bisa bertemu kembali dan senantiasa memohon agar anaknya masih hidup.


Begitu mendapat kabar dari detektif tentang keberadaan Freya, Rania dan Dirga segera terbang ke daerah ini. Tidak menyangka kalau kabar keberadaan putri mereka bisa terdampar sejauh ini.


Mendengar cerita Rania, tentu saja tidak serta merta membuat Ibu Mawar percaya kepada penuturan pasangan suami istri itu. Walaupun keduanya sudah menunjukkan beberapa surat akta lahir serta kedua KTP, kartu keluarga, dan banyak surat lainnya yang menyatakan pasangan suami istri itu adalah orang tua dari anak yang mereka cari.


"Bagaimana Freya bisa sampai hilang? Anda mengatakan kalau kalian berdua dari Surabaya, sangat jauh bukan, untuk bisa sampai ke sini? Tidak mungkin anak sekecil itu bisa menyebrangi provinsi." Selidik Ibu Mawar menyampaikan keganjilan yang ada di hatinya.


"Kami sudah mencari wanita itu, menyebar sketsa wajah yang dituturkan oleh para guru dan satpam sekolah, tapi tidak berhasil, penculik itu hilang tanpa jejak," terang Rania membuka kembar memorinya, mengingat kembali kejadian pahit itu.


Ibu Mawar tampak masih mengunci mulutnya. Masalah ini tidak gampang. Dia harus berhati-hati. Dia tidak menyangka, anak yang mereka cari adalah Amora. Sudah banyak penderitaan yang dialami gadis itu, Ibu Mawar tidak mau kalau Amora kembali terluka nantinya.

__ADS_1


"Kalau ibu masih ragu, kami bersedia tes DNA dengan putri kami itu. Kami benar-benar orang tua Freya," ujar Dirga memotong lamunan Ibu Mawar. Wanita baya itu merasa bingung kini.


Ibu Mawar bukan tidak percaya, kini bahkan dia yakin kalau kedua orang ini orang tua Amora, hanya saja ... bagaimana menyampaikan pada kedua orang tua Amora mengenai masalah yang menimpa putri mereka?


"Bu, aku mohon pertemukan kami dengan Freya. Ibu juga seorang Ibu 'kan, Ibu pasti bisa merasakan penderitaan saya yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan putri kandung saya," ucap Rania menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ibu Mawar tentu bisa merasakan kesedihan wanita itu, tetapi bagaimana caranya menjelaskan pada mereka berdua apa yang sudah terjadi pada putri mereka?


"Maaf, saya bukan tidak ingin mempertemukan, tapi anak yang kalian cari–"


"Di mana putri saya, Bu?


Saya mohon pertemukan saya dengan Freya. Jangan rampas harapan saya lagi untuk bertemu putri saya," tukas Rania putus asa, air matanya terus saja mengalir menganak sungai di pipinya.


"Dia ... Dia sudah meninggal."

__ADS_1


"Apa?"


BERSAMBUNG ....


__ADS_2