DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
LEBIH BAIK, KAU BUNUH SAJA AKU!


__ADS_3

Seperti perkataan Rima kemarin, bahwa perubahan Sagara yang bersikap baik padanya semua itu bukan karena peduli pada Amora, tapi demi anaknya yang saat ini dikandung gadis itu.


"Ibu senang akan perubahan positif pada diri Sagara, dan Ibu yakin sedikit banyak karena kamu," ucap Rima ketika ikut melihat Amora memasak untuk makan malam kemarin. Sebelum kejadian Laura terjatuh di tangga.


"Karena aku, Bu?" tanya Amora sedikit berbangga.


"Iya, karena bayi yang ada dalam kandunganmu itu," jawab Rima tersenyum.


Wanita itu sengaja, menyamarkan sikapnya. Kadang kala dia akan bersikap sangat baik, lalu saat punya kesempatan dia akan menghujamnya dengan sangat sadis.


"Sikap Sagara memang begitu baik padamu, tapi kalau masalah hati, kita semua tahu, dan Ibu yakin kau pun sangat tahu bukan, kalau Sagara itu hanya mencintai Laura seorang," lanjut Rima dengan santai. Wanita paruh baya itu tersenyum puas saat melihat senyum Amora memudar saat mendengar ucapannya.


Rima berhasil menyiksa batin Amora. Memang benar apa yang dikatakan oleh Laura. Tidak perlu menggunakan kekerasan saat menghadapi Amora.


Hembusan napas berat terdengar. Amora kini duduk di sebuah taman yang masih terletak di area rumah sakit.


"Bodohnya aku, mengkhawatirkan perempuan yang ternyata sedang asyik bercumbu dengan suamiku," batin Amora menertawakan diri sendiri.


Amora mengusap perutnya yang mulai terlihat buncit. Wanita itu memandang ke sekelilingnya. Sepi. Taman itu terlihat sepi, mungkin karena hari masih pagi.

__ADS_1


Amora kembali mengusap perutnya yang terasa lapar karena dia belum sarapan. Kedua pipinya yang membengkak terasa sakit akibat tamparan Sagara. Belum lagi di bagian inti tubuhnya.


Semalam, setelah puas menampar dan menjambak rambut Amora, lelaki itu kemudian dengan membabi buta menggauli Amora hingga pingsan. Setelahnya, lelaki itu meninggalkan Amora begitu saja.


Jika bisa disebut binatang, Amora akan menyebut lelaki itu sebagai binatang karena kelakuannya yang sungguh keterlaluan.


Amora memutuskan untuk mencari sarapan di sekitar area rumah sakit saat dirinya sudah tidak tahan merasakan lapar. Setelah sarapan, Amora memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


Rencananya untuk melihat keadaan Laura dia urungkan karena sudah ada Sagara yang menunggui perempuan itu.


***


Amora baru saja sampai di rumahnya. Wanita itu pikir, Sagara tidak pulang karena harus menunggui Laura di rumah sakit, tetapi, dugaannya ternyata salah. Lelaki itu bahkan terlebih dahulu sampai di rumah.


Amora tidak sudi menjawab pertanyaan pria itu, bahkan dia ingin sekali meludah. Apa katanya? Mencarinya? Amora mencibir dengan wajah sinis.


"Dasar brengsek! Apa dia pikir aku bodoh?" Amora memaki Sagara dalam hati. Dia malas berdebat dengan Sagara. Dirinya lelah untuk bertengkar dengan pria itu. Akibat pertengkaran semalam saja, tubuhnya remuk redam.


Amora melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Kala tiba tepat pada anak tangga yang sama dengan Sagara, pria yang sudah marah mengingat perbuatan Amora kepada Laura ditambah lagi karena ucapannya tidak diindahkan oleh gadis itu membuat Sagara semakin berang, menarik paksa tangan gadis itu dengan kasar hingga sampai ke kamar, menghempaskan tubuh Amora ke atas ranjang.

__ADS_1


"Apa? Kau ingin memperkosa aku lagi? Menghukumku dengan cara itu? Cih, Kau memang baji*ngan! Hanya itu yang kau bisa lakukan, memperlakukanku seperti binatang, karena kau memang binatang!" ucap Amora dengan lantang.


Hormon ibu hamil memang selalu meledak-ledak dan kali ini dipicu dengan apa yang baru saja dia lihat tentang perbuatan mesum suaminya dan juga selingkuhannya, membuat Amora tidak bisa mengontrol emosinya.


"Jaga mulutmu!" bentak Sagara dengan bola mata memerah penuh kobar api amarah.


"Apa kau tidak terima? Kau ingin menghukum ku dengan memperkosaku lagi? Sebaiknya kau lupakan pikiran kotormu itu! Pergi! lakukan saja dengan kekasihmu yang tidak tahu malu itu. Kau sama saja brengseknya dengan dirinya. Memelihara gadis itu di rumah yang sama dengan yang ditinggali oleh istrimu dan juga orang tuamu, kalian biadab tidak punya hati!" Amora meluapkan semua amarahnya.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Amora, tidak hanya itu, dia juga menjambak rambut gadis itu dengan kuat, seolah semua helai rambut Amora akan lepas dari kulitnya.


Sagara begitu marah pada Amora. Kalimat yang diucapkan oleh Amora melukai perasaannya. Tetapi, yang paling membuatnya marah karena sikap tidak tahu terima kasihnya pada Laura yang sudah menolongnya.


Amora mengusap pipi yang terasa perih. Belum hilang rasa sakit kemarin, kini ditambah lagi satu tamparan yang membuat lukanya semakin sakit. Namun, rasa sakit akibat tamparan itu tidak lebih sakit dari sakit hatinya.


Saat keadaan dirinya yang tengah hamil, pria itu main tangan padanya, dan terburuk, Amora tidak dapat berbuat apapun untuk melawan pria yang sialnya masih berstatus suaminya.


"Kau harus minta maaf pada Laura atas apa yang sudah kau tuduhkan padanya dan atas perbuatanmu yang mendorongnya hingga jatuh!" hardik Sagara tegas.

__ADS_1


"Lebih baik, kau bunuh saja aku!"


__ADS_2