
"Amora!" Sagara berteriak panik. Lelaki itu melompat ke dalam kolam kemudian meraih tubuh Amora yang hampir saja tenggelam ke dasar kolam.
Saat Sagara datang, ia hanya melihat telapak tangan Amora saja, sementara tubuh wanita itu sudah tenggelam.
Sagara menarik tubuh Amora dari dalam kolam dengan hati-hati. Untung saja lelaki itu pernah belajar bagaimana cara menolong korban tenggelam, hingga membuat lelaki itu dengan mudah membawa tubuh Amora ke tepi kolam.
Sagara berteriak panik memanggil nama Amora.
"Amora!"
"Amora!"
Sagara melepas baju basah Amora kemudian memberikan pertolongan pertama pada wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
"Cepat panggil dokter!" teriak Sagara saat melihat beberapa asisten rumah tangganya terlihat begitupun Rima. Wanita itu berdiri terpaku dengan tubuh gemetar melihat tubuh Amora yang terbujur kaku di pinggir kolam.
Sagara menghela napas panjang untuk sedikit menghilangkan rasa paniknya. Setelah itu ia melakukan CPR sebagai pertolongan pertama sebelum dokter datang. Sagara menekan-nekan dada Amora kemudian memberikan napas bantuan.
Rasa panik kembali menyerangnya saat Sagara menyadari jika wanita itu belum juga bergerak. Sagara kembali mengulang menekan dada Amora dengan kedua tangan dan kembali memberi napas buatan pada Amora.
Amora terbatuk dengan air yang keluar dari mulutnya. Wanita itu meraup udara sebanyak-banyaknya. Sagara menundukkan kepala mencium kening wanita itu.
__ADS_1
Sagara hampir saja berhenti bernapas melihat wanita itu tidak bergerak beberapa menit yang lalu.
"Dasar bodoh! Kau tidak bisa berenang tetapi bermain dalam kolam."
Amora tidak menanggapi ucapan Sagara. Wanita itu menatap Sagara dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Amora masih syok karena baru saja mengalami kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya.
"Terima kasih, Saga," ucap Amora pelan.
Seorang dokter datang. Dokter laki-laki itu dengan tergesa mendekati Sagara dan Amora.
"Angkat dia dan keringkan tubuhnya," perintah sang dokter.
"Hati-hati," peringat dokter saat melihat Sagara dengan tergesa akan menggendong tubuh Amora.
Sagara dengan pelan membuka seluruh pakaian yang melekat pada tubuh Amora. Wanita itu menurut saat Sagara membuka satu persatu pakaiannya.
Amora juga terdiam saat Sagara mengeringkan badan dan juga rambutnya menggunakan handuk kering. Setelahnya, lelaki itu memakaikan baju pada tubuh polos Amora.
Sagara menelan saliva berkali-kali. Pria itu mengutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya langsung bergairah melihat tubuh polos Amora yang begitu menggoda.
Selesai mengurus Amora, Sagara memerintahkan dokter masuk ke dalam kamar untuk memeriksa kondisi istrinya.
__ADS_1
Dokter pribadi bernama Rama itu kemudian memeriksa Amora dengan teliti.
"Bagaimana, Dok? Istri saya tidak apa-apa 'kan?" Sagara tampak tidak sabar.
Dokter Rama tersenyum. "Nona Amora baik-baik saja. Beruntung Anda menolongnya tepat waktu. Kalau tidak, mungkin istri Anda tidak bisa diselamatkan." Dokter Rama menepuk bahu Sagara.
"Sebaiknya bawa Nona Amora ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya."
"Hanya untuk berjaga-jaga saja. Usia kehamilannya masih muda, masih rentan mengalami keguguran," lanjut dokter membuat Sagara mengangguk mengerti.
"Terima kasih, Dokter. Saya akan membawa Amora ke rumah sakit sekarang juga."
Dokter Rama mengangguk, kemudian berpamitan pulang pada Sagara.
Sagara mendekati Amora. Menatap wanita yang masih terlihat pucat itu dengan seksama.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Kau pasti tidak mau terjadi apa-apa pada bayimu bukan?"
"Kalau sampai terjadi apa-apa pada bayiku, aku akan membuat perhitungan dengan Laura." Amora mengepalkan tangannya.
"Kenapa membuat perhitungan dengan Laura?" Sagara mengerutkan kening.
__ADS_1
"Dia yang sengaja mendorongku ke kolam. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan tenggelam."
BERSAMBUNG ....