
Seorang laki-laki dengan sigap membawa tubuh Amora ke dalam mobil pengantar jenazah. Pria itu membaringkan tubuh Amora di atas brankar yang berada dalam mobil.
Mama Reni menangis memeluk Ibu Mawar.
"Saya minta maaf karena saya tidak bisa ikut mengantar Amora sampai peristirahatan yang terakhirnya."
"Tidak apa-apa. Terima kasih atas semua kasih sayang Ibu karena sudah menjaga Amora dengan baik. Terima kasih banyak." Ibu Mawar pun ikut menangis.
Ibu Mawar melepaskan pelukannya kemudian pandangannya beralih pada papanya Gerald.
"Saya berterima kasih atas kebaikan kalian berdua pada Amora."
"Amora sudah saya anggap sebagai putri saya. Apa yang saya berikan padanya adalah bentuk kasih sayang dari saya begitupun istri saya," jawab papanya Gerald sambil menitikkan air mata. Tidak menyangka jika perempuan yang gagal menjadi menantunya itu sudah meninggal dunia.
Ibu Mawar juga berpamitan pada Rima dan Sagara yang sedari tadi memandangi tubuh Amora yang sudah tertutup kain putih di dalam mobil. Rasanya Sagara ingin ikut mengantarkan istrinya sampai ke panti asuhan. Tetapi, tubuh laki-laki itu limbung.
Kenyataan jika Amora sudah tidak ada membuat tubuh Sagara lemas tak bertenaga. Bayangan Amora semasa hidupnya yang terus saja berputar di kepalanya membuat kepala Sagara berdenyut sakit.
Lelaki itu tak berkata apapun saat Ibu Mawar berpamitan padanya. Pandangan matanya hanya tertuju pada jenazah istrinya yang masih bisa dia lihat. Ibu Mawar masuk ke dalam mobil. Pria yang menawarkan diri membawa mobil itu kemudian menutup pintu mobil setelah Ibu mawar duduk di sebelah Amora.
__ADS_1
Mobil bergerak menjauh dari rumah sakit meninggalkan orang-orang yang bersedih karena meninggalnya Amora, kecuali Laura. Gadis itu menunduk sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sementara itu, Sagara kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung saat merasakan sakit yang mendera hatinya.
"Amora ...."
Sagara menitikkan air mata.
"Jika aku tahu rasanya sesakit ini saat kehilangan kamu, aku pasti tidak akan memperlakukanmu dengan baik ketika berada di sisiku."
***
Saat itu, Amora terlihat sangat bahagia. Wajah cantiknya berbinar karena impiannya untuk kuliah di kota terwujud.
"Sayang, kenapa kamu pergi begitu cepat, Nak?" Ibu Mawar menangis sambil memeluk tubuh Amora yang terbujur kaku. Air mata Ibu Mawar menetes membasahi wajah pucat Amora.
Ibu Mawar melepaskan pelukannya kemudian mengusap air matanya yang jatuh pada wajah Amora. Saat tangan Ibu Mawar membelai wajah Amora, wanita itu tersentak saat merasakan embusan napas Amora pada hidungnya.
Kedua mata Ibu Mawar membola saat melihat kedua mata Amora yang perlahan terbuka.
__ADS_1
"Amora! Amora!" Ibu Mawar berteriak membuat laki-laki yang mengemudikan mobil itu menghentikan mobilnya karena terkejut.
Lelaki itu segera turun dari mobil karena Ibu Mawar terus berteriak memanggil Amora.
"Ada apa Bu? Apa yang terjadi?"
"Amora bangun, Mas. Anak saya hidup lagi."
"Apa?" Dewa merasa terkejut mendengar ucapan Ibu Mawar. Lelaki itu pikir, Ibu Mawar hanya berhalusinasi karena tidak terima putrinya meninggal dunia. Namun, saat Dewa menatap ke arah Amora, ia melihat wanita itu sudah membuka matanya.
Dewa sangat terkejut melihatnya. Jelas-jelas saat di rumah sakit wanita sudah dinyatakan meninggal. Tetapi, kenapa wanita itu sekarang membuka matanya?
Dewa memeriksa denyut jantung juga pernafasan Amora.
"Ibu benar. Dia masih hidup. Kita harus membawanya ke rumah sakit terdekat!" Dewa bergegas turun kemudian menutup pintu mobil setelahnya dia kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.
Lelaki itu dengan cepat mengemudikan mobilnya mencari rumah sakit terdekat.
"Gila! Bagaimana mungkin orang yang sudah mati tiba-tiba hidup lagi?"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....