
"Freya, buka pintunya, aku bilang buka pintunya, Freya! Buka!"
Setiap kalimat Sagara ucapkan dengan tangan yang terus menggedor pintu. Lelaki itu mencoba membuka pintu dengan menarik paksa engsel pintu.
Namun, orang yang dipanggil tidak kunjung keluar. Sagara bahkan tidak peduli dengan jarinya yang sakit karena terus mengetuk pintu dengan keras.
Mendengar keributan dan melihat bahwa Sagara lah orang yang telah membuat kegaduhan itu, Mukhlis dan Dodit bergegas menghampirinya dan mencoba menarik Sagara untuk pergi dari sana.
"Ayo, keluar dari sini! Kenapa kamu bisa masuk?Apa kau sengaja menyusup ke rumah ini ?" ucap Dodit menarik paksa Sagara.
Namun, pria itu seolah mendapatkan kekuatan dari para iblis yang mencoba membantunya, mendorong Dodit begitupun dengan Mukhlis. Kedua satpam itu terpental dengan dorongan Sagara.
Satpam itu kembali bangkit lalu berdua mengeroyok Sagara di tengah rintik hujan yang kini bahkan semakin deras akhirnya ketiganya terlibat duel.
Dodi tidak peduli lagi, dia hanya menjalankan perintah Dirga untuk menghalangi Sagara masuk rumah itu dan keberadaan Sagara di depan pintu sudah membuatnya pucat, yang berarti dia lalai dalam pekerjaannya.
Mukhlis mengeluarkan pentungannya ingin memukul Sagara dengan tongkat itu, tetapi, kenyataannya Sagara memiliki kemampuan bela diri hingga bisa merobohkan kedua satpam itu. Kembali, Sagara menggedor pintu sekuat tenaga membuat keributan hingga bisa mengalahkan suara hujan yang turun.
Dodit segera memukul Sagara dari arah belakang tepat di pundaknya, membuat pria itu menghentikan ketukan pintu dan kegaduhan yang dia buat. Sagara yang sudah penuh dengan amarah berbalik lalu menghajar kedua satpam itu hingga babak belur di lantai.
"Freya, kalau kau tidak membuka pintu ini, aku bersumpah akan terus membuat keributan, bahkan bila perlu akan membakar rumah ini!" ancam Saga yang sudah kesetanan.
Ancaman itu nyatanya berhasil. Terdengar kunci pintu diputar dan daun pintu itu tidak lama terbuka. Bukan sosok Freya yang muncul tetapi, Dirga. Pria tinggi besar itu menghadang Sagara, kini keduanya berhadapan.
"Pergi kau dari rumahku! Jangan sampai menguji habis kesabaranku! Harusnya kau sadar apa yang sudah kau perbuat. Seharusnya kau tidak punya muka untuk bertemu dengan putriku lagi!" ancam Dirga menghadang Sagara agar tidak bisa masuk ke rumah itu.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Freya, Om. Aku bisa jelaskan. Aku tahu aku salah tapi Om, beri aku satu kesempatan. Aku sangat mencintai Amora ataupun Freya atau siapapun namanya, aku bersungguh-sungguh, Om. Izinkan aku menebus kesalahanku," ucap Saga memelas.
"Kau sudah tidak punya kesempatan untuk itu! Pintu hati Freya ataupun kami sebagai orang tuanya sudah tertutup! Bisa-bisanya kau berpikiran bahwa aku akan memberikan izin untuk mendekati putriku kembali.
Seharusnya aku melaporkanmu ke polisi atas semua perbuatan yang sudah kau lakukan kepadanya! Kau b*ajingan! Pria brengsek yang tidak bisa menghargai perempuan!" teriak Dirga penuh emosi. Tangannya terkepal siap menghantam rahang Sagara saat itu juga.
"Tapi Amora masih menjadi istriku yang sah, Om tidak bisa menghalangiku bertemu dengan istriku. Aku bisa melaporkan Om ke polisi!" ancam Saga dengan penuh percaya diri.
Ikatan itu memberikannya kekuatan hukum untuk bisa bertemu dengan Amora, bahkan hukum juga akan mendukungnya untuk membawa Amora pergi dari rumah itu.
Namun, kalau untuk menuntut keluarga Dirga mungkin Sagara belum kepikiran saat ini. Dia harus mempertimbangkan langkahnya dengan baik.
Pasalnya jika dia melakukan hal itu, keluarga Dirga bisa menuntut balik dan kenyataan bahwa dia menyia-nyiakan bahkan memperlakukan Amora dengan kasar selama pernikahan mereka bisa menjadi bumerang baginya, bisa-bisa dia yang dipenjara.
"Istri katamu? Kau masih berani menyebutnya sebagai istrimu? Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan padanya? Kau mencelakainya, kau menyiksanya hingga mati!
__ADS_1
Jangan pikir aku tidak punya bukti atas semua kejahatan kalian sekeluarga! Aku memiliki bukti rekam medis mengenai riwayat Amora hingga sampai dia menghembuskan napas terakhir.
Beruntunglah karena Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup sekali lagi, kalau tidak, aku bersumpah akan membuatmu menyesal sudah pernah dilahirkan ke dunia ini!" teriak Dirga dengan sorot mata penuh dengan api amarah.
Pernyataan Dirga membuat Sagara sedikit gentar, tetapi, mengingat kembali niatnya yang ingin bertemu dengan Freya, dia mencoba menepis rasa takutnya atas ancaman pria itu. Jangankan di penjara, mati pun dia siap asal bisa bertemu dengan Freya.
Dia mencoba menerobos masuk ke dalam rumah itu, tidak peduli begitu kuat tenaga Dirga yang mendorongnya tetap agar berada di luar rumah.
"Freya, keluar kau, Freya! Kita bicara, jangan jadi pengecut! Ayo, kita bicara, Freya!" umpat Sagara yang sudah memulai kehilangan akal sehatnya.
Beberapa lama Sagara dan Dirga adu mulut, pria itu terus berjuang untuk menghentikan langkah Sagara yang memaksa masuk ke dalam rumah.
Bahkan, Dirga beberapa kali harus memukul rahang dan juga perut Sagara karena sudah mencoba menerobos masuk.
Rania yang juga sudah keluar dan berdiri di belakang suaminya berteriak kaget melihat perkelahian antara Dirga dan Sagara.
Kedua satpam itu pun ikut bangkit dan melerai pertengkaran itu, mencoba menahan dan memegangi tangan Sagara.
"Lepaskan aku! Freya! Keluarlah! Amora, aku mohon bicaralah padaku!" teriak Sagara menangis. Dia tidak memedulikan rasa sakit di wajahnya lagi. Terus berteriak memanggil Amora.
Satpam terus berusaha menyeret, tapi Sagara kembali menggila. Memukul Dodit dan Muklis, seolah membuat keduanya menjadi bahan pelampiasan amarahnya.
Freya tahu akan kedatangan Sagara dan membuat keributan di pos satpam. Saat pria itu tiba, Freya sedang duduk di balkon kamarnya, melamun memikirkan semua yang terjadi dalam hidupnya bersama dawai hujan.
"Mama, biarkan aku bicara dengannya. Aku mohon," ucap Amora. Dia tahu bahwa Sagara tidak akan pergi sebelum bisa bicara dengannya.
Mereka tidak mungkin terus sepanjang malam ribut di teras rumah itu yang menjadi bahan tontonan dan juga mengganggu tetangga lainnya.
Tatapan memelas Amora membuat Rania dan juga Dirga akhirnya mengangguk lemah. Namun, hal itu tidak serta merta membuat mudah bagi Sagara.
Baik kedua satpam dan juga kedua orang tua Amora berdiri berjaga-jaga di depan pintu. Mereka hanya mengizinkan Sagara dan Amora bicara di teras rumah, tidak jauh dari pengamatan mereka.
Kalau sampai Sagara akan melakukan tindakan yang dapat mengancam dan melukai Amora, maka mereka bisa dengan sigap melindungi gadis itu.
"Pulanglah Saga. Kau tidak perlu melakukan hal ini lagi karena semua akan sia-sia. Tidak ada gunanya lagi. Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Apapun yang ingin kau utarakan, tidak akan bisa mengubah kenyataan yang ada," ucap Amora sendu. Dia kasihan melihat Sagara, pria yang dulu begitu sombong, kini memohon padanya.
"Amora, aku tahu, aku salah di masa lalu dan aku menyesal atas perbuatanku itu. Bukankah manusia tempatnya khilaf? Aku tahu akan sulit memaafkan semua perbuatanku di masa lalu tapi aku janji akan berubah dan aku ingin membuktikannya padamu.
Amora, kau masih menjadi istriku, aku mohon kembalilah padaku. Kita mulai kehidupan kita yang baru, jauh dari orang-orang yang dulu pernah mencelakaimu," ucap Sagara memberanikan diri menggenggam tangan Amora.
Amora berusaha untuk menarik tangannya. Namun, Sagara lebih kuat. Tatapan memelas bahkan air mata yang jatuh yang tersamarkan oleh air hujan yang kini sudah membasahi tubuh Sagara membuat Amora tersentuh, tetapi, sama saja, tidak ada gunanya. Dia tidak ingin kembali lagi dengan Saga.
__ADS_1
Masa lalunya sudah sangat pahit, sangat menyedihkan. Rasa cintanya dulu yang begitu besar kepada Sagara yang membuatnya bodoh mau berulang kali memaafkan Sagara setelah apa yang pria itu lakukan pada dirinya.
Kini, sudah hilang terkubur oleh semua perbuatan Sagara dan orang tuanya yang begitu jahat.
"Aku nggak bisa Saga, aku minta maaf tapi aku tidak bisa memenuhi keinginanmu. Aku tahu penyesalan selalu datang terlambat tapi di hatiku sudah ada orang lain. Lagipula, bukankah kamu bilang kamu belum pernah menikah sebelumnya? Lalu, kenapa sekarang kamu justru keberatan aku menggugat cerai dirimu?"
"Amora aku–"
"Lupakanlah aku! Aku tidak bisa bersamamu lagi," jawab Amora dengan suara bergetar, dia juga larut dalam kesedihan Sagara, tetapi, ini yang terbaik bagi mereka berdua.
"Aku tidak mau bercerai denganmu. Aku tahu aku salah, Amora. Tapi aku benar-benar tidak ingin bercerai denganmu. Aku mohon Amora, aku mohon," ucap Sagara yang kini sudah berlutut di depan Amora.
Rania, Dirga dan kedua satpam itu melihat adegan itu. Kalau saja kesalahan Sagara tidak sebesar itu, mungkin hati Rania ataupun Dirga akan tersentuh. Namun, mengingat perbuatan Sagara dan juga ibunya dan tentu saja rasa simpati itu tidak pernah ada untuk Sagara lagi.
"Pulanglah, Saga! Aku sudah bilang, apapun yang kau lakukan tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi, semuanya sia-sia. Jangan menyusahkan hidupmu, lebih baik kembali pulang, dan lupakanlah aku!" Amora menatap Sagara yang masih berlutut di hadapannya sambil menangis.
Semua sumpahnya dulu, ternyata terjadi hari ini.
"Meskipun suatu saat kau berlutut padaku, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Saat itu, Amora dalam kesakitan menunggu kematian.
"Pergilah! ucap Amora menarik tangannya. Keduanya kini saling bertatapan. Amora bisa melihat air mata Sagara terus mengalir. Itu bukan derai hujan, itu air mata yang menganak sungai di pipi Sagara.
Pria yang paling kuat yang paling sombong yang pernah dia kenal yang tidak mungkin meneteskan air mata untuk seorang wanita, tetapi, kini pria itu melakukannya untuk dirinya.
Ini adalah bukti ketulusan Sagara atas penyesalan yang dia rasakan, tetapi, apa gunanya? Semua sudah terlambat. Amora sudah menutup pintu hatinya untuk Sagara.
Perlahan kehadiran Dewa sudah bisa membuatnya melupakan rasa cinta yang dulu ada untuk pria itu.
Dewa lah yang menjadi penyembuh lukanya, Dewa yang berada di sisinya dan menghargainya yang tidak pernah menyia-nyiakan keberadaannya, yang memperlakukannya seperti seorang putri tidak memandangnya sebelah mata.
Dewa yang bahkan tidak mengenal asal-usulnya dulu sudah mau membantunya bahkan mengobati luka dan berusaha membuatnya tetap memiliki semangat untuk hidup. Pantaskah dia membuang Dewa hanya demi Sagara yang meminta maaf padanya? Tidak!
Amora tidak akan melakukan kebodohan itu. Cukuplah sekali dia melakukan kesalahan dalam hidupnya dengan membiarkan hatinya mencintai Sagara.
"Pulanglah Saga, aku mohon jangan buat keributan di sini," ucap Amora yang sudah berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Sagara yang terpaku hanya bisa mengamati punggung Amora yang menjauh. Penyesalan itu semakin membesar dalam hidupnya. Namun, perkataan Amora benar, dia tidak bisa memaksa gadis itu lagi seperti dulu.
Semua kekuasaan yang dia punya tidak akan bisa membuat gadis itu kembali. Rania dan Dirga juga masuk ke dalam rumah mengunci rumah itu, kedua satpam itu menunggu Sagara untuk pulang.
Pria itu bangkit dan dengan kekalahan di bawah rintik hujan yang kini sudah mengguyur deras tubuhnya, Sagara pulang meninggalkan rumah Amora, membawa kekalahan dan juga penyesalan di dalam hatinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....