
Amora tidak bisa membuka matanya. Cahaya yang masuk menerobos ke dalam kamar juga tidak mampu membuatnya membuka mata, seolah kulitnya sudah menyatu.
Syukurlah telinganya masih berfungsi, masih bisa menangkap suara yang terdengar berbicara di sekitarnya. Tidak satupun dari suara itu yang coba dia pahami. Dia juga tidak jelas mendengar siapa yang berbicara. Harapan Amora cuma satu, bahwa dia tidak akan pernah kembali lagi dalam keluarga itu.
"Apa yang terjadi? Mengapa keadaan Amora sampai begini?" tanya Rima, ketika diberitahu Sagara mengenai keadaan Amora yang tiba-tiba mengalami pendarahan.
Darah membasahi sprei ranjang tempat dia berbaring. Darah itu masih segar, masih basah dan terus mengalir dari bagian intim tubuhnya.
"Aku nggak tahu, Ma. Kami hanya tidur dan ketika aku bangun, aku melihat di ranjang sudah banyak darah. Aku mencoba membangunkannya tapi dia tidak bangun juga, mungkin dia pingsan," ucap Sagara panik.
Ketakutan melanda hatinya. Apa mungkin pendarahan yang dialami Amora karena perbuatannya semalam?
Jelas-jelas Sagara mengingat apa yang sudah diperbuatnya terhadap gadis itu tadi malam. Bagi Sagara, semalam adalah malam yang sangat luar biasa. Dia begitu puas menikmati tubuh Amora, tanpa menyadari bahwa dia sudah menyakiti Amora dengan sangat parah.
__ADS_1
Sagara akan menemui Dean dan memberikan satu pukulan pada sahabatnya itu karena sudah memberikan obat yang membuatnya berubah sikap seperti binatang!
"Apa yang harus kita lakukan, Ma? Kita harus membawanya ke rumah sakit, kalau tidak, Amora bisa mati kehilangan banyak darah," ucap Sagara yang masih merangkul pundak Amora, mencoba mendudukkan gadis itu, tapi tubuh Amora yang seperti mayat sama sekali tidak merespon sentuhan ataupun panggilan dari Sagara.
"Jangan bodoh! Kalau kamu membawanya ke rumah sakit kamu pasti akan berurusan dengan polisi. Bersyukurlah karena ayahmu pagi tadi sudah berangkat ke Singapura. Dia tidak perlu tahu mengenai keadaan gadis ini. Sekarang segera hubungi dokter keluarga, suruh datang kemari. Kita tidak perlu membawanya ke rumah sakit, kita akan urus dia di rumah saja!" hardik Rima mencoba bersikap tenang.
"Bagaimana kalau ternyata Amora memang perlu bantuan dokter dan harus dirawat di rumah sakit?" tanya Sagara bersikeras. Semarah dan sebenci apapun Sagara pada Amora, dia tidak ingin kehilangan gadis itu.
Dia tahu, dia begitu naif. Dia menyatakan cinta dan sayangnya kepada Laura, tapi anehnya hatinya tidak bisa melepaskan Amora. Sampai kapanpun Sagara ingin memiliki Amora untuknya sendiri.
"Kamu tenang saja. Segera hubungi Dokter Rama dan suruh kemari. Ini hanya pendarahan biasa," ucap Rima yang tetap menolak permintaan Sagara untuk membawa Amora ke rumah sakit.
Sembari menunggu dokter datang, Rima menugaskan dua pelayannya untuk membantu membersihkan tubuh Amora sekaligus mengganti pakaian wanita itu.
__ADS_1
"Bagaimana ini, Bu, Non Amora terus mengeluarkan darah, saya takut kalau terus begini dia bisa meninggal," ucap Inem salah satu pelayannya.
"Tutup mulutmu! Kau tidak tahu apa-apa. Cepat pakaikan dia baju hangat dan baringkan kembali di atas ranjang!" perintah Rima dan kedua pelayan itu pun segera melakukannya. Tidak lama dokter yang dinanti tiba.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Sagara dengan ketakutan dan penuh khawatir.
"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Pasien terus mengalami pendarahan. Kita harus menanganinya dengan serius," ucap sang dokter kepada Rima yang berdiri di tengah ruangan, mengamati dokter memeriksa Amora.
"Pasti ada obat yang bisa menghentikan pendarahannya. Segera berikan padanya!" perintah Rima yang mencoba mendekat untuk melihat keadaan Amora saat itu.
Dokter pun mengangguk, memberikan obat untuk menghentikan pendarahan. Obat yang sangat ampuh yang memang mampu menghentikan pendarahan itu. Namun, tetap saja kondisi Amora sangat lemah. Dia membutuhkan cairan untuk mengganti nutrisi yang tidak didapatkan dari makanan.
"Pasang infus di sini biar kita merawatnya di rumah saja dan Anda dokter, Anda harus segera datang, setiap kami menghubungimu," ucap Rima yang diangguki oleh dokter itu dengan penuh rasa khawatir.
__ADS_1
"Dia bisa mengalami keguguran jika tidak segera ditangani dengan cepat, Nyonya."
BERSAMBUNG ....