
Sagara sangat terkejut mendengar ucapan Amora.
"Tidak mungkin Laura mencelakaimu. Lagipula, aku tidak melihat siapapun di area kolam saat aku datang," ucap Sagara pelan. Dia memang tidak melihat siapapun ada di lokasi kejadian kecuali Amora yang sudah dalam keadaan tenggelam.
Amora menghela napas panjang. "Aku lupa kalau aku mengadu pada orang yang salah. Kau adalah kekasihnya, tentu saja kau membelanya." Amora menatap Sagara dengan kesal.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit." Sagara tidak memedulikan ucapan Amora.
Lelaki itu mengambil baju hangat milik Amora kemudian memakaikannya pada tubuh Amora. Setelah merapikan rambut Amora, Sagara kemudian menggendong wanita itu.
"Siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang," perintah Sagara saat melihat sopir pribadinya sudah menunggu di depan kamar.
Di depan rumah, mobil yang dikendarai oleh sopir Aditya baru saja tiba. Lelaki paruh baya itu baru pulang dari kantor. Aditya merasa heran saat melihat Sagara menggendong Amora dan melangkah terburu-buru.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Amora?" Aditya mendekati Sagara yang sedang menggendong menantunya.
"Aku akan membawa Amora ke rumah sakit. Dia baru saja selamat setelah tenggelam di kolam."
"Apa?" Aditya tampak terkejut mendengar ucapan Sagara.
"Bagaimana bisa dia tenggelam di kolam?" Aditya menatap putranya.
"Papa tanyakan saja pada istri Papa. Aku buru-buru ke rumah sakit." Sagara membawa tubuh Amora masuk ke dalam mobil. Lelaki itu kemudian duduk di samping Amora.
Mobil melaju meninggalkan rumah besar Aditya menuju rumah sakit.
Rima terlihat cemas saat melihat Aditya mendekatinya. Kedua tangannya saling meremas karena gugup.
"Sepertinya, kamu benar-benar tidak mendengarkan apa yang aku perintahkan kemarin."
"Apa maksud kamu, Mas? Aku tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi pada Amora."
__ADS_1
"Kau yakin, Rima?"
"Mas!"
Aditya menggelengkan kepala. Kemarin dia melihat menantunya itu mengangkat barang berat, sekarang tenggelam dan hampir mati. Besok apa lagi?"
Aditya tidak akan membiarkan istrinya dan juga kekasih putranya terus mencelakai Amora. Dia harus memikirkan cara untuk melindungi menantunya dan calon cucu dalam kandungannya.
"Kalau terbukti kamu ikut terlibat, kamu akan tahu akibatnya, Rima. Aku tidak akan main-main kali ini." Aditya menatap sang istri dengan tajam kemudian melangkah pergi meninggalkan Rima yang terlihat sangat kesal.
"Bisanya hanya mengancam saja. Aku tahu, kami tidak akan tega menghukum aku," batin Rima sambil tersenyum sinis.
Wanita paruh baya itu berjalan dengan tergesa untuk mencari keberadaan Laura. Gara-gara wanita itu, dirinya hampir celaka. Rima yakin, Laura memang sengaja menjatuhkan Amora ke dalam kolam.
"Laura! Laura!" Rima mengetuk pintu dengan kencang.
Laura yang berpura-pura tidur tidak menghiraukan ketukan pintu dan panggilan dari Rima. Laura sangat ketakutan saat melihat kemarahan Sagara mengetahui Amora hampir mati di kolam renang.
Laura merasa sangat kesal. Kekesalan semakin bertambah saat mendengar suara Rima yang terus memanggilnya di balik pintu kamar.
"Laura! Buka pintunya!" teriak Rima dengan kesal. Namun, tetap tidak ada tanggapan dari Laura.
"Sialan! Dia pasti sengaja menghindar biar tidak terkena masalah. Dasar licik!" umpat Rima dalam hati. Wanita itu dengan kesal meninggalkan tempat itu.
***
Sagara baru saja sampai di rumah sakit. Saat ini dokter sedang memeriksa Amora. Sagara membawa istrinya ke dokter spesialis kandungan sesuai dari instruksi Dokter Rama.
Saat ini, dokter sedang melakukan USG. Dokter wanita bernama Lisa itu kini sedang menjelaskan pada Amora dan Sagara tentang keadaan bayinya.
Usia kandungan Amora sudah delapan belas minggu. Amora merasa beruntung karena dia tidak mengalami mual muntah yang parah di awal kehamilan dan juga mengidam. Seandainya dia mengalami dua hal tersebut, entah apa yang terjadi padanya saat ini.
__ADS_1
Apalagi, saat menghadapi ibu mertua dan kekasih suaminya. Begitupun dengan Sagara. Amora bahkan tidak yakin jika pria itu akan membelikan keinginannya seandainya ia mengidam sesuatu.
"Janinnya sehat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Dokter Lisa tersenyum.
Seorang perawat membantu Amora bangun dari ranjang. Sagara yang melihat itu langsung menggendong Amora kemudian mendudukkannya di atas kursi di depan dokter.
Sagara tidak memedulikan kekesalan Amora karena dia menggendongnya di depan dokter.
"Sebagai suami, Anda harus memberikan perhatian lebih pada istri Anda selama kehamilannya, dan jangan biarkan istri Anda stres apalagi kelelahan," jelas dokter.
Sagara dan Amora hanya mengangguk sebagai jawaban.
Dokter Lisa kemudian memberikan resep pada Sagara. Setelah menjelaskan obat dan vitamin apa saja yang harus dibeli, Sagara kemudian kembali menggendong Amora keluar dari ruangan.
Sagara tidak membiarkan wanita itu berjalan menggunakan kakinya. Melihat Amora hampir saja meregang nyawa akibat tenggelam membuat hati Sagara merasakan sakit yang tak kasat mata.
Kini, dia memperlakukan Amora dengan hati-hati. Takut wanita itu mengalami sesuatu yang kembali menyakiti tubuhnya.
Amora menatap Sagara yang kini menggendongnya. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Sagara.
Seandainya pria ini memperlakukannya dengan baik seperti ini setiap hari, hidup Amora pasti akan sangat bahagia.
Sagara masuk ke dalam mobil terlebih dahulu bersama Amora yang kini duduk di sampingnya di kursi penumpang. Sementara itu, sopir Sagara masih di dalam rumah sakit sedang mengantre untuk menebus resep obat yang diberikan oleh dokter.
"Amora." Sagara merangkul pundak Amora kemudian merebahkan kepala wanita itu pada dadanya.
Amora mendongak menatap Sagara yang juga menatapnya dengan dalam.
"Lain kali, kamu harus menjaga dirimu sendiri agar tidak celaka." Setelah mengucapkan itu Sagara menundukkan kepalanya kemudian mencium bibir Amora yang terbuka.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1
Sagara labil banget, asli! Kadang baik, kadang jahat. Nggak ngerti maunya apa.