DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
PAPA, MAMA ....


__ADS_3

"Ayo, Bu, Pak, kita bicara di luar," ajak Bu Mawar yang akhirnya diikuti keduanya. Sementara Dewa, dia tetap bertahan di sana. Bu Mawar juga mengajaknya keluar, tetapi, Dewa mengatakan akan tinggal sebentar.


"Amora," panggil Dewa setelah ketiganya keluar dari ruangan itu.


"Aku tahu, aku tidak punya hak untuk menasehati atau mengatakan apapun perihal hal ini. Terlalu pribadi, dan sensitif, sementara aku hanya orang luar. Tapi, dari penuturan Om dan Tante, mereka juga sama bersedih nya denganmu. Sama terluka dan terpuruk. Bahkan Tante Rania hampir dirawat di rumah sakit jiwa. Kalau itu bukan membuktikan kehilangan yang mendalam dia rasakan, lantas apa lagi?"


Amora meneteskan air mata dalam diamnya. Menunduk mendengarkan Dewa menasehatinya. Setiap Dewa berbicara, ada pesan damai yang terasa di hati Amora. Pria itu sungguh luar biasa. Sangat bertolak belakang dengan sifat Sagara.


Mengingat Sagara, amarahnya kembali muncul. Mungkin kedatangan kedua orang tuanya sekarang justru tepat, seolah benar kata orang bijak, waktu Tuhan itu pasti yang terbaik.


Kedua orang tuanya muncul saat Amora memang sangat membutuhkan dukungan dan juga bantuan berupa moril dan materil.


Bukan, dia bukan ingin memanfaatkan kedua orang tuanya yang begitu ingin mengajaknya kembali pada mereka, tetapi, sudah sewajarnya jika dia memang anak mereka, maka segala kesusahan hati Amora pasti dibantu.


"Pikirkan baik-baik, mereka orang tua kandungmu. Lebih baik mengenal mereka terlambat daripada tidak sama sekali hingga akhir hayat.


Kamu masih beruntung, masih dikasih kesempatan untuk bertemu mereka saat keduanya masih hidup. Itu artinya, yang Maha Kuasa masih ingin memberi kalian kesempatan untuk bersama. Menebus waktu yang terbuang selama kalian berpisah," lanjut Dewa menepuk pundak Amora.

__ADS_1


Dia mengerti kalau saat ini wanita itu butuh waktu untuk berpikir dan memutuskan. Dewa pamit undur diri, agar Amora bisa mengambil waktu untuk berpikir.


Selama Amora di rumah sakit, setiap hari pula Rania datang ke sana. Menemani Amora walaupun wanita itu tetap tidak mau mengajak Rania bicara. Dirga juga akan datang setiap hari sabtu dan minggu dari Surabaya, dan kembali lagi senin pagi.


Sampel rambut juga darah Amora dan Dirga juga sudah diambil tiga pekan lalu, dan hasilnya akan segera keluar minggu depan.


Sebenarnya, di hati kecil Amora sudah tidak memedulikan hasil tes itu. Dia percaya keduanya adalah orang tua kandungnya. Rania begitu perhatian dan lembut melayani dan menjaga Amora selama di rumah sakit. Hatinya mulai luluh, walau lidah masih kelu untuk memanggil ibu pada Rania.


Wanita itu akan menyuapi Amora, membantu memandikannya dan mengganti pakaiannya. Keadaan Amora sudah membaik, bahkan dokter yang merawatnya sudah diizinkan untuk pulang.


Rania mendengar perkataan dokter kalau Amora sudah boleh pulang membuat Rania berharap Amora mau pulang bersamanya.


"Amora, mm ... mama dengar perkataan Dokter Ramon kalau kamu sudah boleh pulang. Kalau kamu mau, mama ingin kamu pulang bersama mama," ucap Rania. Mata Amora menoleh pada Rania, membuat wanita itu merasa kikuk, lalu kembali Amora menunduk seperti biasa.


***


Hari yang ditunggu Dirga tiba. Hari ini hasil tes DNA Amora dan Dirga keluar. Walaupun mencoba menyembunyikan perasaannya, tetapi, Amora juga ingin tahu hasilnya. Sementara itu, Dirga datang subuh-subuh dari Surabaya, agar pagi harinya ia bisa sampai di rumah sakit dan mengetahui hasil tes DNA tersebut.

__ADS_1


"Mas, bangun, dokter sudah datang," ucap Rania membangunkan Dirga yang ketiduran di sofa.


Beberapa bulan ini tubuhnya semakin kurus, lelah ke sana-kemari untuk tetap berada di sisi Amora. Dia ingin menjadi garda terdepan bagi putrinya itu.


"Selamat Pagi, Pak Dirga. Saya datang ingin menyerahkan hasil lab untuk tes DNA Bapak dan juga Amora," ucap Dokter Ramon. Dewa yang datang bersama Dokter Ramon ingin menjadi saksi atas kisah mengharukan ini.


Dirga duduk di kursi yang berada di samping Amora. Gadis itu tampak gugup, menunduk dan meremas jemarinya.


Perlahan dokter membuka amplop putih lalu mengeluarkan selembar kertas dari dalam, membaca hasil dari keterangan tes DNA itu.


Tepat saat kalimat bahwa Amora adalah putri kandung dari Dirga Hutama, tangisan Rania menggema di ruangan itu. Dirga juga tidak merasa malu. Lelaki itu ikut menangis terisak. Momen yang sudah bertahun-tahun lamanya dia tunggu akhirnya tiba juga.


"Freya, putri kita, Mas," isak Rania sesunggukkan dalam pelukan Dirga. Pria itu mengusap punggung Rania, mencoba menenangkan istrinya sementara dirinya sendiri saja butuh penghiburan.


Amora melihat semua itu, dia juga ikut menangis haru. Ditatapnya Dewa, mencoba meminta pendapat. Pria yang juga ikut terharu itu mengangguk.


"Papa, Mama ...," panggil Amora disela isak tangisnya. Panggilan itu membuat hati pasangan suami istri itu semakin melambung penuh haru. Sekian lama bertahan untuk menyangkal, akhirnya Amora mau mengakui mereka sebagai orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2