DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
ADA BAYIKU DALAM PERUTMU


__ADS_3

Sagara menatap Laura sambil tersenyum. "Sekali lagi, terima kasih, Sayang, karena kamu sudah mau membantuku merawat Amora."


"Sudah'lah, Saga. Semua ini aku lakukan demi anak kamu. Aku gak mau terjadi hal buruk pada calon anak kamu. Aku juga gak tega melihat ibunya menderita," jawab Laura lembut.


Tatapan mata Sagara padanya tentu saja menjelaskan betapa pria itu sangat terharu dan berterima kasih sekali padanya. Hal itu membuat perasaan Laura melambung tinggi.


Dia mengutuk kebodohannya, mengapa tidak sejak awal melakukan tipu muslihat ini. Sangat gampang dan terbukti berhasil.


"Kamu istirahat saja, Ra. Biar aku yang jaga Amora," lanjut Sagara melepaskan tangan Laura. Dia tidak mau kalah Laura juga akan jatuh sakit karena begadang menemaninya mengurus Amora.


"Aku nggak papa, Saga. Biar aku temani kamu, ya," tolak Laura tidak ingin memberikan kesempatan pada Saga. Namun, pria itu tetap memaksa dan tepat saat itu dokter Rama datang dan segera memeriksa keadaan Amora.


Rama sudah memberikan obat untuk diminumkan pada Amora, dan sebelum pamit pulang, menjelaskan tata cara memberikan dosis dan waktu meminum obatnya.


"Karena Amora sedang hamil, maka obat yang bisa dikonsumsinya hanya ini saja, aman untuk bayinya," ucap sang dokter yang dipanggil oleh Sagara. Aditya menawarkan jasa mengantarkan Rama ke bawah sekaligus memaksa Laura untuk ikut turun.


"Biarkan saja Sagara yang merawat istrinya. Cukup sudah kamu membantu, sebaiknya kamu istirahat juga," paksa Aditya yang akhirnya tidak bisa ditolak Laura.

__ADS_1


Sepenjang malam, Sagara begadang, terus memantau suhu tubuh Amora. Mengganti kompresan di kening wanita itu.


Matanya sangat mengantuk, lelah juga menggerogoti tubuhnya, tetapi, tidak sedikitpun dia mau terlelap meninggalkan Amora yang demamnya masih belum turun.


Adzan subuh berkumandang, mata Amora terbuka, begitu susah membuka seperti direkat oleh lem kambing. Tangannya menyentuh rambut Sagara yang merebahkan kepalanya di sisi tempat tidur. Satu tangannya masih memegang kain kompresan yang siap mengganti yang ada di kening Amora.


Hati Amora menghangat melihat perhatian dan semua yang sudah dilakukan pria itu untuknya. Diambilnya kain yang masih melekat di keningnya, lalu yang ada di tangan Sagara guna diletakkan di atas nakas.


Perlahan Amora menurunkan kakinya. Tenggorokannya kering, dan Amora berniat mengambil air minum yang ada di atas meja di seberang ranjang. Namun, gerakan Amora yang begitu pelan pun bisa membuat Sagara terbangun.


"Syukurlah demammu sudah turun," ucapnya tersenyum gembira. Baru kali ini Amora bisa melihat senyum tulus dari bibir Sagara. Seolah, dia benar-benar merasa lega dengan keadaan Amora yang sudah membaik. "Kamu mau apa?"


"Aku ... aku haus," jawab Amora dengan suara bergetar. Hatinya kembali menghangat, bahkan kini sudah berdetak lebih kencang. Perhatian dan kelembutan Sagara dalam berbicara padanya membuatnya kembali masuk dalam lingkar pesona Sagara. Untuk sesaat melupakan kekejaman pria itu yang selama ini dia perbuat pada Amora.


Sagara mengerti, dia membawa Amora kembali ke ranjang, lalu mengambil gelas dan juga termos stainless yang berisi air panas. Sagara mengisi setengah air dingin dari teko dan mencampurnya dengan sedikit air panas dari termos.


Amora memperhatikan dalam diamnya. Senyum nya melengkung di bibirnya dengan perasaan berbunga.

__ADS_1


"Ini, kamu harus banyak minum, dan harus air hangat, biar perutmu enak," ucap Sagara mengingat apa yang dipesankan oleh dokter Rama.


Setelahnya kembali membaringkan Amora dan menyelimutinya. Tidak lama, Sagara juga bergabung dengan wanita itu di atas ranjang.


Sagar menarik pinggang Amora, agar tubuh mereka menyatu, hingga menghadirkan kehangatan yang baik untuk Amora.


Debar jantung Amora semakin kencang, seiring dengan deru napas Sagara yang melewati ceruk lehernya.


"Saga," panggil Amora yang berbaring membelakangi Sagara. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya di perut Amora.


"Mmmm," gumam pria itu, dengan mata terpejam. Rasa kantuknya tidak bisa ditawar lagi.


"Kenapa kamu merawatku dan begitu baik padaku?"


"Ada bayiku dalam perutmu. Aku tidak ingin terjadi hal buruk padanya!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2