DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
KEPERGIAN AMORA


__ADS_3

Ruangan itu dipenuhi dengan isak tangis Sagara dan juga tentu saja tangis Laura yang palsu. Rima tidak berani ikut menangis atau bereaksi yang berlebihan, jadi dia memilih untuk menunduk sambil sesekali menghapus air matanya.


Dokter menyarankan agar segera mengkebumikan Amora karena wanita yang meninggal saat dalam keadaan hamil tidak baik jasadnya untuk terlalu lama tidak dikubur.


Suasana dalam ruangan mendadak kacau. Apalagi, saat kedatangan kedua orang tua Gerald. Mama Gerald yang begitu menyayangi Amora menangis histeris. Sementara suaminya berusaha menenangkannya.


Sedangkan Gerald, lelaki itu sungguh tidak percaya jika mantan tunangannya itu meninggal dunia. Lelaki itu menatap Sagara yang terlihat begitu terpukul dengan kepergian Amora.


Gerald menatap jenazah Amora di atas brankar dengan rasa penyesalan di hatinya. Apalagi, saat dia mengingat kesalahannya pada Amora.


Dalam hati dia sangat menyesali perbuatannya yang telah berbuat jahat pada Amora dengan menjual gadis itu pada Sagara.


"Maafkan aku, Amora. Semuanya berawal dariku. Seandainya aku tidak pernah membawamu pada Sagara, saat ini kamu pasti baik-baik saja," batin Gerald sambil menitikkan air mata saat melihat wajah pucat Amora di yang terdiam tidak bernyawa.


Tangis histeris yang berasal dari pintu ruangan hingga di hadapan Amora membuat ruangan itu semakin mengerikan, terlebih bagi Rima.


Wanita paruh baya itu gemetar melihat kesedihan orang-orang yang menangisi Amora. Termasuk saat dirinya melihat ibunya Gerald yang menangisi Amora dan berteriak histeris, seolah-olah yang meninggal adalah putrinya sendiri.


Kedua orang tua Gerald datang ke rumah sakit saat mendengar Amora masuk rumah sakit dari Gerald. Saat itu Sagara menelepon Gerald untuk memberitahukan jika dirinya tidak bisa ke kampus karena Amora masuk rumah sakit.


Sebelum datang ke rumah sakit, ibunya Gerald segera menghubungi kepala panti asuhan tempat Amora dulu tinggal. Wanita itu ingin sang ibu panti ikut datang ke rumah sakit untuk menjenguk Amora.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, ibu panti yang begitu sangat menyayangi Amora dan menganggapnya sebagai putri kandungnya itu datang ke Jakarta untuk mendoakan sekaligus melihat keadaan Amora yang saat itu dikabarkan sakit.


Namun, malang, wanita itu tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan Amora sebelum gadis itu menghembuskan napasnya. Amora dinyatakan meninggal sebelum ibu panti sampai ke rumah sakit. Ibu Mawar menangis pilu meratapi kepergian putri angkatnya itu.


Wanita berusia hampir enam puluh tahun itu sungguh tidak menyangka kalau Amora meninggal dunia. Selama ini, dia mengira kalau putri angkatnya itu hidup bahagia karena menikah dengan lelaki yang dicintainya.


Ya! Amora memang mengatakan kalau dirinya menikah dengan pria yang sangat dicintainya setelah pertunangannya dengan Gerald gagal karena lelaki itu mengkhianatinya.


"Kalau memang Amora ingin dikebumikan secepatnya, saya memohon agar diizinkan membawa jasad putri saya kembali ke desa ke tempat di mana dia dibesarkan," ucap Ibu Mawar memohon kepada Sagara yang memang lebih berhak atas jasad Amora.


Sagara terdiam. Lelaki itu menatap Ibu Mawar yang masih terus menangis sesenggukan.


Sagara yang tidak berdaya, tidak bisa lagi berpikir apapun karena kesedihan yang mendalam atas kepergian Amora, hanya bisa mengikhlaskan dan memberikan izin kepada Mawar untuk membawa Amora ke panti asuhan.


Panti itu mempunyai lahan yang luas, ibu panti ingin menguburkan Amora di belakang panti asuhan di samping suami Ibu mawar.


"Kalau memang itu kemauan Anda, Kami keluarga tidak keberatan. Silahkan bawa dan urus jenazah Amora," jawab Rima yang ingin menyudahi semua ini. Semakin lama dia melihat jasad Amora rasa bersalah itu semakin menyiksanya.


Dia tidak ingin berurusan dengan Amora ketika hidup, terlebih setelah gadis itu meninggal. Mendengar tawaran dari ibu Mawar tentu saja hal itu langsung disambutnya.


Untuk apa dia susah-susah mengurus jenazah wanita itu kalau memang ada yang berkenan untuk mengurus pemakamannya?

__ADS_1


"Aku ingin ikut ke sana," ucap Sagara. Namun, dengan cepat Rima menyela ucapannya.


"Keadaanmu sedang tidak baik-baik saja, Sagara. Kamu tidak bisa ikut ke sana."


"Tapi, Ma–"


"Jangan membantah, Saga. Kamu istirahat dulu, setelah kamu pulih, kamu boleh datang ke panti asuhan untuk melihat makam Amora." Rima menyela.


Setelah mengucapkan perpisahan dengan tangisan, Amora siap dibawa kembali ke desa bersama ibu Mawar yang memohon kepada pihak rumah sakit untuk mau mengantarkannya.


Namun, saat jenazah akan dibawa pulang menggunakan ambulans, seluruh mobil ambulans yang ada di rumah sakit itu sedang beroperasi. Ada satu mobil yang tersisa, tetapi, tidak ada sopir yang membawanya.


Entah kebetulan atau tidak, sang sopir ambulans yang biasa membawa jenazah itu tidak masuk karena dalam keadaan sakit. Pihak rumah sakit meminta mereka untuk menunggu sebentar sampai mobil ambulans lain datang. Namun, Mama Reni dan Ibu panti merasa tidak sabar.


Frustrasi akan keadaan itu membuat Ibu Mawar tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa. Tidak mungkin Sagara yang membawa ambulans karena keadaannya pun tidak stabil. Sementara Gerald sudah terlebih dahulu pulang karena merasa tidak tahan saat melihat jasad Amora.


Apalagi, Sagara juga tidak mau mengantarkan jasad Amora. Lelaki itu tidak kuat membayangkan Amora dikubur di tempat peristirahatannya yang terakhir.


"Saya yang akan membawanya, Bu. Saya akan mengantar ibu bersama jasad putri Ibu kembali ke desa," ucap seseorang yang sejak tadi mendengar dan melihat tangisan serta ratapan Ibu Mawar mengenai Amora. Pria itu segera masuk ke dalam ruangan dan menawarkan diri untuk untuk membawa jenazah Amora.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2