DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
PENYESALAN


__ADS_3

"Aku tahu, kamu pasti yang sudah mencelakai Amora. Kamu yang membunuh calon cucu kita! Kau tidak punya hati, Rima!" teriak Aditya.


Laura yang melihat itu yang awalnya tenang-tenang saja kini menjadi ketakutan. Dia juga tidak akan bisa lepas dengan mudah, dia harus membantu Rima, bagaimanapun mereka sekutu.


"Om, lepaskan Tante, dia bisa mati," ucap Laura menarik tangan Aditya dari leher Rima, tapi tampaknya hal itu tidak mudah tenaga pria itu begitu kuat.


"Papa, apa yang papa lakukan? Lepaskan Mama!" Sagara yang juga baru pulang dan mendapati kejadian mengerikan itu segera berlari untuk menyelamatkan ibunya.


"Biar saja dia mati! Perempuan jahat inilah yang sudah membunuh Amora!" umpat Aditya, tetap ingin menjangkau Rima yang kini sudah lepas dari cengkeramannya.


"Papa, tenangkan diri Papa. Ini semua sudah takdir, bukan Mama yang membunuh Amora tapi aku!" Seketika suasana hening setelah mendengar pengakuan Sagara.


"Kau? Kau membunuh istrimu?" tatap Aditya tidak percaya. Kalau sejak awal pernikahan mereka, Amora sudah celaka, mungkin ucapan Sagara bisa dipercaya, tapi yang Aditya lihat belakang ini hubungan suami istri membaik, jadi apa benar Sagara yang membunuh Amora? Sementara yang justru tertangkap basah oleh Aditya, yang menyiksa gadis itu justru istrinya?


"Benar, Pa." Sagara menjatuhkan dirinya di lantai, bersujud di hadapan ayahnya. "Malam sebelum Amora jatuh sakit, aku ... aku sudah memaksanya, Pa. Aku memaksa Amora melakukan hubungan intim dengan kasar hingga menyebabkan pendarahan," ucap Sagara penuh penyesalan. Semua orang di dalam ruangan itu bisa merasakan penyesalan pria itu.

__ADS_1


Aditya menggeleng mendengar ucapan putranya. Bagaimana bisa dia mempunyai keturunan yang tidak punya hati seperti Sagara?


Aditya terhempas di kursi single yang berada tepat di samping tangga. Rasanya begitu cepat semua terjadi. Ingin sekali menghajar putranya itu karena tidak bisa mengendalikan nafsunya. Padahal dia tahu istrinya sedang hamil dan mungkin saja kondisinya sangat lemah.


"Kau biadab, Sagara! Aku malu mempunyai anak sepertimu. Walau Amora adalah istrimu dan kamu mempunyai hak untuk menuntut pelayanan darinya, tapi harusnya kau bisa mengendalikan nafsu binatangmu!" Aditya berbicara dengan napas tersengal karena marah.


"Melihat keadaan istrimu yang lemah, seharusnya kamu memperlakukannya dengan baik, bukan malah memaksanya hingga menyebabkan penderitaan!" umpat Aditya meludah jijik ke arah putranya. Lalu menatap satu persatu manusia penuh dosa yang ada di rumahnya itu sebelum beranjak naik ke kamarnya.


Aditya sungguh sangat marah dan kecewa melihat istri dan anaknya menjadi orang jahat.


Pria paruh baya itu merasa gagal mendidik istri dan anaknya.


Laura merasa kecil dibandingkan gadis itu. Kini, dia menyadari bahwa Sagara sudah berbohong padanya. Pria itu jelas-jelas sangat mencintai Amora dan merasa kehilangan wanita itu.


Melihat hal itu Laura semakin tidak menyesal telah menyingkirkan Amora untuk selamanya, tidak ada seorangpun yang bisa merebut miliknya.

__ADS_1


Sagara bangkit. Dia ingin menenggelamkan dirinya dan rasa bersalahnya dengan berbotol-botol minuman yang mampu membuatnya mabuk dan lupa akan kesedihannya.


Kedua temannya dengan senang hati menemaninya. Malam itu Sagara menghabiskan waktunya di bar, berteman dengan minuman dan juga kenangan bersama Amora. Begitu banyak penderitaan dan kesedihan yang diberikan pada gadis itu, dan perbuatannya tidak mungkin bisa dimaafkan.


"Amora, aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan. Amora, bisakah kau kembali padaku?" ratapnya setengah mabuk, menatap gelas yang sudah berisi setengah, entah sudah ke berapa kali dia mengisi gelas itu.


Kedua temannya itu membiarkan Sagara melampiaskan kesedihannya, berharap besok pria itu akan bisa menerima kematian istrinya.


"Amora sudah terlambat 'kah, kalau aku mengakui bahwa mungkin aku sudah mencintaimu? Aku tidak ingin kehilanganmu Amora. Apa yang harus aku lakukan agar bisa membuatmu kembali?" racau Sagara mulai terdengar begitu menyedihkan.


"Berikan aku satu kesempatan Amora, untuk bisa membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu. Kembalilah dalam hidupku. Aku mohon ... jangan tinggalkan aku, Amora," ucap Sagara dengan bulir air mata yang menghiasi pipinya.


Untuk pertama dalam hidupnya dia meneteskan air mata untuk seorang gadis, hal yang tidak pernah dia lakukan bahkan untuk Laura, cinta pertamanya, yang dulu pernah meninggalkannya.


Tampaknya Sagara kini sudah menyadari bahwa perasaannya kepada Amora begitu besar dan dia sangat mencintai gadis itu.

__ADS_1


"Amora ...."


BERSAMBUNG ....


__ADS_2