DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
AKU BENAR-BENAR MENYUKAIMU


__ADS_3

"Mas Dewa ngapain di sini?" tanya Amora ketika mendapati Dewa yang sudah menunggunya di parkiran jurusan. Pria itu sudah menunggu lebih dari dua jam hanya untuk memastikan bahwa Amora belum pulang dari kampus.


Kedatangan Dewa tentu saja ingin menuntut kejelasan dari gadis itu. Dia sudah mendengar dari Dirga perihal keinginan Amora yang ingin pindah kuliah di Jakarta.


Hal itu tentu saja disambut gembira oleh Dewa, pasalnya walaupun dia mengurus perusahaannya yang ada di Surabaya namun, dominannya dia tetap tinggal di Jakarta.


Dewa juga sedang fokus mengurus rumah sakit serta perusahaannya yang lain yang ada di ibukota. Dengan pindahnya Amora ke sana tentu intensitas pertemuan mereka juga lebih banyak.


"Aku kangen sama kamu," jawab Dewa terus terang. Senyumnya mengembang di bibir.


Lelaki itu memutuskan untuk tidak berhati-hati lagi dalam mengungkapkan perasaannya. Dewa tahu mungkin ini terlalu lancang dan terlalu cepat bagi Amora, tetapi, kalau tidak diungkapkannya bagaimana gadis itu bisa tahu tentang perasaannya?


Mungkin hal ini terdengar menggelikan dan tidak masuk akal. Namun, Dewa sudah jatuh hati pada Amora ketika pertama kali dia menolong wanita itu. Apalagi, saat mendengar kisah Amora yang dianiaya oleh keluarga Sagara.


Lalu, seiringnya waktu kebersamaan mereka, Dewa semakin yakin akan perasaannya.

__ADS_1


Perasaan iba yang awalnya dirasakan terhadap gadis itu kini berubah menjadi cinta dan dia ingin menjadi orang yang bisa membalut luka Amora dan memberikan kebahagiaan bagi gadis itu.


Mendengar perkataan Dewa, tentu saja membuat Amora begitu malu, pipinya bersemu merah, tidak terkatakan lagi bagaimana perasaan hatinya saat ini. Jantungnya berdegup dengan kencang dan sepertinya rasa gugup sudah mulai menyerang.


"Mas Dewa apaan, sih, aku serius nanya loh," ucap Mora, setelah sekian menit terdiam dan dapat menguasai dirinya.


"Aku juga serius, kok. Kita ngobrol dulu, sekalian makan siang," pinta Dewa dan tanpa diduga oleh Amora dia menarik tangannya dan menggenggam lalu melangkah. Amora yang terkejut hanya bisa mengikuti langkah pria itu.


Debar jantung semakin tidak karuan, tetapi, anehnya dia merasa nyaman atas sentuhan pria itu. Dia tidak menarik tangannya bahkan membiarkan Dewa terus menggenggam hingga mereka sampai ke mobil pria itu.


"Kamu mau makan apa, Freya?" tanya Dewa saat pelayan menyerahkan buku menu padanya. Amora sedang mengamati buku menu yang ada di tangannya.


Sebenarnya gadis itu hanya melihat-lihat, pikirannya sudah bercabang tersita oleh kalimat Dewa yang menawan hatinya saat di kampus tadi, bahkan duduk berdua seperti ini membuat Amora semakin tidak sanggup untuk melihat Dewa. Tidak mungkin 'kan, secepat ini dia jatuh cinta pada pria itu?


"Aku pesan seperti pesanan Mas aja," jawab Amora juga menyerahkan kembali buku menu pada pelayan Kafe.

__ADS_1


"Aku sudah mendengar dari Om Dirga tentang rencana kamu untuk pindah kuliah ke Jakarta," Dirga memulai pembicaraan setelah pelayan cafe meninggalkan mereka. kalimat Dirga membawa Amora untuk menegakkan kepalanya dan memandang ke arah pria itu.


"Iya, Mas, aku memutuskan pindah ke Jakarta." Amora tidak berani menatap Dewa.


Hatinya berdebar dan masih saja gugup. Amora tebak, bisa-bisa dia nanti pingsan kalau terus jantungan begini, terlebih setiap Dewa memandangnya seperti itu.


"Aku senang kamu pindah ke Jakarta, dengan begitu aku semakin bisa lebih dekat denganmu, menjagamu, hingga ada seorangpun yang bisa menyakiti kamu lagi," ucap dengan tegas.


"Freya," lanjut Dewa.


Dewa menggenggam tangan Amora yang saat itu di atas meja. Menggenggam sangat erat, seolah dengan begitu Dewa ingin mengatakan niatnya di awal.


Sontak, Amora mengangkat wajahnya menatap mata yang paling indah dan menenangkan yang pernah Amora lihat dalam hidupnya.


"Aku benar-benar menyukaimu, dan ingin menjadi pria yang menghapus lupa sekaligus traumamu. Tidak akan aku biarkan siapapun menyakitimu lagi. Freya, maukah kamu menjadi kekasihku?"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2