
Rima sangat terkejut mendengar cerita Amora. Tubuhnya tiba-tiba merasa gemetar. Bayangan di mana dirinya dan Laura menyiksa Amora kembali melintas.
"Temanku meninggal di luar negeri. Semenjak menikah, dia ikut suaminya. Andai saja temanku itu tinggal di sini, aku pasti akan membantunya untuk membalas dendam pada orang-orang yang menyakitinya. Sayang sekali, orang sebaik dia harus meninggal di tangan kekasih suaminya sendiri." Amora menghentikan ceritanya. Netranya melirik ke arah Mira yang tampak pias.
"Apa pelaku yang membunuh temanmu itu tertangkap?" Rima menatap wajah tenang Amora dengan penasaran. Namun, tidak mengurangi rasa takut yang tiba-tiba menyelinap.
"Kekasih suaminya ditangkap dan dijatuhi hukuman seumur hidup. Begitupun dengan suaminya. Suaminya juga terbukti melakukan kejahatan pada istrinya sebelum rencana pembunuhan itu terjadi."
Rima terlihat syok mendengar ucapan Amora. Tanpa sadar, wanita itu bangkit dari duduknya kemudian melangkah mundur saat rasa takut tiba-tiba menyusup ke ruang hatinya.
Seketika, ucapan Aditya saat itu kembali terngiang di telinganya.
"Jika bukan demi nama baik keluarga, aku pasti sudah melaporkanmu dan Laura ke polisi. Bukan hanya kalian berdua, tapi juga Sagara!"
"Tidak! Aku tidak mau di penjara!" batin Rima. Wanita paruh baya itu baru saja ingin berbalik meninggalkan Amora. Tetapi, karena langkahnya tergesa, wanita itu terpeleset kemudian langsung tercebur ke kolam.
"Tante!" Amora berteriak kaget. Namun, bibirnya melengkung seringai tipis.
"Ini baru permulaan. Setelah ini, aku pastikan, kau akan menerima ganjaran atas perbuatan yang pernah kau lakukan padaku," batin Amora.
Detik berikutnya, Amora meloncat ke dalam kolam. Meraih tubuh Mira yang hampir saja tenggelam. Amora sedikit bermain-main. Membiarkan tubuh Mira masuk ke dalam air, kemudian Amora baru benar-benar menarik tubuh ibu mertuanya itu menuju ke tepi kolam.
__ADS_1
Amora berteriak meminta tolong karena dirinya tidak mungkin mengangkat tubuh Mira sendirian.
"Toloong!"
"Tolong! Siapapun kemarilah!" teriak Amora.
****
Sagara membantu mengeringkan rambut Amora. Wanita itu menggigil kedinginan. Beberapa saat yang lalu, Sagara memberikan baju ganti pada Amora. Baju kemeja miliknya yang berubah menjadi dress di atas lutut saat dipakai oleh Amora.
"Kenapa kamu dan mama tiba-tiba tercebur ke kolam?" Sagara menatap wajah Amora yang menggigil kedinginan.
"Freya, Sayang, aku bukannya tidak percaya dengan ucapan kamu. Aku hanya khawatir. Kalau terjadi sesuatu sama kamu tadi gimana?"
"Aku hanya ingin menyelamatkan mama kamu. Tante hampir saja tenggelam karena tidak bisa berenang."
"Aku tahu, Sayang, tapi–"
"Tapi apa? Apa kau lebih suka melihat mama kamu tenggelam dan aku tidak menolongnya sama sekali?" tukas Amora kesal.
"Sayang–"
__ADS_1
"Aku mau pulang!"
"Freya–"
"Kalau kamu tidak mau mengantarkan aku pulang, aku akan pulang sendiri!"
Sagara menghela napas panjang. Begitulah Freya. Wanita itu sangat keras kepala dan selalu marah jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikirannya.
Namun, sejelek apapun sikapnya, tetap tidak bisa menghilangkan rasa cintanya yang begitu besar pada Amora.
"Aku akan mengantarmu pulang, tapi kamu harus mengeringkan rambutmu terlebih dahulu, nanti masuk angin. Kamu juga saat ini kedinginan bukan?"
Amora mengangguk membenarkan. Tubuhnya saat ini memang menggigil. Padahal, ia hanya tercebur di kolam sebentar. Mungkin karena cuaca sedang tidak bersahabat. Setelah Amora berhasil menolong Rima, hujan turun dengan deras.
"Masih hujan gede begini, memangnya kamu benar-benar akan tetap pulang?" Sagara meletakkan hairdryer. Pria itu baru saja selesai mengeringkan rambut Amora.
Netranya memindai wajah cantik Amora. Mengusap wajah yang hampir seratus persen mirip dengan Amora. Apalagi, saat Freya tidak menggunakan makeup seperti sekarang. Wajahnya benar-benar mirip!
"Freya, kenapa wajahmu mirip sekali dengan Amora?"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1