
"Dia ... Dia sudah meninggal."
"Apa?" Rania dan Dirga berucap bersamaan. Sepasang suami istri itu merasa terkejut mendengar ucapan Ibu Mawar.
"Tidak mungkin ...."
Rania menangis sejadi-jadinya. Harapannya pupus kembali. Tubuhnya terhempas sebongkah batu karang. Sakit, perih, kecewa dan juga mengutuk keadaan. Mengapa takdir begitu kejam padanya?
Saat kemarin detektif itu menyampaikan kabar suka cita bahwa putrinya sudah ditemukan, Rania sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan anaknya. Bahkan wanita itu tidak bisa memejamkan mata barang satu menit pun, berharap, pagi segera menyingsing.
Awalnya malah dia sempat meminta pada Dirga untuk berangkat hari itu juga, tetapi, suaminya menahan, dan mengatakan besok saja.
Kini harapannya terhempas, hatinya kembali tercabik mendapati kabar bahwa putrinya sudah tiada. Alam semesta tampaknya sangat suka bercanda atas hidupnya.
Mendengar tangis kedua orang tua itu, Ibu Mawar tidak sampai hati. Melihat duka yang dirasakan Rania dan juga Dirga membuat Ibu Mawar memutuskan untuk buka suara.
__ADS_1
"Bu Rania, saya mohon, Anda tenang dulu. Putri Anda memang sudah dikabarkan meninggal dunia, tapi kenyataannya dia masih hidup," ucap Ibu Mawar menghapus air matanya. Dia juga ikut menangis melihat Rania menangis.
"Maksud Ibu?" tanya kedua orang itu serentak. Mereka terkejut mendengar kalimat yang diucapkan oleh pemilik panti itu.
Sungguh membingungkan bagi mereka. Seolah-olah, Ibu Mawar ingin menguji keseriusan mereka.
"Amora memang sudah meninggal. Semua orang di sini sudah tahu kalau dia sudah meninggal. Saya memberi nama Amora pada gadis itu. Dia ditemukan warga menangis di jalanan tidak jauh dari tempat ini. Menangis sendirian, saya tanya namanya, dia tidak mau menjawab, hanya terus menangis. Hampir dua bulan dia tidak mau bicara pada siapapun," kenang Ibu Mawar menerawang jauh.
Mendengar penuturan wanita itu, hati Rania semakin terkoyak. Kasihan sekali putrinya. Terkutuklah orang yang sudah menculik putrinya.
Sampai hari ini, Dirga masih menyuruh orang untuk menyelidiki masalah ini. Sampai kapanpun dia tidak akan menyerah sebelum penculik anaknya ditemukan.
"Ibu mengatakan putri saya sudah meninggal dan semua orang di sini sudah tahu kalau dia meninggal. Tapi–"
"Seperti yang sudah saya sampaikan tadi, Amora memang sudah meninggal, tapi, Tuhan memberikan keajaiban. Amora kembali membuka matanya setelah beberapa jam dinyatakan meninggal dunia. Amora, atau Freya, masih ada di dunia ini, Tuhan kembali memberinya kesempatan untuk hidup," ucap Ibu Mawar dengan suara bergetar.
__ADS_1
Kedua mata Rania dan Dirga membola mendengar ucapan Ibu Mawar.
Ibu Mawar kemudian menceritakan keadaan yang menimpa Amora. Mulai dari dia mengenal keluarga Gerald, hingga kedua orang tuanya berniat untuk menjodohkan anak mereka dengan Amora. Namun, malang menimpa gadis itu, hingga akhirnya jatuh ke tangan hewan buas berwujud manusia, bernama Sagara.
Dirga mengepal tinju di sisi tubuhnya, geram mendengar perlakuan yang diterima Amora oleh para pria brengsek itu. Tentu saja sebagai seorang ayah, dia tidak akan memaafkan orang-orang yang sudah membuat putrinya menderita.
"Bawa kami bertemu dengan Freya, Bu," rengek Rania yang sudah merosot dari duduknya, sujud di depan Ibu Mawar dengan isak tangis yang mulai pecah. Dia ingin sekali memeluk erat putrinya dan mengatakan,
"Jangan takut, Mama ada di sampingmu sekarang."
***
Suasana rumah sakit tampak tenang siang itu, tidak banyak pasien yang masuk pada jam segitu. Ibu Mawar melangkah bersama pasangan suami istri yang sudah tidak sabar bertemu dengan Amora di ruang rawat inap.
"Kalian harus pelan-pelan, ini tidak mudah bagi Amora. Kalau dia belum bisa menerima kehadiran kalian kembali setelah sekian lama dirinya merasa dibuang, maka kalian jangan memaksa. Sentuh dia dengan kasih sayang yang selama ini kalian simpan untuknya," ucap Ibu Mawar selama menyusuri koridor rumah sakit.
__ADS_1
Ketiganya sampai di depan pintu kamar Amora. Degup jantung pasutri itu bertalu begitu kencang, bak genderang perang. Akhirnya, setelah sekian lama penantian panjang, mereka akan segera bertemu dengan putri tunggal mereka yang sudah lama hilang.
BERSAMBUNG ....