
Amora menatap sepasang suami istri yang kini sedang menangis di hadapannya. Perempuan itu masih kebingungan dengan kedatangan kedua orang itu bersama ibu panti.
Bagaimana tidak bingung, saat mereka baru saja masuk ke dalam kamar, kedua orang itu langsung menangis tersedu. Amora menatap ibu panti yang menganggukkan kepalanya.
Amora akhirnya membiarkan seorang wanita paruh baya itu memeluknya.
"Sayang, akhirnya mama menemukanmu," ucap Rania sambil terisak. Begitupun dengan Dirga yang tak berhenti mengeluarkan air mata. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu menangis melihat wanita muda yang kini terbaring di ranjang tak berdaya.
Ingatannya kembali pada cerita Ibu Mawar yang mengatakan kalau putrinya baru saja mendapatkan kekerasan fisik dan juga batin. Freya Aurora, putrinya yang selama bertahun-tahun dia cari mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Melihat keadaan putrinya, Dirga merasa hatinya sangat sakit. Dia gagal sebagai seorang ayah. Dirga gagal melindungi putrinya sendiri dari kejahatan orang lain.
"Mama?" Amora mengernyit heran mendengar ucapan wanita itu yang menyebut dirinya mama.
"Iya, Sayang, ini mama. Mama sudah dan papa kamu." Rania menatap Amora yang tampak terkejut mendengar ucapannya.
Dirga ikut mengusap kepala Amora sambil menitikkan air mata.
"Kami sudah mencarimu kemana-mana selama bertahun-tahun, Freya."
"Freya?"
"Iya, Sayang, nama kamu adalah Freya Aurora. Anak papa Dirga dan mama Rania. Ini papa kamu, Sayang. Maafkan papa karena tidak bisa melindungimu dan baru sekarang menemukanmu." Dirga kembali menangis.
Sementara Amora justru melepaskan pegangan tangan kedua orang itu dari tubuhnya.
__ADS_1
"Aku tidak punya orang tua. Sejak kecil, aku tinggal bersama ibu panti hingga dewasa," ucap Amora dengan kedua mata berkaca-kaca.
Apa-apaan ini? Setelah bertahun-tahun, kenapa tiba-tiba mereka datang dan mengatakan kalau mereka adalah kedua orang tuanya?
"Sayang, saat kamu masih kecil, kamu diculik. Kami sudah mencarimu ke mana-mana tapi tidak ketemu."
"Penculik itu membawamu saat kamu berada di sekolah. Waktu itu, umur kamu baru empat tahun, Nak." Rania mencoba menjelaskan.
Amora menggeleng pelan. Mendengar ucapan wanita yang mengaku sebagai ibunya itu membuat kepalanya berdenyut. Mimpi buruknya yang seringkali muncul tiba-tiba terlintas membuat kepalanya semakin sakit.
"Ibu ...." Amora memanggil Ibu Mawar.
Perempuan baya itu mendekati Amora kemudian memeluknya.
"Tenang, Sayang, jangan dipaksakan untuk mengingat masa lalumu. Mereka baru saja datang ke panti untuk mencarimu. Awalnya ibu ragu, tapi saat melihat foto yang mereka tunjukkan, ibu lalu membawa mereka kemari. Maafkan ibu, Nak, karena ibu tidak meminta izin dulu padamu untuk mempertemukan mereka denganmu." Ibu panti mengusap air mata Amora.
"Saya bersedia untuk melakukan tes DNA seandainya kamu meragukan papa." Dirga menatap putrinya.
"Mama juga mempunyai bukti kuat lainnya, Sayang. Tanda lahir di paha kirimu. Jika benar kamu mempunyai tanda itu, berarti kamu memang benar-benar Freya, anak mama yang dulu hilang karena diculik saat berada di sekolah." Rania ikut menimpali.
Amora menatap Ibu Mawar yang langsung menganggukkan kepala.
"Apa maksud dia tanda lahir itu tanda merah yang ada di paha kiri aku, Bu?" Amora menyibak sedikit selimutnya kemudian menunjukkan pada ibu panti. Rania kemudian ikut melihatnya saat Amora mengizinkannya.
Amora hanya memperlihatkan tanda itu tanpa membuka semua selimutnya. Amora memakai pakaian rumah sakit yang sangat longgar hingga memudahkannya mengangkat celana sampai sebatas paha. Namun, wanita itu tetap menutupi kakinya dengan selimut.
__ADS_1
Rania menutup mulutnya karena terkejut. Air matanya kembali tumpah.
"Kamu memang benar-benar Freya, Sayang. Anak mama." Rania terisak sambil memeluk Amora. Namun, Amora yang merasa tidak nyaman melepaskan pelukannya.
"Maaf!" ucap Amora.
Rania mengangguk mengerti. Ia mengingat kata-kata Ibu Mawar sebelum masuk ke dalam kamar Amora beberapa saat lalu. Mereka tidak akan memaksa Amora untuk mengakui mereka sebagai orang tuanya.
Rania kemudian memeluk Dirga yang juga menangis. "Dia memang Freya, anak kita yang hilang," ucap Rania disela tangisnya.
Amora menatap kedua orang yang mengaku sebagai mama dan papanya itu dengan kedua mata berkaca-kaca. Sementara itu, Dewa yang baru saja datang merasa heran karena di kamar Amora terlihat ramai karena ada beberapa orang yang datang dan suara isak tangis yang terdengar. Padahal, tadi Dewa meninggalkan Amora sendirian.
"Amora, apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Dewa langsung menerobos masuk setelah meletakkan beberapa kantong berisi makanan di atas sofa.
Lelaki itu mendekati Amora yang sedang dipeluk oleh Ibu Mawar.
"Ada apa dengan Amora, Bu? Kapan Ibu datang? Kenapa Ibu tiba-tiba ada di sini?" Dewa kembali melayangkan pertanyaan dengan nada khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja, ada orang yang tiba-tiba datang ke panti dan mengaku sebagai kedua orang tuaku," ucap Amora sambil menatap kedua orang di hadapannya.
Dewa menoleh ke arah pandang Amora.
"Om Dirga?"
"Dewa? Kamu di sini?"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....