DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
KRITIS


__ADS_3

Mendengar Sagara menyalahkannya, Rima merasa kesal. Rima merasa kalau Sagara itu benar-benar bodoh. Apa katanya? Lebih baik terjerat hukum daripada melihat Amora kehilangan bayinya?


Rima tersenyum sinis. Apa Sagara pikir, dia akan membiarkan itu terjadi? Amora adalah benalu yang harus segera disingkirkan. Rima tidak sudi mempertahankan Amora menjadi menantunya.


Wanita itu tidak pantas menjadi bagian dari keluarganya. Yatim piatu seperti Amora mana pantas bersanding dengan Sagara? Pewaris tahta dari beberapa perusahaan milik Aditya Gunawan.


"Mama sudah berusaha merawat Amora, Saga. Tapi kalau Tuhan berkehendak lain, mama bisa apa?" ucap Rima sok bijak.


Padahal, di dalam hati, ia berharap keadaan Amora semakin parah dan bila perlu, wanita itu juga menyusul calon anaknya yang terlebih dahulu tiada.


Katakanlah Rima memang jahat. Kebenciannya pada Amora membuat wanita itu tidak punya hati dan menghalalkan segala cara untuk melenyapkan wanita itu.


"Kalau Mama menjaganya, tidak mungkin Mama tidak tahu kalau Amora mengalami pendarahan lagi. Mama bahkan tidak ada saat aku datang kemarin. Mama meninggalkan Amora di kamar dalam keadaan sekarat!" teriak Sagara.

__ADS_1


"Saga!" Rima merasa kesal karena Sagara berteriak padanya.


"Mama hanya meninggalkannya sebentar. Saat mama tinggal, Amora masih baik-baik saja. Kau tanyakan saja pada Laura kalau tidak percaya!" Emosi Rima terpancing mendengar Sagara yang begitu membela Amora.


Sagara tidak mencintai Amora, tetapi, kenapa dia begitu marah melihat Amora keguguran? Seharusnya dia merasa senang bukan? Jika Amora kehilangan bayinya, maka Sagara akan dengan mudah meninggalkan wanita itu. Bukankah tujuan Amora menikah dengan Sagara karena dirinya hamil? Jadi, saat bayinya sudah tidak ada, wanita itu tidak berhak lagi untuk tinggal bersama dengan Sagara.


"Lagipula, bukankah kamu juga tidak menginginkan bayi itu?" Rima menatap Sagara dengan tajam.


"Atau jangan-jangan, kamu sudah mulai menyukai wanita itu? Ingat, Sagara! Kamu punya Laura. Kamu jangan lupa kalau sebentar lagi kamu juga akan menikah dengan Laura!" Rima sungguh merasa kesal dengan Sagara.


"Sayang, apa benar kamu menyukainya? Kamu tidak lupa bukan, kalau kamu sudah berjanji akan menikahiku dan menceraikan wanita itu setelah anaknya lahir? Jangan bilang kalau kamu melupakan semua janjimu, Saga!" Laura menatap Sagara dengan kedua mata berkaca-kaca.


Dalam hati, wanita itu sangat ingin memaki Sagara yang seolah sedang menangisi Amora dan bayinya.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan, kau benar-benar jatuh cinta padanya?"


"Laura ...." Sagara meraih tubuh Laura yang kini bergetar karena menangis.


"Maafkan aku, Sayang, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku hanya khawatir terjadi apa-apa pada Amora. Dia baru saja mengalami keguguran dan saat ini keadaannya juga tidak sedang baik-baik saja. Aku mohon, kamu mengerti dengan keadaanku sekarang." Sagara menatap Laura yang masih menangis.


"Aku hanya takut kehilangan kamu, Saga. Aku mencintaimu. Aku takut kamu melupakan aku dan jatuh cinta pada Amora. Aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu, Saga."


Sagara kembali memeluk Laura. Merasa tidak tega melihat Laura menangis seperti itu.


"Maafkan aku Laura. Tapi aku benar-benar sangat mencemaskan Amora. Aku takut terjadi apa-apa padanya. Amora sudah kehilangan bayinya karena aku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Amora saat mengetahui kalau bayinya sudah tidak ada lagi dalam perutnya," batin Sagara.


Saat ini, pikirannya memang tertuju hanya pada Amora. Sagara takut terjadi apa-apa pada wanita itu. Sagara sungguh merasa gelisah dan ketakutan. Dia takut kehilangan wanita yang selama ini hanya dia perlakukan sebagai budak nafsunya.

__ADS_1


Sagara dan ibunya masih berdebat. Sementara itu, di dalam ruangan operasi, dokter sedang sibuk menangani Amora yang tiba-tiba kritis.


__ADS_2