
Beberapa waktu berlalu. Setelah Freya mengadu tentang Rima yang mengatakan kalau Sagara mencintainya karena wajahnya mirip dengan Amora, Freya kembali membuat Rima beberapa kali merasa kesal.
Wanita itu selalu terlihat baik di mata Sagara dan Aditya, tetapi, saat bersama Rima, Freya selalu saja membuat wanita itu kesal. Freya bahkan terkadang sengaja mengerjai Rima tanpa sepengetahuan Rima.
Seperti saat ini, karena hujan deras, Freya yang saat itu datang ke rumah Sagara karena undangan makan malam dari Aditya terpaksa menginap di rumah pria itu.
Sebenarnya, Freya bisa saja pulang meskipun hujan deras, toh, dia pulang menggunakan mobil, tidak akan kehujanan jika Freya memang berniat pulang.
Namun, kekhawatiran Sagara dan Aditya yang takut terjadi apa-apa jika Freya menerobos derasnya hujan membuat wanita itu akhirnya menurut untuk menginap di rumah besar yang menyimpan banyak kenangan pahit dalam hidupnya itu.
Jalanan licin dan angin kencang menjadi alasan Sagara dan Aditya untuk memaksa Freya tinggal dan menginap. Berbeda dengan Sagara dan Aditya yang begitu senang karena Freya menginap di sana, Rima justru merasa marah melihat perhatian suami dan putranya yang begitu perhatian pada Freya.
Malam itu, Sagara masuk ke dalam kamar tamu, kemudian memberikan baju tidur yang tidak asing di mata Freya. Baju tidur itu adalah baju yang dulu sering ia pakai saat masih menjadi Amora.
Semenjak menjalin hubungan dengan Sangat, pria itu tetap tidak menceritakan pernikahannya dengan Amora. Sepertinya, Sagara memang ingin membohongi Freya dari awal sampai akhir tentang status pernikahannya dengan Amora.
"Terima kasih. Baju ini terlihat masih sangat bagus meskipun bukan baju baru. Kenapa kamu bisa menyimpan baju seperti ini di lemarimu?" Freya pura-pura merasa heran. Padahal dia tahun kalau baju itu adalah baju miliknya.
Sagara tersenyum canggung. Pria itu merasa tidak enak kalau bicara jujur pada kekasihnya kalau baju itu adalah baju milik Amora.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja menemukannya di lemariku saat ingin mengambilkan kemeja untukmu. Itu baju Amora. Seperti baju itu terselip di lemariku. Padahal, aku yakin sudah menyingkirkan semuanya," terang Sagara dengan dengan raut wajah menyesal.
Sedangkan Freya tersenyum manis. "Sepertinya, saat menjadi kekasihmu, Amora sering menginap di rumah ini. Sampai-sampai, kamu masih menyimpan baju tidur miliknya."
"Sayang ...."
Freya mencibir mendengar kata sayang yang diucapkan oleh Sagara.
"Aku akan memakainya. Kamu keluarlah dulu." Freya menatap Sagara yang langsung tersenyum kemudian memeluknya.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu."
"Sepertinya, kamu benar-benar jatuh cinta pada Freya, Saga. Kamu bahkan sudah melupakan semua tentang Amora," batin Freya.
Freya alias Amora kemudian mengganti bajunya dengan baju tidur yang diberikan oleh Sagara. Setelah memakai baju itu, sebuah ide terlintas di kepalanya.
"Sepertinya, mengerjai nenek lampir itu jauh lebih menyenangkan daripada berdiam diri di kamar." Freya tersenyum licik.
Wanita itu kemudian berdandan seperti Amora. Wajah cantik, polos, tanpa makeup. Lemah lembut dan sangat ramah pada semua orang. Gadis lemah yang tidak bisa melawan kekejaman suami dan mertuanya.
__ADS_1
"Amora yang malang. Seandainya dulu kamu tidak lemah, sampai sekarang kamu pasti masih hidup," batin Freya.
Freya keluar dari kamar menuju dapur. Wanita itu menuruni tangga dengan pelan. Kamar yang ditempati Amora sebenarnya bukanlah kamar tamu, melainkan kamar yang dulu dipergunakan oleh Sagara saat dirinya sedang tidak ingin tidur dengan Amora.
Sagara sengaja menempatkan Freya di kamar itu agar wanita itu tidak merasa kesepian karena sendirian tidur di lantai bawah.
Semua ruangan di rumah itu terlihat gelap karena hari sudah malam. Amora mengambil segelas air minum kemudian wanita itu kembali naik ke lantai atas menuju kamar Rima yang terletak tidak jauh dari kamarnya.
Freya tersenyum licik. Wanita itu kemudian membuka pintu kamar Rima yang kebetulan tidak dikunci. Wanita paruh baya itu sepertinya lupa untuk mengunci pintu.
Freya berani masuk ke dalam kamar itu karena tahu, jika Rima tidur sendirian di sana. Awalnya, Freya sangat terkejut karena Aditya dan Rima ternyata tidak tidur dalam satu kamar, tidak seperti pasangan suami istri lainnya. Namun, itu justru mempermudah Amora untuk melancarkan aksinya.
Rima yang berusaha membaringkan tubuhnya dan mematikan lampu merasa terkejut melihat sosok wanita cantik yang kini berdiri di pintu.
"A–Amora ...." Kedua mata Rima membola melihat wajah pucat yang tersenyum ke arahnya. Sosok wanita itu bahkan memakai baju yang sama seperti yang biasa dipakai oleh Amora saat masih hidup.
"Ibu ... Kenapa Ibu tega membunuhku? Apa salahku padamu, Ibu?"
"A–Amo–ra ...."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....