Destiny Of Love

Destiny Of Love
Maafkan aku!


__ADS_3

Nayla membuka sweater yang di pakainya dan mengikatnya di perut dengan kencang. Dengan tenang ia berjalan kedepan. "Ayo!" Tantang Nayla lagi.


"Heh... Gadis kecil. Berani juga lo!" cibir salah satu preman.


"Udah sikat aja bos!" Seru preman satunya lagi, preman itu melayangkan tinjunya pada wajah Nayla.


"Emang nya gue kamar mandi di sikat." Seru Nayla seraya mengelak pukulan tersebut dengan cepat. Dan satu pukulan manis berhasil mendarat di pipi preman tersebut.


"Manis kan?" Nayla sedikit membungkukkan badan mengejek sang preman yang jatuh tersungkur karena pukulannya itu.


Tak menunggu lama, kedua preman lainnya pun ikut menyerang Nayla, tapi dengan cekatan Nayla terus menangkis setiap serangan mereka, dan saat mereka lengah dengan sigap Nayla menghantam kan pukulannya tepat di perut pria satu dan mendendang kaki pria yang satu nya lagi.


Kreek....


Terdengar suara tulang kaki yang patah akibat tendangan itu. "Ah, maaf gue gak sengaja." Kelakar Nayla pura-pura terkejut sambil membekap mulutnya dengan telapak tangannya.


Kedua orang itu pun tersungkur dan terkulai lemas tak berdaya, satu preman yang pertama mendapatkan bogem mentah dari Nayla tanpa di ketahui mengeluarkan sebuah pisau dari dalam saku bajunya lalu dengan cepat akan menghujamkan nya ke tubuh Nayla.


"Nayla awas!" Teriakan Rey membuat Nayla menoleh, tapi ternyata kalah cepat dengan sebuah tusukan yang mendarat di perut Rey yang menggagalkan pisau itu menembus tubuh Nayla.


Nayla begitu terkesiap saat mendapati Rey sudah berdiri membelakanginya. Tanpa dia tahu kalau Rey telah di tusuk preman itu. Seketika itu tubuh Rey langsung ambruk, dan sontak Nayla menangkap tubuh Rey yang terkulai lemas.


" Bang rey, kamu kenapa " Nayla panik saat dia melihat darah segar mengalir dari perut Rey. "Astaga darah." Gumamnya sambil melebarkan mata.


Nayla begitu geram, ia mengepalkan tangannya dengan kuat lalu menatap preman itu dengan tatapan yang mematikan. Ingin sekali ia menelan orang itu hidup - hidup. Preman itupun ketakutan dia beringsut mundur beberapa langkah lalu menjatuhkan pisaunya dan mengangkat kedua tangannya.


"Aku tidak sengaja." Ucapnya menyangkal penuh ketakutan.


Nayla mendengus,tidak sengaja bagaimana? Apa karena salah sasaran jadi preman itu mengatakan tidak sengaja. Huh sudah tidak tahan, emosinya meluap berkali-kali lipat. Ingin sekali patahkan tangan preman itu.


Tapi preman itu dengan cepat berbalik badan kemudian lari dari sana dengan sangat kencang di ikuti oleh kedua temannya walau dengan susah payah karena kakinya pincang sebelah.


Nayla berdiri dan hendak mengejar preman- preman itu, tapi niatnya terurungkan saat tangan Rey meraih tangan Nayla dan menggenggamnya erat sambil mengerang kesakitan. Nayla seketika tersadar jika Rey butuh pertolongan cepat. Ia pun kembali berjongkok dan mencoba melakukan pertolongan pertama, dia membuka sweater yang ada di perut nya dan mengikatkannya pada luka Rey agar pendarahannya sedikit tersumbat.


Nayla berteriak minta tolong mungkin ada orang yang bisa membantu Rey membawa nya ke rumah sakit tapi disana sangatlah sepi tidak ada satu orang pun yang lewat di daerah itu. Lalu dengan susah payah Nayla memapah Rer menuju ke motor nya dia berniat untuk membawa Rey ke rumah sakit dengan menggunakan motor tersebut.


Nayla begitu khawatir, ia berusaha agar tidak membiarkan Rey kehilangan kesadarannya. Jika itu terjadi ia akan kesulitan saat membawanya ke rumah sakit dengan hanya menggunakan motor.


Nayla terus saja menepuk - nepuk pipi Rey berupaya agar Rey tetap dalam keadaan sadar saat dirinya memapah tubuh Rey menuju motornya.


"Tolong tetap sadar bang, aku akan membawamu ke rumah sakit." Pinta Nayla dengan begitu cemas.


Nayla membantu Rey untuk naik keatas motornya dan Nayla duduk di depannya. Ia melingkarkan tangan Rey ke perutnya agar Rey tidak terjatuh. "Bertahanlah bang!" Pintanya lagi.

__ADS_1


Nayla mulai melajukan motor nya dengan terus mengajak Rey berbicara memastikan Rey tetap tersadar. Dan ketika dia merasa pegangan Rey mulai melemah seketika dia meraih tangan Rey dan memegangnya dengan kuat agar tetap melingkar di perut Nayla.


"Bang Rey jangan tidur! Sebentar lagi kita sampai." Teriak Nayla, untung saja ia masih bisa melajukan motornya dengan baik walau hanya berpegangan dengan satu tangannya saja.


Tidak ada jawaban dari mulut Rey, ia hanya bisa meringis kesakitan sambil memeluk tubuh Nayla.


Beruntung jarak rumah sakit tidak terlalu jauh, karena Rumah sakit itu memang berdekatan dengan kampus Nayla, mereka sudah tiba di depan pintu masuk rumah sakit milik keluarga Rey dan Nayla langsung berteriak minta tolong kepada suster disana untuk membantu nya menurunkan Rey dari motornya.


"Suster tolong kami!" Teriaknya.


Dengan cepat dua orang suster berlarian keluar membantu Nayla dengan membawa kursi roda dan mendudukan Rey disana ada satu dokter yang kebetulan sedang berada disana dan ia mengenal Rey dengan baik.


"Tuan Rey." Dokter itu begitu terkejut saat melihat pemilik dari rumah sakit tempat nya bekerja saat ini terluka dan berlumuran darah.


"Cepat bawa dia ke ruang ICU!" Perintah dokter itu pada susternya.


Nayla terpaku dia merasa bingung harus berbuat apa lagi. Tubuhnya sedikit gemetar, ia berusaha mengatur nafasnya yang masih tersengal. Hah, gadis itu benar-benar tidak percaya dengan kejadian yang di alaminya saat ini. Hingga satu orang suster menepuk bahu gadis itu. "Mba, tolong buat laporan pendaftaran dulu!" Pinta suster itu. Walaupun Rey adalah pemilik rumah sakit, tetap saja namanya harus masuk data sesuai dengan peraturan yang ada.


Nayla terhenyak. "Ah, iya suster" Sahutnya cepat. lalu Nayla mengikuti suster itu dan menulis data Rey disana, kemudian dia segera menyusul Rey ke ruang ICU.


Setibanya di depan pintu ruang ICU yang sudah tertutup Nayla mengingat sesuatu. "Ah iya, aku harus menghubungi Rere dia harus tahu keadaan abangnya sekarang." Gumam Nayla, dia langsung merogoh saku celananya dan mengambil ponsel di dalamnya, dengan cepat ia mencari nomor ponsel Rere dan membuat panggilan telepon pada adik kandung Rey tersebut.


Tuut...tuut....tuut....


"Ada apa Nay?" Tanya Rere di ujung telepon.


"Re, cepat datang ke rumah sakit keluarga lo! Abang lo di tusuk orang." Tukas Nayla tanpa basa basi lagi.


"Apa? Bagaimana ceritanya?" teriak Rere begitu terkesiap mendengarnya.


"Nanti gue ceritain, lo kesini dulu! Abang lo di ruang Icu sekarang." Seru Nayla.


"Oke .... Lo tunggu di situ jangan kemana-mana!" ucap Rere panik, Rere langsung menemui mama nya di kamar nya dan menceritakan perihal kejadian yang menimpa abangnya tersebut, bu Rania sangat terkejut mendengarnya dan mereka bergegas langsung menuju ke rumah sakit keluarga mereka.


Sesampainya di rumah sakit, Rere yang membawa mobil memarkirkan mobil nya di tempat parkir rumah sakit dan kedua nya bergegas turun dengan berlari kecil menuju ke ruang ICU seperti yang di ceritakan oleh Nayla di telepon.


Ketika sampai di depan ruang ICU, terlihat Nayla sedang berjalan mondar mandir di depan pintu ruang ICU tersebut dengan sesekali menoleh pada pintu yang masih tertutup rapat. Wajahnya tampak gusar hingga ia tidak sadar dengan kedatangan Rere dan juga mama Rania.


"Nayla." Panggilan yang terdengar dari ujung koridor rumah sakit itu membuat Nayla sontak menoleh.


"Rere .... Rante Rania." Ucap Nayla terdengar lirih. Ada perasaan bersalah bergemuruh dalam hatinya. Jika bukan karena pergi dengannya Rey tidak akan terluka seperti ini.


"Bagaimana keadaan anak tante Nay?" Tanya bu Rania sambil memegang kedua bahu Nayla.

__ADS_1


Nayla menunduk rasa bersalahnya terhadap kejadian ini, membuatnya tak berani menatap wajah mama Rania. "Dia masih di ruang ICU tante, tadi dia di tusuk oleh preman saat mau menyelamatkan aku." Ucap Nayla dengan suara rendahnya.


Bu Rania menggeleng dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu sedu. Merasa tak terima dengan kejadian yang menimpa anaknya. Rere membantu mama nya untuk duduk di kursi tunggu di depan ruangan itu.


"Maaf kan aku tante! Maaf kan aku!" Nayla begitu memelas, ia berlutut di depan bu Rania berharap wanita itu memaafkan kesalahannya. Tak terasa bulir air mata Nayla pun tumpah disana.


Mama Rania hanya diam saja, dia tidak menyangka anaknya akan mengalami hal seperti itu, hatinya begitu ketakutan jika sesuatu yang buruk akan terjadi dan ia harus kehilangan anak sulungnya.


"Ini kecelakaan Nay, bukan salah Lo." Rere yang berdiri di samping mamanya ikut menimpali, dirinya juga sedih dengan kejadian ini tapi dia sadar Nayla tidak bersalah, toh yang mengajak Nayla ke tempat itu adalah abangnya sendiri. Mungkin ini sudah menjadi bagian dari takdir abangnya. Ia berharap nyawa abangnya bisa terselamatkan.


Nayla mendongak, ia tatap wajah Rere dengan tatapan sendu. "Tapi dia terluka gara - gara gue Re, pisau itu harusnya mengarah ke gue." seru Nayla di sela tangisannya, emosinya begitu meluap saat mengingat Rey jatuh terkulai di hadapannya.


Bu Rania memegang tangan Nayla lalu mendekap tubuh mungilnya dengan erat "Kamu tidak salah sayang, tante percaya sama kamu. Kita berdoa saja semoga Rey baik-baik saja ya!" Pinta bu Rania berusaha berpikir jernih, dan lebih berbesar hati agar Nayla tidak terus-menerus menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Rey.


Nayla melemah dia hanya menggangukkan kepala nya pelan. Air matanya terus saja mengalir hingga membasahi baju bu Rania. Tak lama pintu ruang ICU pun terbuka, sontak keduanya melepaskan pelukan mereka.


Bu Rania dan Nayla pun beranjak berdiri, menghampiri seorang dokter yang keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan anak saya Dokter?" tanya bu Rania begitu penasaran dan terlihat khawatir.


"Tuan Rey masih belum sadarkan diri, luka tusuknya begitu dalam kami sudah melakukan menyumbatan pada luka nya agar tidak mengeluarkan terlalu banyak darah. Tapi ada sedikit masalah yang mengharuskan tuan Rey untuk melakukan operasi. " Ujar Dokter itu panjang lebar.


"Operasi?" Kata itu keluar dari mulut ketiga perempuan itu hampir bersamaan.


"Kenapa harus operasi dokter? Apa kakak saya dalam keadaan kritis?" tanya Rere dengan panik.


"Lukanya begitu dalam hingga sedikit mengenai lambung nya, kita harus melakukan operasi untuk mengatasi lambung tuan Rey yang hampir bocor." Dokter menjelaskan dengan rinci. Mendengar luka anaknya yang begitu serius mama Rania hampir saja limbung, untung saja Nayla cepat menangkap tubuh wanita paruh baya itu dan membantunya untuk kembali berdiri dengan baik.


"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dokter, tolong selamatkan dia!" Pinta bu Rania dengan penuh harap. Air matanya semakin deras saja.


"Nyonya Rania jangan khawatir kami akan melakukan yang terbaik, terlebih lagi tuan Rey adalah atasan kami, kami akan berusaha keras untuk menyelamatkannya." ujar dokter itu dengan sungguh-sungguh.


"Terimakasih dokter." Ucap mama Rania.


Dokter itu tersenyum kemudian melangkah pergi, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti dan berbalik lagi ke arah mama Rania. "Kami akan menyiapkan operasinya dulu, tolong tanda tangani surat persetujuan keluarga! Mungkin setengah jam lagi akan berlangsung, saya harap kalian tenang dan banyak berdoa untuk kesembuhan tuan Rey, kami akan berusaha." Ujar Dokter mengingatkan.


"Pasti dokter, kami akan terus berdoa untuk keselamatan bang Rey." ucap Nayla dengan yakin.


Dokter pun meninggalkan mereka bertiga dan bersiap melakukan operasi untuk Rey. Semuanya menunggu dengan penuh harap, Nayla sangat ketakutan jika sesuatu terjadi pada Rey. Rasa bersalahnya semakin menguat saja dalam pikirannya. Nayla masih berpikir jika apa yang terjadi pada Rey itu karena kesalahannya.


****


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2