Destiny Of Love

Destiny Of Love
Persidangan


__ADS_3

Dua minggu pun berlalu, atas desakan Rey akhirnya Dimas tidak menggubris ancaman Panji sebelumnya, Dimas percaya sepenuhnya pada Rey, dan hanya bisa berdoa untuk kebebasan Nayla.


Tepat di hari persidangan, Nayla sudah duduk di kursi pesakitan. Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya kalau dia akan mengalami peristiwa seperti ini. Terlihat orang tua Nayla, Ardi, kak Nina, dan juga Rere beserta mamanya turut hadir dalam persidangan. Pengacara yang di persiapkan untuk Nayla pun sudah siap dengan beberapa berkas di tangannya. Begitu juga dengan penuntut umum yang akan menuntut Nayla dengan hukuman yang seberat-beratnya.


Persidangan pun akan di mulai, bapak hakim yang bijaksana telah memasuki ruang sidang. Tapi ada seorang yang tidak muncul batang hidungnya disana, orang itu adalah Rey. Entah kenapa disaat semua hadir mendukung Nayla tapi dia malah menghilang.


Nayla yang sadar akan itu merasa hatinya sedikit sesak. "Apa dia menyerah? Mungkin memang ini takdir yang harus ku jalani, tidak akan ada orang yang mau dengan orang pesakitan sepertiku. Ya ... Allah, tolong aku! Berikan keajaibanmu hari ini!" Gumam Nayla sambil memejamkan matanya. Bersamaan dengan air mata yang ikut tersapu dan mengalir di pipinya.


Persidangan pun berjalan lancar, hakim memberi waktu satu jam untuk beristirahat. Pihak Nayla belum bisa menunjukkan bukti akurat untuk pembelaannya. Tina yang duduk di kursi hadirin langsung menemui Nayla kemudian memeluknya. "Sabar ya sayang! Kamu harus kuat!" Ucap Tina sambil terisak walaupun bibirnya berkata apa, nyatanya ia juga belum bisa menerima.


"Iya bu." Nayla menganggukkan kepalanya masih dalam pelukan sang ibu. Walaupun dia berusaha tenang, rasa ketakutan itu tetap saja menyerang. Terlebih lagi wajah Rey belum juga terlihat di persidangan.


***


Istirahat pun berakhir, persidangan kembali di buka. Nayla duduk dengan tenang sambil tak henti berdoa.


"Bapak hakim yamg terhormat, saya meminta izin untuk bertanya kepada saksi penuntut umum. "Pinta Pengacara Nayla untuk bertanya pada Nina yang saat itu berdiri di tempat saksi.


"Dipersilahkan!" Suara hakim terdengar berwibawa.


Pengacara membungkukkan badannya tanda berterimakasih, lalu berbalik arah pada saksi sebagai kakak kandung dari korban.


"Sodari Nina, apa benar Anda kakak kandungnya korban atau sodari Ana?" Tanya pengacara memulai pertanyaan.


"Betul." jawab Nina.


"Waktu terjadi penikaman itu, apa Anda sedang bersama korban?" Tanya pengacara lagi.


Nina menggeleng. "Tidak, saya sedang ada di rumah, saya tidak tahu adik saya di tikam." Jawab Nina apa adanya.

__ADS_1


Pengacara itupun tersenyum. "Lalu darimana Anda tahu kalau adik Anda itu di tikam?"


Nina terdiam sejenak, kata-katanya seperti tercekat. "Saya .... Mendapatkan sebuah panggilan telepon dari seorang pria, dia memberitahukan saya jika .... " Ucapan Nina terjeda bersamaan dengan hembusan nafas kasar yang keluar dari hidungnya.


"Jika apa?" Sahut pengacara tidak sabar.


Nina menghela nafas. "Jika ada yang mencoba membunuh adik saya. Dan dia di bawa ke rumah sakit kota."


"Apa anda langsung percaya?" Tanya pengacara lagi.


"Awalnya saya tidak percaya, tapi ketika saya mencoba menghubungi nomor telepon adik saya, nomornya tidak aktif. Jadi saya langsung pergi ke rumah sakit bersama sodara saya. Dan benar adik saya sedang dalam perawatan karena telah di tikam orang." Tutur Nina menjelaskan.


Pengacara terdiam sejenak, sebelum ia melanjutkan lagi pertanyaannya. "Apa Anda tahu jika nona Nayla yang membawa adik anda ke rumah sakit?"


"Iya."


"Lalu, kenapa Anda jadi membuat laporan kalau sodari Nayla lah yang menikam adik Anda, padahal barusan Anda bilang sendiri kalau dialah yang menolong adik Anda." Dengan nada sedikit tinggi pengacara mencoba menekan saksi.


Nina menelan ludahnya. "Sa ... saya, saya hanya percaya dengan apa yang saya lihat di CCTV itu." jawab Nina dengan gugup.


"Kapan anda melihatnya?"


"Besok paginya, polisi menyuruh saya datang ke kantor dan menunjukkan bukti itu, awalnya saya juga tidak percaya tapi tidak ada orang lain disana selain Nayla dan adik saya. Kalau bukan dia siapa lagi yang melakukannya." Seru Nina sedikit emosi.


Pengacara memegang dagunya sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Berarti masih dugaan, ya."


Pengacara itu pun menoleh ke arah hakim "Maaf yang mulia, anda bisa dengar sendiri bahwa Nayla lah yang membawa Ana ke rumah sakit, mana mungkin seorang yang sudah melukai malah menolongnya kembali." Penuturan pengacara itu cukup masuk di akal, hakim agung sejenak berpikir secara logika.


"Keberatan yang mulia, pihak pembela hanya memutar-mutar masalah saja, sudah jelas terlihat di CCTV memang tersangka yang membawa korban keluar dari gang buntu itu." Ucap Penuntut umum sambil berdiri, dia menyanggah alibi yang di sebutkan oleh pihak pengacara Nayla.

__ADS_1


"Bisa saja itu tindakan bunuh diri. Kita sama-sama tidak melihat saat pisau itu benar-benar tertancap di perut korban bukan?" Tukas pengacara dengan yakin.


"Keberatan di tolak , lanjutkan pembela!" sahut hakim.


"Terimakasih yang mulia." Balas pengacara sambil membungkuk setengah badan.


"Kita bicara logika saja. Tadi saksi mengatakan kalau dia di hubungi oleh seseorang dengan nomor baru, padahal saat itu ponsel korban tidak ada di tempat kejadian, dan sodari Nayla juga tidak mempunyai nomor kakak korban, juga tidak ada satupun saksi disana, bagaimana bisa seseorang langsung memberi kabar kepada kakak korban, jadi darimana orang itu bisa tahu nomor kakak kandung korban secepat itu." Ucap pengacara.


Pernyataan pengacara bisa di terima oleh akal sehat, hadirin disana juga tampak riuh dengan berbagai pendapat. Sampai hakim agung harus mengetuk palunya agar para hadirin bisa kembali tenang.


"Semua yang Anda katakan memang masuk akal tuan pengacara, tapi tanpa di sertai bukti yang kuat. Semua alibi dan pendapat tidak akan bisa mempengaruhi fakta yang akurat.


Pengacara Nayla pun terdiam, ia memang mampu membuat hakim sedikit percaya dengan alibi nya, tapi sayangnya alibi itu tidak cukup. Karena semua bukti hampir semua menyudutkan tersangka. Dan satu-satunya yang bisa menolong Nayla adalah hadirnya Ana. Apa iya Ana harus kembali dari alam kuburnya?


"Saya mengerti yang mulia, untuk itu kami mohon waktu kepada pengadilan untuk memberikan waktu lagi kepada kami, agar bisa menyelidiki kasus ini lebih dalam lagi, agar kami bisa membawa bukti yang lebih meyakinkan kalau sodari Nayla hanya di jebak oleh seseorang." Pengacara mengajukan banding atas kasusnya tersebut.


Tapi ternyata takdir berkata lain, seseorang yang tiba-tiba datang ke dalam ruangan sidang menyita perhatian semua orang.


Terkecuali Nayla, gadis itu tampak sedang khusyuk berdoa sambil menautkan kedua tangannya dengan erat. Kasak kusuk suara hadirin yang terdengar riuh membuat telinga Nayla terasa penuh. Tapi tak membuat gadis itu penasaran untuk mengalihkan pandangan.


"Hadirin diharap tenang!" Suara sang hakim agung kembali terdengar, dengan diiringi oleh ketukan palunya yang seakan menghipnotis para hadirin menjadi hening seketika.


Pengacara yang tadi sempat minta sidangnya di tunda, kini menarik kembali permintaannya "Mohon maaf yang mulia, sepertinya pengajuan saya untuk meminta waktu saya tarik kembali, hari ini juga saya main sidang ini segera mendapatkan hasilnya." Ucap pengacara dengan penuh keyakinan.


***


Jeng...jeng....jeng....siapakah yang datang.??


Tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa kasih vote dan komentar, ya. Ketik apa aja boleh yang penting isinya membangun buat karya amih yang receh ini. Maafkan bila masih banyak typo. Happy Reading.

__ADS_1


Follow igeh amih ya @amih_amy


__ADS_2