Destiny Of Love

Destiny Of Love
Nayla Sudah Kembali


__ADS_3

Keesokan hari nya, Ayu membantu Nayla mempersiapkan keperluannya untuk kembali ke kota.


" Teteh yakin mau pulang sekarang ?" tanya Ayu, sambil memperlihatkan wajahnya yang di tekuk muram.


Nayla yang sedang mengganti perbannya sendiri pada kakinya mendongak ke arah Ayu.


" Maaf kan teteh Nay ya, teteh udah kangen banget sama keluarga teteh " Nayla tidak ingin melukai hati gadis kecil itu, tapi dia benar - benar merindukan keluarganya.


" Gak apa - apa teh, Ayu cuma nanya aja, nanti kalau sudah ketemu sama keluarga teteh, titip salam ya dari Ayu " Ayu berkata dengan menyunggingkan senyumannya yang terlihat manis.


" Tentu saja sayang " Ucap Nayla sambil menangkup kedua pipi Ayu dengan kedua telapak tangannya, kemudian kembali pada aktifitasnya mengganti perban.


" Memangnya masih harus di perban ya teh ?" tanya Ayu, kini dia beralih memperhatikan Nayla yang dengan telaten membalut sebuah kain panjang pada kakinya yang sebelumnya sudah di olesi oleh obat hasil racikan aki Asep.


" Buat jaga - jaga aja, biar tulang nya gak terlalu banyak bergeser lagi kata aki, nanti kan perjalanannya jauh. "


" Ayu ikut nganterin nyampe jalan utama ya teh ?"


" Nanti kamu cape "


" Ayu gak cape kok, Ayu ikut ya.. ! " Ayu memasang wajah melas, berharap Nayla mengijinkan untuk ikut pergi mengantarnya.


Nayla mengulas senyum " Bilang dulu sama aki ! aki mau gak ngajak Ayu." Nayla sedikit menggoda gadis kecil yang ceria itu, karena dia juga akan di antar oleh aki Asep menuju jalan utama di desa luar hutan itu, takutnya malah aki nya yang keberatan.


" Aki pasti setuju, Ayu kan sering nemenin aki jalan - jalan di hutan kalau lagi nyari kayu bakar. " Seru Ayu dengan hebohnya, dia pun langsung berlari ke luar dari kamar Nayla sambil berteriak memanggil - manggil aki Asep. Nayla hanya menggeleng - gelengkan kepalanya pelan, melihat tingkah ceria Ayu, dia pasti akan merindukan gadis kecil itu.


Setelah beberapa saat Ayu kembali menemui Nayla yang kini sudah bersiap untuk keluar dari kamarnya, dan segera melakukan perjalanan untuk pulang ke kota.


" Teteh, aki sudah setuju Ayu ikut, ayo pergi !" Ayu berjingkrak - jingkrak dengan heboh nya lalu menyaut tangan Nayla dan menggandengnya untuk keluar kamar. Nayla tersenyum tipis dan mengikuti ajakan Ayu.


" Neng udah siap ?" Tanya Aki Asep saat mereka sudah berada di luar rumah.


Nayla mengangguk " Ini bekal buat nanti di jalan ya neng, hati - hati di perjalanannya ! tong hilap ka emak nya neng ( Jangan lupa sama emak ya neng ) ! " Mak Lastri memberikan sebuah bungkusan berupa bekal makanan dan minuman untuk perjalanan Nayla, Nayla menerima bekal itu, kemudian mak Lastri memeluk tubuh Nayla sambil menitikkan air matanya, hingga membuat baju yang di pakai Nayla basah karenanya.


" Mak jangan nangis ! Nay pasti selalu ingat kalian, terima kasih atas semuanya. Jika ada kesempatan, Nayla akan datang kesini lagi nanti. Kalian sehat - sehat terus ya di sini. " Nayla juga tak kuasa menahan air mata yang terus mendesak untuk keluar dari pelupuk matanya, dengan cepat dia menyeka air matanya itu, tak ingin kesedihannya berlarut - larut.


Nayla beralih pada aki Asep " Aki, makasih ya udah ngasih ilmu pengobatan yang berarti buat Nayla, ternyata dari alam kita bisa menemukan semua jenis obat, Nayla selama ini cuma belajar obat- obatan kimia tapi sekarang Nayla punya ilmu baru dari aki, terima kasih aki, beruntung sekali Nayla bertemu kalian semua. " Nayla tak segan memeluk aki Asep, sambil terus berucap terima kasih, bagi Nayla jasa keluarga itu sangatlah besar dan tak akan pernah dia lupakan.


" Sudah atuh neng, nanti keburu siang sampai kota nya ! " Aki Asep melepas pelukan Nayla dan menyeka air mata yang kembali mengalir di pipi Nayla.


Nayla tersenyum getir, kemudian beralih lagi pada mak Lastri " Nayla pamit ya Mak " Ucapnya sambil menyaut tangan mak Lastri dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


" Hati - hati ya neng !" Ucap Mak Lastri sambil memegang puncak kepala Nayla.


Saat Nayla, Ayu dan aki Asep berjalan sampai pekarangan rumah nya, seorang laki - laki paruh baya yang dikenal sebagai kepala dusun, tak sengaja melewati rumah aki Asep, dia berhenti sejenak dan turun dari sepedanya sekedar menyapa dan bertanya hendak kemana, karena mereka seperti akan melakukan perjalanan jauh.


" Assalamualaikum ki " Ucap kepala dusun yang bernama Darta itu.


" Walaikum salam " Jawab ki Asep.


" Mau pada kemana ini teh ? Eh.. neng Nayla udah bisa jalan ya ? " Tanya pa Darta sambil memegangi sepeda nya, dia memang sudah tahu perihal keberadaan Nayla, karena sebagai warga yang baik, aki Asep berkewajiban melaporkan jika ada orang asing masuk ke desa nya.


" Sudah pak, terima kasih sudah mau menampung Nayla di desa ini, sekarang Nayla mau pamit pulang ke kota " Ucap Nayla dengan sopan.


" Wah.. Alhamdulillah atuh neng, bapak ikut seneng dengarna, ke jalan utama nya mau jalan kaki ?" Pak Darta menatap dengan lekat perban yang masih terbalut di kaki Nayla.


" Iya pak Darta, mau pake apalagi, saya kan gak punya sepeda " Ucap Aki Asep sambil tersenyum kecil.


" Kasian atuh kakinya itu belum sembuh benar, pake ini aja atuh ki, sepeda saya !" Pak Darta menyodorkan sepedanya pada aki Asep, dengan segan aki Asep menerima tawaran itu , karena dia juga tidak tega jika melihat Nayla berjalan kaki sejauh itu dengan kondisi kakinya yang belum sembuh benar.


" Gak apa - apa ini sepeda nya di pinjam sama Nayla pak? nanti bapak bagaimana ? " Tanya Nayla merasa sungkan dengan kebaikan orang - orang di desa tersebut, rasa toleransi di antara mereka memang masih sangat kental dan terjaga.


" Gak apa - apa neng, pakai aja ! bapak mah gampang, nanti juga aki balik lagi kan ?" Seru pak Darta sambil tertawa kecil.


" Yah.... Ayu gak bisa ikut dong kalau pake sepeda " Keluh Ayu sambil mendengus kesal.


Nayla sedikit menunduk dan menatap wajah gadis yang sedang menekuk wajahnya itu. "Maaf ya Ayu, berarti Ayu gak perlu cape lagi, teteh juga bisa lebih cepat sampai kota nya kalau pake sepeda".


Ayu mendongakkan kepalanya menatap wajah Nayla, kemudian langsung memeluk tubuh Nayla yang pasti akan di rindukkan nya itu.


" Hati - hati ya teh, jangan lupa buat kesini lagi " Ucap nya yang selalu dia ingatkan pada Nayla untuk kembali menemuinya nanti.


" Iya " Nayla mengacak rambut Ayu dengan gemas.


Setelah mendapat pinjaman sepeda dari pak Darta, aki Asep pun membawa Nayla dengan membonceng di bekalangnya, dengan perlahan aki Asep mengayuh sepeda melewati jalan setapak di hutan itu, dalam perjalanan tak henti - henti nya aki Asep mengajak Nayla berbicara, sesekali tertawa tatkala ada cerita aki Asep yang di rasa lucu. Sampai tak terasa mereka akhir nya sampai di jalan utama, setelah hampir satu jam aki Asep mengayuh sepeda nya.


Aki Asep menurunkan Nayla di jalan dekat perbatasan desa, jalannya memang besar tapi sedikit rusak, biasanya di sana suka ada mobil bak terbuka yang membawa sayuran atau hasil panen dari petani di sekitar desa tersebut, aki Asep akan membantu Nayla menghentikan mobil tersebut agar bisa membawa Nayla ke kota.


Tak lama datang sebuah mobil bak terbuka yang membawa sayuran melewati jalan itu, aki Asep dengan cepat melambaikan tangannya menghentikan mobil tersebut, mobil itu pun berhenti dan aki Asep langsung berlari menuju sopir mobil tersebut dan berbicara sesuatu yang tidak dapat Nayla dengar, sang sopir tampak mengangguk, aki Asep pun kembali menghampiri Nayla dan membantu nya untuk naik mobil sayur tersebut, Nayla duduk di belakang bersama sayuran - sayuran segar, karena di samping kemudi sudah ada orang yang menempati.


" Neng , ini ada sedikit uang, kali aja neng butuh buat di jalan, nanti si supir cuma bisa nganter nyampe pasar di deket kota, neng gak lupa kan sama alamat rumah neng di kota ?" Ujar aki Asep sambil menyelipkan sedikit uang di tangan Nayla.


" Ingat aki, Nayla gak amnesia " Jawabnya sambil terkekeh lucu. " Sekali lagi terima kasih aki " Imbuh Nayla, tak bosan dia mengucapkan rasa terima kasihnya pada aki Asep.

__ADS_1


Aki Asep tersenyum tipis lalu mengusap lembut puncak kepala Nayla, dia bergegas menemui supir kembali, setelah mengucap terima kasih mobil pun kemudian melaju meninggalkan aki Asep yang masih berdiri mematung menatap kepergian Nayla sambil melambaikan tangannya, hingga mobil tersebut menjauh dari pandangannya. Dia pun kembali mengayuh sepeda nya kembali menuju rumah nya di tengah hutan.


Selama di perjalanan Nayla hanya termenung memikirkan keluarganya, dia sangat tidak sabar ingin bertemu dengan mereka, terbesit juga bayangan Rey di benak Nayla, dia berpikir apakah Rey akan marah padanya, karena telah menghilang saat menjelang hari pernikahan mereka, apakah Rey sudah melupakan dirinya, pertanyaan - pertanyaan tersebut memenuhi pikiran Nayla saat ini.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam setengah, akhirnya mobil itu pun sampai di pasar kota, Nayla sangat mengenal daerah itu, karena dia sering melewati nya jika akan pergi kuliah dulu. Pak Supir membantu menurunkan Nayla dari mobilnya, setelah mengucapkan terima kasih, Nayla segera berlalu meninggalkan mobil sayuran tersebut dan menaiki angkutan umum menuju ke arah rumah nya dulu.


" Ibu , ayah , Dio... Nayla pulang " Gumam Nayla dengan wajah yang berseri, dia sangat tidak sabar melihat reaksi keluarganya saat bertemu kembali dengannya nanti.


Tak lama angkutan umum itu berhenti di depan rumah Nayla, Nayla menghirup dalam - dalam aroma rumah yang sangat dia rindukan itu, dengan langkah nya yang tertatih, dia berjalan masuk ke pekarangan rumah yang terlihat sepi. Saat Nayla sampai di teras rumah, seseorang dari dalam membuka pintu tersebut dengan lebar, terlihat lah bu Tina dengan memakai baju rapi seperti akan pergi ke suatu acara resmi, di susul oleh pak Dimas yang menggunakan baju dengan warna senada dengan istrinya tersebut.


Nayla mematung, menatap ibu nya dengan tatapan penuh kerinduan, bu Tina yang juga melihat Nayla berdiri di hadapannya juga ikut mematung, tak sadar dia menjatuhkan tas kecil yang di bawa nya, saat air matanya mengalir di pipi, baru lah Tina memperoleh kesadaran, dan seketika langsung memeluk anak gadis kesayangannya yang telah lama hilang.


" Nayla, kamu kemana saja sayang, ini benar kamu kan? kamu kembali nak, Nayla sudah kembali ?" Bu Tina tak hentinya menghujani wajah Nayla dengan kecupan hangatnya, tak luput dia juga memeriksa tubuh Nayla yang tak kurang satu apapun kemudian kembali memeluknya dengan erat.


Pak Dimas yang juga tidak sabar ingin memeluk anaknya, akhirnya memeluk istri dan anaknya sekaligus. " Ayah bahagia sekali nak, ternyata kamu masih hidup " Ucap Pak Dimas lirih. Tangis bahagia keluarga itu pun pecah seketika.


" Maafin Nayla ibu , ayah, Nayla baru bisa pulang sekarang " Ucap Nayla setelah terlepas dari pelukan orang tuanya.


Tina menatap tubuh Nayla dari atas ke bawah, sedikit menautkan dahi saat melihat kain yang membalut kaki Nayla.


" Kaki mu kenapa Nay ?" Tina berjongkok dan memegang kaki Nayla tersebut, Nayla dengan cepat membuat ibunya kembali berdiri.


" Gak apa - apa bu, udah mulai sembuh kok "


" Iya, tapi kenapa ?" tanya Tina semakin di buat penasaran.


" Nanti Nayla ceritain, tapi, sekarang kalian mau kemana ? udah rapi gini ?" pertanyaan Nayla membuat bu Tina mendelikkan mata nya pada Dimas, dia merasa bingung akan menjawab apa, karena dia akan menghadiri pernikahan Rey dan Gisella.


Saat kebingungan melanda Tina dan Dimas, tiba - tiba dari dalam rumah Dio yang melihat kakaknya pulang langsung berlari memeluk kakaknya tersebut. " Kakak, Dio kangen " Seru Dio sambil menangis tersedu - sedu di pelukan kakaknya, Nayla mengelus puncak kepala Dio.


" Sudah lah Dio, kakak udah pulang sekarang " Nayla mencoba melepas pelukan Dio dari tubuhnya dengan meraih tangan Dio yang melingkar di belakang tubuhnya, tanpa sengaja Nayla memegang sebuah kartu undangan yang di pegang oleh Dio yang akan mereka bawa pada pesta pernikahan Rey sebagai tamu di acara tersebut.


" Eh...ini apa ?" Nayla menyaut kartu undangan itu dan langsung membaca sampul depannya yang bertuliskan ' Undangan Pernikahan Rey dan Gisella ' .


Laksana petir di siang bolong, Nayla begitu terkesiap melihat kartu undangan itu, sampai kartu itu tak sengaja terlepas dari tangannya, tubuhnya melemas, tangannya bergetar dengan cepat, dirinya merasa tak percaya, hanya dalam waktu dua bulan Nayla menghilang Rey sudah memutuskan untuk menikahi wanita lain.


****


Udah dulu ya, gak kerasa hampir 2000 kata nulis chap ini, terlalu meresapi perasaan Nayla nih author nya..hihihi


tambahin lagi dong vote nya readers, biar panjang lagi buat chapter nya..mampir nya jangan lupa kasih jejak juga ya, like dan komentar ya, itu sangat berarti buat author ini. sini peluk jauh dari author...😙😙😙

__ADS_1


__ADS_2