Destiny Of Love

Destiny Of Love
Pengantin Yang Sebenarnya


__ADS_3

Nayla terduduk lemas di kursi depan teras rumah nya, sang ibu dengan lembut membelai puncak kepala anak gadisnya, mencoba memberikan ketenangan pada hati nya yang sedang bergejolak tak menentu.


" Sabar ya Nay, mungkin nak Rey memang tidak di takdirkan bersama kamu nak ." Ucapan Tina seakan sangat familiar di telinga Nayla, dia jadi mengingat kisah cinta ibunya yang kandas karena takdir tak mempersatukan mereka.


Nayla memejamkan matanya, kemudian memeluk tubuh ibunya, sehingga wajah nya tenggelam pada perut ibunya itu, dia menangis, tapi tak sampai meratapi takdir cintanya itu, dia hanya meluapkan kekesalannya saja, wajar memang dia hampir saja menikah dengan sang pujaan hati, tapi kini harapannya musnah, Rey sudah melupakan dirinya, karena perpisahan yang tidak dia inginkan, haruskah Nayla menyalahkan takdir, atau dia harus menyalahkan ibu nya yang mungkin mewariskan takdir cinta nya yang tak berakhir ke pelaminan.


Nayla mencoba menepis semua pikiran buruk dari otaknya itu, toh pada akhirnya ibunya kini berbahagia bersama laki- laki yang dia yakini adalah ayah kandung nya itu, hidup masih terus berjalan, kisah cinta tak selamanya akan berakhir indah, mungkin Tuhan sudah mempersiapkan yang lebih baik ke depannya, Nayla sudah banyak belajar dari masa lalu ibunya sendiri.


Kemudian Nayla melepaskan pelukannya, mendongakkan kepala, menatap sang ibu yang juga menatapnya dengan iba. Nayla mengulas senyum, memberikan kesan bahwa dirinya baik- baik saja.


" Nayla gak apa - apa bu, kalian pergi saja ke sana ! biar Nayla di rumah, Nayla mau istirahat, capek banget ." Bukannya pergi bu Tina malah menarik kursi kosong mendekatkannya pada Nayla dan mendudukkan tubuhnya di kursi kosong tersebut, mata Nayla mengikuti gerakan ibunya itu.


" Ibu gak mau pergi, mau nemenin anak ibu aja disini. " Tina begitu khawatir dengan keadaan anak gadis satu - satu nya tersebut.


" Ayah juga ." Seru Dimas tak mau kalah.


Dio mematung saat mata kedua orang tuanya tertuju padanya, mereka berharap Dio juga akan berkata demikian, ingin menemani kakaknya diam di rumah saja.


" Sebenarnya Dio juga ingin bersama kakak, tapi..." Dio sejenak menelan ludahnya saat melihat pelototan mata dari ibunya. " Dio mau makan enak bu, biasanya di hajatan orang kaya makanannya enak-enak " Imbuh Dio berkata dengan polosnya, matanya seakan meyiratkan harapan yang besar pada sang juragan mami.


Nayla merasa kasian melihat adiknya merengek seperti itu, terselip juga sebuah senyum lucu pada adik tersayangnya yang sedikit bertubuh gembul itu yang begitu tak berdaya jika berurusan dengan makanan enak.


" Dio, nanti ibu masakin kamu makanan enak, kasian kan kak Nayla baru aja pulang, masa langsung kita tinggalin !" Ibu Tina mulai memasang wajah garangnya, membuat Dio sedikit bergidik ngeri.


Nayla memegang tangan ibunya, berharap ibunya tidak memarahi Dio lagi, " Ibu, jangan marahin Dio, dia memang tak bisa melewatkan makanan enak " Ucap Nayla sambil tertawa kecil, dan melirik ke arah adiknya.


" Nayla juga ikut , kita pergi bersama !" imbuh Nayla dengan yakin, membuat mata Tina membulat dengan sempurna, begitu pun dengan Dimas yang tak kalah kagetnya mendengar keputusan Nayla.


" Kamu yakin Nay ?" tanya Dimas yang berdiri tak jauh dari tempat duduk Nayla.


Nayla menganguk pelan, " Nayla hanya akan diam di luar saja ayah, tidak akan masuk ke dalam, takut mengganggu acara sakral mereka, Nayla juga ingin melihat mas Rey dan mbak Gisella dan mendoakan nya dari jauh saja. " Ujar Nayla dengan wajah datar.


Nayla sangat yakin dengan keputusannya, membuat Dimas dan Tina tak bisa melarang keinginan gadis bermata indah itu, Dio pun langsung memeluk kakak terbaiknya, dan menghadiahi sebuah kecupan di pipi Nayla, Nayla sangat senang melihat adiknya ceria, dan selalu berusaha untuk memberikan apa yang dia mau, sebatas kemampuannya, dan jika dia masih mampu untuk memberikannya.


Tina membantu Nayla untuk mempersiapkan diri, memakai baju yang pantas dia kenakan untuk menghadiri sebuah acara pernikahan. Setelah selesai bersiap mereka pun pergi setelah ayahnya memesan taxi online yang tak lama sudah datang di depan rumah mereka.


***

__ADS_1


Di sisi lain di rumah Rey, orang - orang tampak sibuk dengan aktifitas nya masing - masing, tamu - tamu juga sudah mulai berdatangan, Rey yang meminta pernikahan nya di lakukan di rumah, dia tidak mau acara tersebut terlalu mewah sampai harus menyewa gedung yang berkelas, karena pernikahan tersebut bukanlah keinginan Rey, kedua pengantin juga belum menampakkan batang hidungnya di tempat acara, akad nikah akan di lakukan satu jam lagi, Rania menyuruh Jordy untuk menjemput Rey di kamar nya, dia sudah menyuruh Rey untuk segera turun tapi Rey meminta waktu untuk menyiapkan dirinya terlebih dahulu, tapi sudah sangat lama Rania menunggu membuatnya tidak sabar karena para tamu sudah mulai berdatangan.


Jordy mengetuk pintu kamar bosnya dari luar, berkali - kali namun tak kunjung dapat jawaban, dengan lancang akhirnya Jordy nekat memutar gagang pintu dan membuka nya dengan perlahan, dan ternyata tidak di kunci. Jordy menyembulkan kepala terlebih dulu, menyapukan pandangannya mencari sosok bos yang di segani nya itu. Mata nya pun tertuju pada seseorang yang sedang tidur terlentang dengan hanya menggunakan celana pendeknya saja, ya, Rey masih bertelanjang dada dan belum juga bersiap untuk melangsungkan acara sakral yang menunggunya.


Jordy akhirnya masuk ke dalam kamar, menghampiri Rey sambil menggelengkan - gelengkan kepala nya. Dengan berani dia mengguncangkan tubuh bosnya dengan perlahan, Rey membuka matanya dengan cepat, sebenarnya dia tidak benar - benar tidur.


" Ada apa ?" Tanya Rey sambil melototkan matanya, membuat Jordy menelan ludahnya dengan berat. Emosi bos nya kini memang sering datang tanpa dia duga.


" Bo..bos di panggil tante, acara nya sudah mau di mulai. " Ucap Jordy dengan sedikit tergagap.


Rey mengerutkan dahi, dengan malas dia kembali menutup matanya, kini dia memiringkan tubuhnya meraih guling yang ada di sampingnya dan memeluknya dengan erat, Jordy menggaruk kepalanya dengan bingung, bos nya tidak bisa di ajak bicara baik - baik sekarang.


" Bos, mau nikah gak ? nanti keburu di bawa lari pengantin wanita nya !" Seru Jordy mencoba menakuti bos nya itu dan terus berusaha membangunkan Rey.


" Bawa lari saja sama kamu, aku gak peduli !" Seru Rey tanpa membuka matanya dan mengubah posisi tidurnya. Dia malah semakin tak peduli.


Jordy menautkan kedua alisnya " Yang benar saja, bisa - bisa Ana menggantungku hidup - hidup jika aku melakukan itu " Suara Jordy tampak meninggi, dia sangat kesal bos nya ternyata begitu keras kepala.


" Aku akan bilang tante Rania saja, dan menyuruhnya kesini, biarkan saja dia pingsan lagi saat melihat anaknya belum juga bersiap ." Imbuh Jordy sambil membalikkan tubuhnya hendak keluar dari kamar Rey, mendengar hal itu Rey langsung mendudukkan tubuhnya dan melempar bantal ke arah Jordy.


" Awas jika kamu berani melakukan itu, ku pecat kau !" Rey terlihat sangat marah, Jordy tahu dia akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari bosnya jika mengatakan hal demikian, tapi tidak ada cara lain untuk membuat bos nya menurut,hanya itulah cara satu - satunya.


***


Di luar rumah, Nayla dan keluarga nya sudah tiba di acara pernikahan Rey tersebut, Nayla tampak sedih saat melihat dekorasi pernikahan yang di rancang dengan indah di rumah itu, walaupun katanya cuma sederhana bagi keluarga Rey, tapi bagi Nayla dekorasi tersebut terlihat sangat mewah. Hati siapa yang tidak sakit, saat mendapatkan kenyataan dua bulan lalu namanya tersemat sebagai pengantin di kartu undangan tapi kini hanya tercantum di buku sebagai tamu undangan. Nayla pasrah dan mencoba bersahabat dengan takdir nya sendiri. Semangat Nayla ! kata itulah yang selalu di lontarkan nya dalam hati.


Ketika Nayla mencoba menyembunyikan wajahnya, takut ada seseorang mengenali sosok nya yang mungkin akan membuat acara itu menjadi kacau. Dio malah menarik tangan kakaknya saat dia melihat makanan yang terlihat lezat yang sudah di sediakan oleh tuan rumah. Nayla tak sempat menolak tubuhnya langsung mengikuti ajakan Dio, tak sengaja dia menabrak seorang gadis yang sangat dia kenal.


" Ana ? " Nayla terkesiap melihat gadis itu, begitu pun dengan Ana, dia mengucek matanya beberapa kali, memastikan siapa yang ada di hadapannya itu.


" Nayla ? kamu Nayla kan ? " Tanpa aba - aba Ana langsung memeluk sahabatnya tersebut. " Kamu masih hidup Nay, kamu kembali, ayo masuk ! kak Rey pasti akan senang melihatmu kembali " Imbuh Ana sambil menarik tangan Nayla, tapi Nayla tak bergeming membuatnya tertahan di tempatnya.


Ana mengernyit " Kenapa ?" tanya nya heran.


Nayla menggeleng " Kamu lupa, ini acara pernikahan mas Rey dengan mbak Gisella, aku tidak mau mengacaukan acara sakral mereka." Ucap Nayla dengan lesu.


Ana terdiam, sebenarnya dia tahu jika Rey tak menginginkan pernikahan ini, Jordy selalu bercerita tentang perubahan sikap bosnya selepas kepergian Nayla.

__ADS_1


" Tapi Nay..."


" Sudah Ana, aku sudah ikhlas kok, biarkan aku di luar saja ya !" Tukas Nayla menyela perkataan Ana.


Ana merasa tak enak hati, dia tak bisa membiarkan sahabatnya menyerah begitu saja, tanpa sepengetahuan Nayla, Ana menelepon sahabatnya Rere, dan memberitahunya jika Nayla sudah kembali dan sekarang berada di luar rumahnya.


Rere sebenarnya tidak percaya, sahabatnya yang satu itu kadang suka bercanda, tapi dia tidak akan berani bercanda jika sudah berkaitan dengan Nayla, dengan rasa penasaran yang sangat besar, Rere akhir nya bergegas keluar dari rumahnya, mencari sosok Ana dan Nayla.


Rere tampak termangu, matanya berkaca - kaca saat dari jauh dia telah melihat sosok Nayla yang dia rindukan, tak menunggu lama Rere berlari menemui sahabatnya tersebut dan memeluknya dari arah belakang Nayla. Beberapa tamu undangan yang tak mengenali Nayla juga ikut melihat adegan tersebut.


Nayla begitu terkesiap, sedikit menoleh kan wajahnya memastikan siapa gadis yang memeluknya itu. " Rere ? " Nayla sontak berbalik dan membalas pelukan sahabatnya.


" Aku yakin kamu masih hidup Nay, bang Rey juga yakin seperti itu, dia sangat berharap kamu kembali, ayo Nay kamu harus ketemu abang sekarang " Rere melepas tubuh Nayla dan meraih tangannya hendak menariknya masuk ke dalam.


" Jika mas Rey yakin aku akan kembali, kenapa sekarang dia akan menikah dengan mbak Gisella Re ?" Perkataan Nayla tersebut membuat langkah Rere terhenti. Dia berbalik dan menatap Nayla dengan tatapan bingung.


" Pernikahan ini tidak benar Nayla, semua orang tidak menginginkan ini, mama yang melakukan ini, karena semua orang sudah menganggap kamu meninggal, jadi mama hanya ingin mengalihkan perasaan bang Rey saja. Bang Rey pasti senang kamu kembali Nay, Ayo masuk ! " Ajak Rere kembali.


" Enggak , kalian hanya memikirkan perasaan mas Rey, bagaimana dengan mbak Gisella, apa dia bisa menerima ? di hari pernikahannya dia harus mengalah dengan wanita lain, ini gila Re " Nayla dengan keras kepala menolak ajakan Rere.


" Bagaimana dengan perasaanmu hah ? kamu pikirkan orang lain, kamu tahu gak ? pengantin yang sebenarnya adalah kamu Nayla, Gisella cuma pengganti dan dia pasti menerimanya dengan lapang, bahkan harus !" Seru Rere berkata dengan lantangnya dengan nada yang sedikit tinggi, membuat perdebatan mereka menjadi tontonan para tamu yang lain, untungnya hanya sebagian kecil saja tamu yang berada di luar, sehingga tak terlalu banyak orang yang mendengar.


Nayla membekap mulut Rere dengan cepat. "Kamu jangan buat keributan di hari pernikahan abangmu Re ! " Bisik Nayla mendekati telinga Rere, kemudian melepas bekapannya kembali.


" Jika kamu gak mau masuk, aku akan membuat keonaran disini " Ancam Rere yang membuat Nayla menajamkan kedua alisnya, sahabatnya yang satu ini memang terkenal nekatnya.


" Oke...oke....tapi aku ingin ketemu dulu dengan mbak Gisella dan juga tante Rania, aku gak mau ketemu mas Rey dulu. " Ucap nya dengan syarat, Nayla masih kecewa dengan Rey, jika memang mamanya yang memaksa kenapa Rey tidak menolak untuk menikahi Gisella, sehingga pernikahan ini tidak akan terjadi. Tapi Rey menerimanya berarti dia juga masih ada hati untuk Gisella sendiri.


" Baiklah " Rere tersenyum, setelah meminta izin pada orang tua nya dan juga Dio akhirnya Nayla masuk ke dalam rumah Rey, menuju kamar tempat dimana Gisella sedang merias diri, karena di sana kebetulan juga ada mama Rania yang membantu calon menantunya itu. Nayla menutup wajah dengan kain selendang yang sengaja dia pakai untuk bersembunyi saat di acara pesta, tapi apa daya tetap saja dia ketahuan.


****


Happy reading..😊😊


Apakah takdir akan berkata lain, bersediakah Nayla mengantikan Gisella menjadi pengantin wanita, ataukah mungkin Gisella yang akan menolak ???? tunggu episode selanjutnya ya.....!!!!


Maaf ya readers, kemarin author gak sempet update, hari ini chap nya juga panjang kok, semoga kalian suka 😉😉

__ADS_1


Jangan lupa like, comment, favorit dan rate nya ya...terutama VOTE nya biar author tambah semangat gitu...makasih.


__ADS_2