Destiny Of Love

Destiny Of Love
OLAHRAGA SIANG


__ADS_3

7 bulan kemudian....


"Bu, kok Nayla belum ngerasaain apa - apa ya? padahal kan ini sudah masuk bulan ke sembilan," ujar Nayla sambil mengelus-elus perutnya yang sudah terlihat membesar.


Sejak memasuki bulan ke sembilan Nayla memang meminta untuk tinggal bersama ibu kandungnya, katanya biar dia lebih nyaman saja saat ditinggal Rey bekerja, karena bagaimanapun tempat ternyaman seorang anak perempuan masih berada di rumah ibunya. Apalagi sekarang Nayla sangat butuh perhatian sang ibu. Rey terpaksa mengiyakan dan mengikuti Nayla untuk tinggal di sana.


Awalnya mama Rania melarang, tapi akhirnya mengizinkan juga, karena dia sadar dulu dia juga seperti itu saat hamil anak pertamanya Rey. Yang penting anak menantu dan cucu - cucunya baik - baik saja. Ya.. Nayla hamil anak kembar laki-laki dan perempuan. Rey sangat senang mendengar kabar itu. Sampai-sampai dia memberikan bonus kepada seluruh karyawannya.


"Nanti juga kalau sudah saatnya lahir juga Nay, kamu harus ikuti saran dokter jika nanti kamu tidak bisa lahiran normal karena bayimu kembar gak apa-apa, yang penting kalian sehat dan selamat," ucap bu Tina memberi nasihat.


Nayla tampak mengerti dan menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Bu," jawabnya.


Setelah bertanya seperti itu di ruang tengah, Nayla meminta izin pada ibunya untuk kembali ke dalam kamar. Nayla sudah mengajukan cuti melahirkan pada pihak rumah sakit, walaupun Rey melarangnya bekerja saat hamil tapi Nayla tetap bertangggung jawab dengan profesinya.


Nayla duduk bersandar di atas tempat tidur, membawa beban yang berat di perutnya membuat tubuhnya cepat merasakan lelah. Tak ada kegiatan membuat dirinya bosan, sejenak dia berpikir, menerawang jauh memikirkan masa depan. Tiba-tiba dia merindukan suaminya datang.


Hingga dering ponsel yang terdengar nyaring membuyarkan lamunan Nayla. Nayla menyaut ponsel yang tergeletak di atas meja lampu tidurnya. Dan melihat di layar ponsel jika suaminya memanggil. Nayla tersenyum senang kerinduannya pada suaminya sedikit terobati. Dia langsung menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu di telinganya.


"Hallo sayang?" sapa Rey di seberang telepon sana.


"Iya, Mas. Kamu sibuk, gak?"


"Gak, Sayang, ini lagi break dulu. Bagaimana keadaanmu? dan juga Boy and Girl kita? Apa mereka masih sering bergulat di dalam perutmu?"


Nayla tertawa kecil mendengar itu. "Aku baik-baik saja, anak-anakmu juga baik," jawab Nayla sambil mengelus perutnya.


"Oh ... syukurlah." Hening sesaat.


"Mas?"


"Iya."


Nayla sejenak terdiam lagi, dia merasa ada sesuatu yang menganggu pikirannya, dan hatinya merasa tidak nyaman. Ingin sekali dia melihat suaminya datang. Tapi dia malu mengatakannya, Nayla bukan type wanita yang manja, apalagi romantis, jauh sekali dari pribadi wanita yang sedang hamil tua itu.


"Ehm ... aku ...." ucap Nayla ragu-ragu.


"Apa, Sayang? Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Rey tepat sasaran.


" Ya." Nayla menjawabnya dengan cepat.


"Apa? Katakanlah! Aku akan membawakannya nanti saat pulang kerja."


"Tapi aku butuhnya sekarang, dan yang aku butuhkan itu, kamu ...."

__ADS_1


Deg!


Keheningan sejenak menerpa kedua orang yang sedang melakukan panggilan telepon tersebut, entah apa yang dipikirkan oleh laki-laki di seberang sana. Nayla tak sadar saat mengatakan itu, hormon kehamilannya itu membuat imajinasinya selalu terbayang dengan sosok suaminya. Ah ... sebenarnya Nayla malu, tetapi memang itu yang dia butuhkan sekarang.


"Sayang ... kamu yakin?" tanya Rey terdengar sedikit ragu.


"Ya, apa aku terdengar bercanda? Bisakah kamu pulang saat ini juga?" Nayla berbicara seperti bukan dirinya saja, tanpa ragu dan terbata dia menginginkan suaminya saat ini juga. Astaga ... Apakah hormon hamil sedahsyat itu, merubah pola pikir seseorang yang tadinya pemalu menjadi sosok yang menggebu-gebu.


"Iya, aku pulang sekarang!" Dan itu menjadi percakapan terakhir dari sambungan telepon mereka, karena Nayla langsung mengakhiri panggilan itu. Entah malu atau kenapa yang pasti jawaban yang dia inginkan sudah dia dengar, suaminya akan pulang.


***


Di sisi lain, di waktu yang sama.


Terlihat sedang duduk termangu di kursi kebesarannya. Rey masih memikirkan kata-kata istrinya tadi, Rey sedikit terkejut tumben sekali istrinya berkata manja seperti itu, membuat hatinya merasa hangat, dan tiba-tiba saja tubuhnya terasa panas. Rey melonggarkan dasinya yang seakan membuat nafasnya tersendat.


"Apa aku sedang bermimpi? Tumben sekali dia berinisiatif seperti itu, sudah lama sekali dia baru bersikap seperti ini lagi. Ah, aku jadi tidak sabar ingin segera pulang," gumam Rey sambil tersenyum-senyum senang.


Rey bersiap membereskan pekerjaannya yang masih menumpuk di atas meja, dia tidak peduli dengan pekerjaannya, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah istrinya yang sedang hamil besar. Walaupun tubuh istrinya sudah berubah, tetapi tak membuat nafsunya seketika musnah, dia malah semakin gemas melihat tubuh istrinya itu, hormon kehamilannya membuat semua bagian tubuh istrinya itu terlihat lebih kencang terutama di bagian depan yang selalu membuat Rey tak bisa menahan.


"Bos, mau kemana?" tanya Jordy yang tiba-tiba masuk tanpa permisi.


Rey mendongak, menatap Jordy sejenak lalu beralih lagi pada kegiatannya bersiap.


Jordy mengernyitkan kening, ini masih siang kenapa bosnya itu ingin pulang. Lagian setengah jam lagi akan ada rapat penting dengan Erfan, teman baru sekaligus rekan bisnisnya itu.


"Bos akan kembali lagi, kan?" tanya Jordy dengan hati-hati, mood bosnya ini kadang sering berganti.


Rey menyaut tas kerjanya yang ada di atas meja, lalu berjalan menghampiri Jordy yang masih setia menunggunya." Jika istriku mengizinkan aku kembali, aku pasti kembali. Tapi jika tidak, kau yang akan mengurus pekerjaanku nanti. Oke!" seru Rey dengan tegas, Jordy hanya bisa menghela nafas. Bosnya selalu saja seperti itu jika berurusan dengan istrinya.


"Tapi bos, pertemuan dengan pak Erfan bagaimana?" Jordy berusaha menghadang bosnya.


Sejenak Rey menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah asistennya itu. "Erfan tidak akan marah, kamu saja yang menggantikan, katakan padanya istriku sedang dalam masa peregangan hendak melahirkan, jadi dia butuh aku setiap saat agar proses lahirannya nanti bisa berjalan lancar."


Hening...


Jordy seperti kehilangan kata-kata, dia tidak mengerti dengan ucapan bosnya tersebut, bantuan macam apa yang bisa bosnya lakukan agar istrinya bisa lancar ketika melahirkan. Tapi dia tak mau banyak bertanya, Jordy takut bosnya akan berubah kesal.


Tidak mendengar jawaban dari Jordy, Rey berpikir asistennya itu mengerti. Dia pun segera pergi meninggalkan asistennya yang masih bingung sendiri.


***


Setelah melewati jalanan yang tidak pernah lengang, akhirnya Rey sampai di rumah mertuanya sedikit telat. Sambil membawa se bucket bunga yang dia beli tadi di jalan, Rey berjalan dengan gontai dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya. Rey memencet bel pintu dan tak lama dibukakan oleh bu Tina.

__ADS_1


"Eh, tumben siang-siang pulang?" Pertanyaan itu langsung dilontarkan pada menantunya itu sambil mengernyitkan dahi, karena melihat senyum Rey yang selalu menghiasi bibirnya itu, membuatnya terlihat berbeda dari biasanya.


"Nayla nyuruh aku pulang, Bu," jawab Rey sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya itu.


"Dimana dia?" imbuh Rey bertanya pada bu Tina yang masih heran.


"Tadi, sih izin ke kamar." Setelah mendapat jawaban tersebut, Rey tidak mau menunggu lama, kakinya langsung mengajaknya untuk melangkah menuju kamar istrinya.


"Dasar anak muda!" gumam Bu Tina sambil menatap punggung menantunya hingga menjauh dari pandangannya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Rey sudah berada dalam kamarnya, merasa sedikit kecewa karena melihat sang istri sudah terlelap dalam mimpinya.


"Yah ... dia tidur," ucap Rey dengan rasa kecewa.


Rey mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, menatap wajah cantik istrinya yang sedang tertidur pulas sambil tangannya mengelus lembut wajah itu menelusuri setiap bagiannya dengan intens.


Hingga sampai di bibir mungil yang selalu membuatnya candu, Rey menyapukan ibu jarinya di bagian itu. Tanpa sadar Rey membungkukkan tubuhnya mendekatkan wajahnya hendak menyatukan bibir mereka. Rey benar-benar sudah tak tahan, bayangan bercinta dengan istrinya sudah menjalar di pikirannya.


Nayla mengerjap kaget, saat mendapat serangan lembut di bibirnya itu. Dia membelalakkan mata dan mencoba mendorong tubuh suaminya itu.


"Mas?" Nayla menatap suaminya dengan tatapan aneh.


"Maaf, ya, Mas bangunin kamu," Ucap Rey sambil mengelus lembut pipi Nayla, senyuman lebar tak luput dari bibirnya.


"Jam berapa sekarang? Kok kamu udah pulang?" Eh ... pertanyaan apa itu? Rey mengernyitkan dahinya. Bukannya Nayla yang menyuruh Rey pulang, sekarang bukannya senang melihat suaminya, dia malah bertanya seakan keberatan suaminya datang.


"Kan kamu yang nyuruh aku pulang, kamu lupa?" Rey mencoba mengingatkan dengan tangannya masih tak mau diam.


Nayla berpikir sejenak, mencoba mengingat


kejadian sebelum dirinya tertidur dan seketika dirinya tersentak saat tangan Rey sudah menjalar kemana-mana. Nayla juga tidak sadar, entah kapan Rey membuka kancing baju yang sedang dia pakai.


"Mas ...." ucapan Nayla tertahan saat Rey kembali meraup bibirnya dan memagutnya semakin dalam. Tak ada percakapan lagi setelah itu, yang ada hanya desahan pelan yang terdengar dari dua insan yang yang sedang mabuk kepayang.


Keduanya pun hanyut dalam kemesraan, berolahraga siang membuat keringat mereka bercucuran walau di dalam kamar sudah ada pendingin ruangan.


***


Oke next, kita Up nya abis buka aja ya.... Kalian imajinasikan sendiri saja ya olahraga macam apa yang Rey dan istrinya lakukan


hehehehe... 😆😆


Dukung terus authornya biar tetap semangat ya nyelesain novel ini... !

__ADS_1


KLIK LIKE, COMMENT , SHARE DAN VOTE YANG BANYAK... MAACIW... 😆😆


__ADS_2