
" Sayang cepat cobain gaun ini ! " Untuk kesekian kali Nayla mendengar perintah itu, mempunyai mama mertua yang super modis, membuatnya harus terlihat sempurna sebagai menantu orang kaya.
Ya, setelah kembali dari hutan untuk menjemput keluarga aki Asep, yang sekarang tinggal di rumah bu Tina dan pak Dimas atas permintaan mereka sendiri. Kini Nayla di sibukkan dengan persiapan pesta pernikahan mereka. Nayla jadi sering izin cuti dari pekerjaannya, kecuali jika rumah sakit memerlukan tenaganya dalam keadaan darurat Nayla tidak bisa mengabaikannya.
Mama Rania semangat sekali mengatur semuanya, termasuk gaun pengantin yang akan di pakai Nayla.
" Memangnya ada berapa gaun yang mama pesan ? " tanya Nayla dengan suara lemas.
Mama Rania berpikir sejenak " Sebenarnya cuma tiga gaun saja, tapi di sini banyak sekali gaun cantik. Mama ingin membeli yang paling cocok buat kamu, nanti mama suruh Gisella buat sedikit merubahnya supaya terlihat lebih mewah dan anggun. " Ujar mama Rania dengan gaya sosialitanya.
Nayla menghela nafas pelan, cuma tiga baju yang di pesan tapi dirinya sudah 10 kali mencoba gaun pernikahan.
" Eh..ngomong - ngomong kok mama udah lama gak lihat Gisella ya ? katanya dia ke luar negeri tapi kok gak balik - balik. " Perkataan mama Rania sontak membuat Nayla tersentak, rasa lelahnya seakan hilang dan berubah menjadi ketegangan.
" Ehm...Nayla gak tahu mah. " Ucapnya dengan gugup.
Gisella memang sudah tiga minggu di tahan di kantor polisi, ketiga penjahat lainnya sudah di tangkap semua, dan mendapat hukuman sesuai kejahatannya. Sedangkan Gisella walaupun dia adalah orang yang menyuruh para penjahat itu tapi tidak ada perintah darinya untuk mencelakai bahkan menyuruh untuk membunuh Nayla. Gisella hanya menyuruh mereka untuk menggertak Nayla saja agar menjauhi Rey, dengan bantuan polisi akhirnya penjahat itu mengaku kalau mereka melakukan itu karena terbawa emosi pada Nayla yang sudah menghajar mereka sampai babak belur. Tapi tetap saja Gisella di nyatakan bersalah dan harus di hukum.
Tapi karena adanya jaminan dari Nayla sendiri sebagai korban, akhirnya polisi memberi keringanan pada Gisella, hanya menerima hukuman kurungan selama sebulan saja.
Nayla harus bisa menutupi rahasia ini dari keluarga suaminya, jika mereka tahu mungkin mereka akan membenci Gisella dan Nayla tidak menginginkan itu karena Gisella sudah tidak punya siapa - siapa lagi selain keluarga Rey yang masih peduli padanya.
" Kira - kira kapan ya Gisella pulang ? resepsi kamu kan tinggal seminggu lagi. Gaun - gaun yang mama pilih ini masih ada yang harus di perbaiki sedikit. " Ujar mama Rania dengan wajah gusar.
" Kan ada asistennya mba Gie, dia juga sama aja kok hebatnya. Karena ini semua hasil desain mereka berdua. " Sahut Nayla sambil tersenyum kecil pada Jenny, asisten Gisella yang sejak tadi mendampingi mereka berdua di butik milik Gisella itu.
__ADS_1
" Iya bu Rania, saya akan melakukan yang terbaik untuk gaun yang anda pilih, mba Gisella sedang ada urusan penting sepertinya minggu depan baru pulang. " ucap Jenny dengan ramah, dia memang sudah tahu masalah yang menimpa bosnya, karena dia adalah orang yang bisa di percaya oleh Gisella untuk mengelola butiknya selama dirinya di penjara .
" Ya sudahlah, yang penting terlihat sempurna saat di pakai menantuku ini. " Seru mama Rania sambil mengelus pipi Nayla dengan lembut, Nayla sangat senang mendapat perhatian dan kasih sayang dari mertuanya itu, dia merasa sangat beruntung sekali.
" Oh iya nona Jenny, tolong katakan sama Gisella, dia harus datang di pesta pernikahannya Rey minggu depan. Itupun kalau dia masih menganggap aku sebagai ibu angkatnya. " Imbuh Rania, dengan nada sedikit mengancam, dia sudah mencoba menghubungi nomor ponsel Gisella tapi selalu di berada luar jangkauan, Rania sudah menganggap Gisella seperti anaknya sendiri, tapi dia tiba - tiba saja menghilang tanpa memberi tahunya lebih dulu, hal itu membuat Rania sangat kecewa.
" Iya bu Rania. " Balas Jenny sambil tersenyum ramah, dirinya sungguh pintar menutupi kebohongan di raut wajahnya. Tidak seperti Nayla yang sedari tadi nampak gelisah sendiri ketika mama mertuanya sudah membahas keberadaan Gisella.
" Mama, Nayla sudah lelah tolong pilih gaun yang sudah Nayla coba saja, tidak perlu mencoba yang lain lagi. " Nayla sudah tak sanggup lagi jika harus mencoba beberapa gaun yang di tunjukkan Jenny pada mamanya. Gaun - gaun itu sangat berat dan ribet sekali menurut Nayla, dia tidak bisa membayangkan jika Nayla harus seharian memakai baju - baju itu di pestanya nanti. Ah...Mungkin dia tidak akan banyak bergerak saja nantinya.
Ckk, mama Rania sebenarnya belum puas. Tapi apa ada daya dia juga kasihan pada menantunya. Akhirnya dia memilih tiga gaun yang paling cocok saat di pakai Nayla tadi. Dan menyuruh Jenny untuk merubah sedikit aksen dan motif di gaun tersebut hingga lebih sempurna lagi.
***
Sesampainya di rumah, Nayla pamit pada mama Rania untuk langsung beristrihat di kamarnya, rasanya tubuhnya lemas sekali dan dia merasa sedikit pusing. Rey belum pulang dari kantornya, sehingga Nayla bisa leluasa tidur di kamarnya sendirian.
***
Cup
Sebuah kecupan mesra yang mendarat di bibir Nayla membuatnya mengerjapkan mata, dia mengucek matanya yang sedikit perih karena merasa silau dengan cahaya lampu di kamar itu. Dan melihat Rey sedang berlutut di lantai samping tempat tidur sambil menatap wajah istrinya dengan sangat dekat. Rey terlihat sudah memakai baju rumahannya sebuah kaos dan celana boxer favoritnya, sepertinya Rey sudah membersihkan diri sepulang dari kantornya.
" Bangun sayang, ini sudah sore, kamu belum mandi kan ! " Seru Rey sambil mengusap lembut puncak kepala istrinya tersebut.
" Udah sore ya ? jam berapa ini kok mas udah pulang ? " Tanya Nayla dengan suara khas bangun tidurnya yang terdengar sexy di telinga Rey. Dia pun kembali mencium bibir istrinya karena gemas.
__ADS_1
Nayla mendorong tubuh suami dengan cepat sebelum dia melakukan hal yang lebih dari sekedar mencium. " Aku mau mandi ." Tukasnya. Dia pun beranjak duduk sambil menunjukkan wajah lesunya. Rey pun beranjak berdiri dan duduk di tepi tempat tidur menghadap ke arah Nayla.
" Wajahmu pucat sekali sayang ? apa kamu sakit ? " Rey mengabaikan pertanyaan Nayla saat dirinya sadar ada yang berbeda dengan wajah istrinya yang terlihat pucat dan lesu.
" Aku hanya capek, mungkin karena kurang istirahat saja beberapa hari ini untuk mempersiapkan pesta pernikahan kita. " Sanggah Nayla.
" Kamu tidak boleh terlalu lelah, biarkan semuanya di urus sama mama ! " Seru Rey
" Tapi kan ada hal yang harus aku sendiri yang mengurusnya, misalnya mencoba baju pengantin, memangnya mas mau baju pengantinnya muat di tubuh mama. " Seru Nayla sambil memanyunkan bibirnya.
" Aku juga tidak tahu, badanku akhir - akhir ini mudah sekali lelah, padahal hari ini cuma mencoba baju tapi rasanya seperti sudah beraktifitas seharian. " Imbuh Nayla sambil memijit pelan pangkal hidungnya.
" Kamu mau mas panggilkan dokter ? " Rey merasa khawatir dengan keadaan istrinya.
" Gak usah, aku hanya butuh istirahat saja. " " Tolak Nayla. " Aku mandi dulu ya ! " Imbuhnya lagi.
Rey pun mengalah, lalu berdiri membiarkan Nayla turun dari tempat tidur dan melakukan keinginannya untuk mandi. Mata nya terus saja memperhatikan gerakan Nayla dengan raut wajah khawatir, hingga istrinya menghilang di balik pintu kamar mandi. Rey tak ingin istrinya kenapa - napa, dia duduk kembali di tepi tempat tidur untuk menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.
***
Happu reading. 😉😉
jangan lupa
LIKE
__ADS_1
COMMENT
VOTE sebanyak - banyak nya ya..! makasih