
Rey terdiam mencoba mencerna perkataan istrinya itu, benar juga selama ini Rey tidak pernah menganggap Gisella sebagai temannya, Rey hanya memastikan jika dia baik - baik saja. Sesuai dengan janjinya pada Martin sahabatnya. Dan tak pernah ingin tahu apakah Gisella kesepian atau tidak.
Rey menggenggam kembali tangan istrinya dengan erat dan menempelkannya pada pipi Rey dengan sebelah tangannya. Dan sebelah tangannya lagi di tempelkan pada perut istrinya.
" Maafin papa ya sayang, papa janji gak bakal jadi manusia yang jahat, dan pendendam sama orang lain. Papa akan menjadi yang terbaik buat kalian, biar papa pantas menjadi imam kalian. " Tutur Rey dengan lembut sambil mengelus- elus perut istrinya yang masih datar.
Nayla tersenyum senang, merasa terenyuh dengan ucapan suaminya tersebut, matanya berkaca - kaca tapi cairan bening itu tak sampai mengalir dari pelupuk matanya, karena dengan cepat menahannya. Dengan lembut Nayla menyentuh tangan Rey yang ada di perutnya. " Iya papa. makasih . " Ucapnya menyerupai suara anak kecil. Mereka berdua pun tertawa bersama.
Setelah Rey puas menemui istrinya, dia pun berpamitan untuk keluar ruangan, karena keluarga yang lainnya juga ingin bertemu dengan Nayla, sebenarnya beberapa orang boleh masuk bersama tapi mereka membiarkan Rey untuk masuk seorang diri saja.
Setelah Rey keluar kamar, giliran keluarganya masuk semua, kecuali Gisella dan juga Erfan yang terlihat duduk agak jauh dari ruangan Nayla berada.
Rey mengedarkan pandangannya mencari sosok Gisella dan Erfan, dan setelah melihatnya dia pun melangkah untuk menghampiri mereka berdua.
" Kamu mau menemui Nayla ? " Tanya Rey yang membuat Gisella yang sedang duduk sambil menundukkan wajahnya seketika mendongak ke atas melihat sosok Rey yang sedang berdiri di hadapannya.
" Aku.... iya, aku mau. " Jawab Gisella dengan gugup dan sedikit takut.
Rey kemudian tersenyum ramah, " Pergilah, temui Nayla ! "
Senyum Gisella seketika memgembang sempurna saat mendengar Rey memberikan izin padanya untuk menemui Nayla. Entah kenapa Rey bisa berubah seperti itu, tapi Gisella tak mau memikirkannya dulu, sebelum laki - laki itu berubah pikiran lagi, Gisella dengan cepat mengambil langkah seribu.
" Terimakasih Rey . " Ucap Gisella sambil berlalu.
Kini tinggallah Rey bersama dengan rekan bisnisnya Erfan, Rey mendudukkan tubuhnya di kursi kosong di samping Erfan.
" Maaf pak Erfan tadi saya sudah membentak anda . " Ucap Rey mendahului percakapan mereka.
__ADS_1
Erfan tersenyum tipis sambil memegang pundak Rey. " Jangan di pikirkan ! Saya mengerti, anda sangat mencemaskan keadaan istri anda itu. " Mereka berbicara dengan saling segan dan agak canggung seperti sedang meeting di perusahaan.
Tak lama mereka pun saling diam, hening seketika.
" Kita seperti sedang berada di kantor saja ya Rey ? maaf boleh aku panggil namamu saja ? " Kini Erfan yang memecah kesunyian.
Rey menoleh, lalu tersenyum lebar pada Erfan. " Tentu saja boleh, dari tadi aku mau berbicara seperti itu. Tapi rasanya tidak sopan jika aku memulainya duluan. Karena kita belum lama kenal. " Sahut Rey mengizinkan. Kaku sekali rasanya mulutnya tadi, walaupun terbiasa berbicara formal di depan rekan bisnisnya tapi kali ini berbeda, mereka bukan sedang dalam urusan kerja. Dan yang lebih membuat Rey tidak enak hati tadi dirinya sudah tidak tahu diri memarahi rekan bisnis nya dengan amarah tinggi.
Erfan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. " Sebenarnya aku sudah mengenalmu sejak lama Rey, tapi aku baru tahu jika dirimu adalah direktur di tempat ayahku menanam sebagian kecil sahamnya. Yang kini aku telah mengantikan beliau. " Ujarnya kemudian.
Rey mengernyit, menatap Erfan dengan sedikit bingung. " Kamu kenal aku dimana ? "
" Saat masih sekolah, waktu dirimu masih berpacaran dengan Gisella. "
Jawaban itu sontak membuat Rey terhenyak, siapa sebenarnya laki - laki ini ? Rey tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya, jadi tidak mungkin dia adalah teman sekolahnya.
Erfan menggelengkan kepalanya pelan. " Bukan, aku teman sekolahnya Gisella dan sudah lama menaruh hati padanya. Tapi Gisella tak pernah mau melihatku, dia selalu sibuk dengan sahabatmu itu. "
Rey semakin penasaran, dia memicingkan matanya saat Erfan menyangkutkan sahabatnya yang dekat dengan Gisella siapa lagi kalau bukan Martin. " Kau kenal Martin juga ? Dia satu sekolah denganku. "
" Aku tahu, tapi dia sering sekali bermain ke sekolahan kami, apalagi jika ada pertandingan olahraga. Dia yang paling rajin menampangkan wajahnya yang sok kegantengan itu. " Sahut Erfan dengan nada kesal jika mengingat kejadian waktu lalu.
" Tapi sekarang aku turut berduka karena katanya dia sudah tiada. " Imbuhnya lagi dengan lirih.
Rey termangu, dia tak habis pikir, ternyata selama ini Martin sering tebar pesona di sekolah lain, yang dia tahu sahabatnya itu pemalu dan pendiam. Apa benar yang Erfan katakan. Tapi Rey tak mau membahas orang yang sudah meninggal, tidak baik kata orang tua bilang.
" Iya Martin sudah meninggal, jadi aku mewakili dia untuk meminta maaf padamu jika dia ada salah padamu. " Ucap Rey dengan tulus.
__ADS_1
Erfan mengernyit, ternyata Rey tidak membenci sahabatnya itu, padahal Martin telah merebut Gisella dulu, apa sebenarnya Rey tidak tahu ?
" Apa kamu tidak tahu kisah antara sahabatmu dan mantan pacarmu Gisella ? " Erfan tak bisa menahan rasa penasarannya, dia tidak peduli jika Rey akan membenci sahabatnya itu jika memang dia belum mengetahuinya.
" Aku tahu, mereka kabur bersama meninggalkan aku." jawab Rey dengan sendu, mengingat kembali masa lalu membuatnya sedikit sesak. " Tapi tak apa, itu hanya masa lalu kini aku sudah menemukan istri yang luar biasa seperti Nayla. Anggap saja aku tidak berjodoh dengan Gisella. " Imbuh Rey dengan senyum yang merekah.
Jawaban itu sontak membuat Erfan termangu tak percaya, Rey begitu berbesar jiwa mengikhlaskan kekasihnya di bawa kabur oleh sahabatnya sendiri. Padahal dirinya saja tidak bisa terima saat Gisella tak merespon perasaannya.
" Kau menerima begitu saja ? aku pikir kau membenci Gisella sekarang karena masalah itu. " Tanya Erfan masih penasaran.
Rey menggeleng sambil tersenyum ringan. " Tidak, ada masalah lain yang tidak bisa aku katakan padamu. Tapi sekarang aku juga sudah memaafkannya. " Tutur Rey dengan tenang.
" Hatimu lapang sekali Rey, begitu mudahnya memaafkan orang lain, yang jelas - jelas sudah menyakitimu. " Puji Erfan sambil kembali menepuk pundak laki - laki yang duduk di sampingnya itu.
Rey hanya melontarkan senyumnya sambil membayangkan wajah istrinya yang selalu memberinya wejangan positif. Nayla membuat dirinya lebih baik.
" Itu karena istriku, hatinya lebih lapang dari padang sahara, dia selalu bisa memaafkan orang - orang yang telah menyakitinya. Katanya jadi manusia itu kita harus ikhlas, yang penting kita baik - baik saja. Dan pastikan orang itu telah menyesal dengan perbuatannya. Nayla adalah insprirasi dalam hidupku, dia segalanya. "
Erfan merasa kagum dengan sosok Nayla yang di ceritakan oleh Rey, walau hanya mendengar saja, tapi Erfan yakin Nayla memang wanita luar biasa karena terlihat Rey begitu sangat mencintainya dan mampu menerima seseorang yang sudah menyakiti kita itu sungguh hal yang sangat hebat. Tidak semua orang bisa melakukan itu.
***
Hai...readersku, cerita ini beberapa episode lagi mendekati tamat ya, soalnya authornya bingung bagaimana menarik minat pembaca untuk melirik cerita author yang receh ini, Sepertinya ceritanya kurang di minati, jadi authornya mau tamatin aja dulu.
Mau cari inspirasi lagi, buat cerita yang lebih seru lagi. Terus dukung author ini ya, biar semangat terus buat ngehalu. Baca cerita ku yang lain juga ya..
MY LOVELY IDIOT HUSBAND
__ADS_1
Klik Like, comment, share dan Vote yang banyak teman.. makasih ya yang sudah setia stay on di cerita ini.. love yu full dah..😍😍😍