Destiny Of Love

Destiny Of Love
Datang lagi


__ADS_3

Pagi- pagi Rey tampak sudah rapi dengan setelan kantornya, dia terlihat gagah dengan balutan jas berwarna hitam dan kemeja putih di dalamnya. Dia menghampiri Rania dan Rere yang sedang sarapan di meja makan. "Pagi mah, pagi Rere." Rey menyapa dengan senyuman yang menghiasi bibirnya, ia menarik satu kursi kosong lalu menduduki nya.


"Pagi anak mama yang paling ganteng, sini mama buatin roti nya." Balas Rania sambil mengambil satu helai roti dan memberinya selai.


"Cih...lebay banget sih mah." Umpat Rere merasa ibunya lebih perhatian sama abangnya. Dia mengunyah makanannya bersungut- sungut.


"Biasa aja dong dek makannya! Gak usah manyun- manyun gitu, nanti keselek kamu." Rey terkekeh melihat tingkah adiknya.


"Biarin, bukannya anak mama cuma abang aja, aku kenapa-napa juga mama gak akan peduli." Seru Rere dengan wajah kesal.


Rania mengenyit heran, sejenak dia menatap Rere, kemudiam tertawa kecil. "Ternyata anak mama ada yang cemburu toh? Kamu mau di buatin sarapan juga? Sini... Sini mama buatin!" Rania mencondongkan tubuhnya hendak hendak mengambilkan satu helai roti lagi untuk Rere. Tapi gadis itu menolaknya dengan tegas.


"Gak usah deh, Rere udah kenyang. Buat bang Rey aja. Rere mau berangkat sekarang." Ucap Rere lalu dia mendorong kursi nya dan berdiri. Setelah itu dia mencium tangan mama nya dan pamit pergi kuliah tanpa berkata apa-apa lagi.


Rey dan Rania memandang punggung Rere dengan tatapan bingung hingga Rere tidak terlihat lagi mereka masih terlihat mematung. "Kenapa si Rere mah?" Rey membuka suara sambil mengunyah roti yang sudah di masukan ke dalam mulutnya.


Rania menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan sikap anak bungsunya yang tiba-tiba seperti itu. "Gak tau mama juga Rey, mungkin sedang datang bulan." Sahutnya sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Nanti juga baik sendiri. Imbuhnya masih sambil mengunyah makanan.


Rey mengangkat bahu nya saja, lalu melanjutkan sarapannya. Rere memang seperti itu jika sedang kedatangan tamu. Moodnya akan berubah jelek tanpa alasan yang jelas.


"Kamu beneran udah sembuh Rey?" Rania bertanya di sela-sela makannya.


"Rey udah merasa lebih baik Ma, bosan juga di rumah terus, Nayla kan sudah tidak mau merawat Rey lagi, berarti Rey sudah sembuh dong." Tutur Rey dengan santainya.


"Terserah kamu sajalah, yang penting jangan terlalu capek dulu! Lambungmu habis di operasi, jadi kamu tidak boleh makan sembarangan. Mama udah siapin bekal untukmu." Ucap Rania sambil memberikan sebuah kotak makan lengkap dengan sendoknya.


Rey menaikkankan sebelah alisnya, "Aku bukan anak TK mah, aku gak mau." Tolak Rey dengan cepat. Masa iya seorang direktur harus membawa kotak makan ke perusahaan. Dan lebih sialnya lagi kotak makannya bergambar robot kucing berwarna biru yang sering di sebut anak-anak punya kantong ajaib di perutnya. Sungguh lucu bukan?


"Pokoknya kamu harus mau, bawa ini!" Rania memerintah dengan penuh paksaan, menyodorkan kotak bekal itu tepat di hadapan wajah Rey.


Rey tak bisa berkata-kata lagi, mau tidak mau akhirnya dia membawa bekal yang di berikan mamanya, nanti aku berikan pada Rere saja. Pikir Rey.


***


Saat istirahat pergantian jam pelajaran, Rere mencari keberadaan Nayla. Ia mengirim pesan singkat kepada sahabatnya itu dan mereka saling berbalas pesan singkat.

__ADS_1


Rere : Dimana lo?


Nayla : Perpus.


Rere : Ok..tungguin.


Nayla : Gue lagi belajar.


Rere : Ya terus???


Nayla : Lo minta gue tungguin kan? gue gak lagi lari. gue lagi BELAJAR.


Rere : Lo diem di situ tungguin gue dateng sambil duduk. Dodol!


Nayla : Owh...enak dong. bawain ya!


Rere : Apaan?


Nayla : Dodol.


Rere berdecak. "Nih anak minta gue pentung kayaknya." Gerutu Rere mengakhiri pesan singkat mereka, ia tak lagi membalas pesan singkat Nayla yang isinya hanya membuat moodnya semakin jelek saja. Dia memilih untuk pergi ke perpustakaan kampus menemui gadis itu. tapi di tengah perjalanan dia bertemu dengan Ardi dan kemudian mengajaknya sekalian ke perpustakaan menemui Nayla.


Nayla yang pegal dengan posisi duduk nya, mencoba meregang kan tubuhnya sedikit, dan saat dia menghadapkan tatapannya ke depan, dia melihat pemandangan yang membuat kedua sudut bibir nya tertarik ke atas dan membentuk satu senyuman usil disana.


"Hai Nay, kenapa lo senyum -senyum kayak gitu lihat kami berdua?" Rere mengernyit heran saat melihat Nayla tersenyum sendiri sambil pandangannya melihat ke arah dirinya.


"Sejak kapan kalian....? Ha....kalian mau ngajak gue ke kantin ya? Pasti mau ngasih gue PJ. Iya kan?" Seru Nayla dia mulai membereskan buku-buku nya.


Rere mengernyit tidak mengerti. "PJ apaan?" Tanyanya bingung.


"PJ...Pajak Jadian." Seru Nayla menjelaskan dengan wajah sumringah, "Kalian berdua kesini mau bilang ini kan? Lihat tuh tangannya juga gak mau lepas!" Imbuh Nayla sambil terkikik geli, karena melihat Rere menggengam tangan Ardi.


Rere membelalakan matanya, dia tak sadar kalau tangannya belum lepas dari tangan Ardi saat ia menariknya barusan, Rere langsung melepaskan genggamannya. Mereka berdua pun jadi salah tingkah. "Gak gitu ceritanya, gue gak sengaja ketemu Ardi di depan. Iya kan Ar?" Rere mencoba menyakinkan Nayla. Menatap wajah Ardi yang masih kebingungan di tempatnya. Lalu pria ia mengangguk dengan cepat saat tangan Rere menepis lengannya dan kembali tersadar.


Nayla menautkan kedua alisnya. Dia tak percaya. "Bohong? Kalau gak sengaja ketemu kenapa kalian berdua ngirim pesan ke gue secara bersamaan nanyain gue dimana, berarti lo berdua udah janjian kan?" Nayla semakin menggoda Rere, dia tahu kalau Rere ada perasaan sama Ardi, dan selalu mencari kesempatan buat menyatukan mereka, dan hal ini membuat Nayla jadi punya kesempatan. Dan itu membuat wajah Rere memerah laksana buah tomat.

__ADS_1


Rere menoleh ke arah Ardi. "Kamu ngirim pesan ke dia juga?" tanya nya.


"Iyah.." Jawab Ardi singkat.


"Tuh kan bener." Nayla kembali menggoda.


"Lo tuh ya..." Rere mendengus lalu dia pergi meninggalkan Nayla dan Ardi dengan perasaan kesal.


"Eh... Eh... Rere.... Tungguin gue!" teriak Nayla sambil berlari mengejar sahabatnya itu.


Ardi masih tertegun di tempatnya, dia masih bingung apa sebenarnya maksud Nayla. Terus kenapa Rere mesti marah, bukannya Nayla cuma bercanda saja. Pikir Ardi.


"Re... Jangan ngambek dong!" Bujuk Nayla saat sudah berhasil mengejar Rere, kini mereka sedang duduk di sebuah bangku panjang yang berada di taman kampus.


Rere memcebikkan bibirnya sambil memalingkan wajahnya, masih kesal dengan kelakuan sahabatnya.


"Gue kan cuma bercanda doang." Rayu Nayla sambil merangkul tangan Rere. Dan memasang wajah bersalah.


Rere menoleh ke arah Nayla, menatap wajah itu dengan tatapan tajamnya. "Becanda lo gak lucu ya!" Seru Rere membuka suara. "Lo tahu gak? Gue malu tau tadi di depan Ardi. Lo kan tahu perasaan gue ke dia gimana?" Suara Rere terdengar begitu kecewa. Entah kenapa sahabatnya tak bisa mengerti perasaannya.


"Iya... Gue salah, maafin gue yah? Janji deh gak bakal jodoh-jodohin lagi." Ucap Nayla dengan sangat menyesal.


Rere mendengus kesal, tapi ia juga tak bisa menyalahkan Nayla sepenuhnya, tadi memang suasananya sangat mendukung untuk semua orang berpikiran seperti itu. "Ia gue maafin." Rere mencoba mengendalikan emosi.


"Senyum dong!" Nayla melebarkan senyumnya, berharap Rere melakukan hal yang sama. Dan gadis itu pun melakukannya. Mereka saling melemparkan senyum lalu berpelukan satu sama lain. Begitulah arti persahabatan yang tidak mudah luntur hanya karena satu kesalahan kecil.


Rere bukannya tidak mau di jodohkan dengan Ardi, gadis itu memang sudah memiliki perasaan lebih terhadap lelaki itu. Tapi Rere hanya ingin jika Ardi mencintainya atas dasar keinginannya sendiri. Bukan karena paksaan atau suruhan orang lain, dia hanya ingin Ardi menyukai nya dengan tulus. Walaupun Rere mencintai Ardi tapi sebagai wanita tentunya dia juga harus punya harga diri, dia ingin membuat Ardi jatuh cinta padanya dengan caranya sendiri. Karena dia tahu kalau di hati Ardi selama ini cuma ada Nayla.


Sesaat kemudian pelukan itu pun terlepas. Keduanya bersikap seperti biasanya, saling melemparkan canda dan kadang juga tertawa bersama.Tapi tiba-tiba saja Nayla membulatkan matanya sempurna sambil menelan salivanya dengan berat ketika dirinya melihat sosok seseorang yang tidak ingin dia temui sedang berjalan dari arah belakang Rere menghampiri mereka berdua. Membuat Rere mengernyit heran dengan perubahan wajah sahabatnya yang tiba-tiba.


"Ternyata dia benar- benar kesini." Gumam Nayla pelan, tapi masih terdengar oleh Rere.


"Siapa sih?" Rere langsung memutar kepalanya ke belakang, merasa penasaran dengan siapa orang yang membuat Nayla berubah tegang.


Sesaat kemudian senyumnya mengembang dengan sempurna saat melihat sosok siapa yang datang. "Bang Rey?" Serunya tak percaya.

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2