Destiny Of Love

Destiny Of Love
Kejahilan Dio


__ADS_3

Sore itu, Nayla kembali kerumahnya dengan wajah sangat lesu. Dia terlihat sangat kelelahan, karena tadi sempat tertahan oleh dosen pembimbingnya untuk mengerjakan beberapa revisi makalah nya. Setelah memarkirkan motor cantiknya di teras depan rumahnya, Nayla langsung bergegas masuk ke dalam rumah.


Ketika sampai di dalam, dia melihat Dio adiknya sedang fokus membaca buku sambil bersimpuh di lantai dan kepalanya menopang diatas meja.


Terlihat banyak buku pelajaran yang bertumpuk di depannya. Dia seperti sedang mengerjakan suatu tugas. Dan sesekali menggigit ujung pulpennya, karena rasanya soal tugasnya itu sangat sulit untuk diselesaikan.


Nayla sejenak memperhatikan adiknya. "Tumben kamu ngerjain PR?" ucapnya meledek.


Dio hanya melirik tajam ke arah kakaknya yang berdiri di hadapannya itu, dan kembali menatap bukunya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Ibu mana Dek?" tanya Nayla yang kemudian duduk di kursi panjang yang berada si belakang Dio. Sedikit mengintip tugas apa yang sedang di kerjakan oleh adiknya tersebut.


Tapi Dio masih terdiam tidak mau menjawab pertanyaan kakaknya, sehingga Nayla di buat kesal dengan sikap acuh adiknya. Nayla dengan cepat menarik buku yang sedang Dio baca.


Dio sontak berdecak, lalu berbalik ke arah kakaknya. "Ganggu aja sih kak, kembaliin gak?" bentak Dio.


"Kamu sih gak sopan, di tanya gak mau jawab," seru Nayla sedikit kesal. Sambil mengacungkan buku adiknya ke udara.


"Ibu lagi ke warung," ucap Dio sambil berdiri dan merebut bukunya kembali.


Nayla tersenyum puas. "Gitu kek dari tadi," ucapnya sambil melipatkan kedua tangannya di atas dada.


Dio kembali membuka lembaran-lembaran bukunya nya, mencari halaman tugas yang sedang di kerjakannya tadi, lalu fokus berpikir lagi.


"Ngerjain apa sih?" tanya Nayla penasaran karena selama ini ia tidak pernah melihat adiknya mengerjakan tugas sekolahnya di rumah.


"Tumben banget kamu ngerjain tugas?" sambung Nayla lagi.


Dio berdecih. "Kakak aja yang gak pernah lihat. Dio kan biasanya ngerjain tugas di kamar," decak Dio tanpa melihat ke arah kakaknya.


"Terus, sekarang ngapain kamu ngerjain disini?" tanya Nayla sambil mengangkat kedua alisnya.


Dio menegakkan tubuhnya, lalu menyenderkannya pada bangku di bekalang yang sedang di duduki Nayla. " Di kamar gerah, ini soalnya susah banget jadi Dio gak bisa mikir," ucap Dio sambil memejamkan matanya, rasanya sudah kehabisan akal bagaimana cara mengerjakan tugasnya itu.


"Terus disini bisa mikir?" Nayla masih bertanya.

__ADS_1


Dio membuka matanya dan menoleh ke arah kakaknya dengan sedikit mendongak. "Enggak juga," jawab Dio dengan polosnya.


Nayla terkekeh. "Sama aja, dong," ucapnya sambil mengetuk pelan kening adiknya.


"Ajarin dong kak!" pinta Dio dengan memelas.


Nayla mencebikkan bibir. Lalu mengambil bukunya lagi dan memperhatikan soal pelajaran adiknya itu.


"Ini cuma pecahan desimal. Masa kamu gak bisa?"


Dio mendelikkan matanya. "Kakak ini sudah kuliah tentu saja bilang mudah, Dio ini masih SMP," ucap Dio sambil beranjak dari bawah lantai dan duduk di bangku di samping kakaknya.


"Kamu cuma ngeles aja, ini pelajaran anak SD," Nayla mencibir sambil memberikan bukunya pada Dio.


"Ya udah ... kalau memang mudah kerjain, dong! pinta Dio dengan manja.


"Ih ... gak mau. Kerjain aja sendiri! Mending kakak mandi," tolak Nayla sambil beranjak berdiri lalu pergi dan melambaikan tangannya meledek Dio.


Dio menatap kepergian kakaknya dengan wajah yang masam, tampak bibirnya bergerutu tak jelas. Beberapa umpatan ia lontarkan kepada kakaknya tersebut tapi tak berani dia utarakan langsung karena takut dihajar oleh kakaknya.


***


Saat dia melihat layar ponselnya, terlihat satu pesan WA berasal dari nama si Agen, Nayla mengerutkan dahi. Ia merasa malas mau membuka pesan tersebut. Semenjak hubungan mereka di resmikan oleh Rere. Rey selalu mengirimkan pesan WA yang isinya sukses membuat Nayla bergidik geli. Dan akhirnya panggilan itupun tercetus di pikirannya Si AGen alias Si Abang Genit.


[Hai, Sayang ... lagi apa?] ~Si Agen


Nayla mengernyit tapi dia tersenyum juga, kemudian mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.


[Aku baru pulang, sekarang mau mandi.] ~Nayla


[Ah ... andai aku disana, aku akan membantumu.] ~Si Agen.


Nayla kembali mengernyit dahi, kemudian membalas lagi.


[Kamu mau bantu apa? aku bukan anak kecil yang harus dibantu mandi.] ~Nayla.

__ADS_1


[Aku akan membantu mu melakukan hal lain, seperti ....]


Nayla mengerti tulisan Rey sedang mengarah kemana, dia langsung menyimpan ponselnya di atas kasur, karena jika dilanjutkan, Rey akan semakin gila saja. Nayla mengabaikan pesan terakhir Rey di aplikasi WA-nya dan kembali mengambil handuknya. Lalu keluar menuju kamar mandi yang berada dekat dapur di luar kamarnya.


Berselang beberapa menit Nayla keluar dari kamar. Dio yang tidak tahu Nayla sudah pergi mandi langsung membuka pintu kamar Nayla berniat meminta bantuan kakaknya untuk mengajarinya mengerjakan tugas sekolahnya, karena Dio sudah benar-benar buntu.


Dio menyembulkan kepalanya dari luar, dan menyapu seluruh ruangan kamar. Dio mendorong tubuhnya masuk, tapi tak menemukan Nayla di dalamnya.


Lalu mata Dio tertuju pada ponsel milik Nayla yang berbunyi menunjukkan ada satu pesan masuk disana. Dio tampak penasaran dan melihat isi pesan WA di ponsel kakaknya, kebetulan Nayla tidak memakai sandi apapun di ponselnya.


Hanya ada perintah geser di layar depannya saat ponsel di nyalakan. Sehingga dengan mudah Dio melihat semua isi percakapannya dengan Rey tadi.


Dio menarik kedua sudut bibirnya sehingga membuat senyum menyeringai di sana. Lalu dengan jahil dia mengetikan sesuatu di papan layar ponsel milik kakaknya tersebut, setelah itu menekan tombol kirim. Kemudian dia menyimpannya kembali ke tempat semula.


Dio terkekeh geli, mengingat apa yang dia ketikkan pada ponsel Nayla tadi. "Aku penasaran siapa itu si Agen?" gumamnya pelan sambil cekikikan.


"Ngapain kamu di sini?" Suara cempreng Nayla sontak membuat Dio tersentak. Ia sangat terkejut karena kakaknya sudah berdiri sambil berkacak pinggang di ambang pintu. Dio lupa menutup kembali pintu kamar kakaknya dulu.


Dio nampak gugup. "Eh ... anu, Kak." Dio jadi bingung.


"Anu apa?" Nayla melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar. Ia menatap adiknya dengan tatapan penuh curiga.


"Ehm ... tolong ajari Dio ngerjain ini, dong! Dio benar-benar gak bisa," ucap Dio sedikit ragu.


Nayla mengedikkan bahu, lalu duduk di tepi tempat tidurnya. Kemudian menoleh pada ponsel miliknya lalu mengecek apakah ada pesan masuk lagi dari kekasihnya. Tapi karena Dio sudah membukanya terlebih dulu, notif pesan itupun sudah hilang di atas layar depan ponsel Nayla yang masih terkunci. Nayla pun menyimpan nya kembali tanpa curiga dan membuka isi pesan WA-nya.


Dio sejenak menahan nafasnya, lalu membuangnya kasar. Untung saja pesan misterius yang ia kirim pada Rey dan balasannya tadi sudah di hapus, jadi Nayla tidak akan tahu apa yang di lakukannya tadi.


"Tunggu aja di ruang tengah! Kakak pakai baju dulu, nanti kakak bantu mengajarimu," ucap Nayla sambil membuka lemari nya dan memilih baju untuk dia pakai.


Dio menggangguk, lalu dia beranjak pergi ke ruang tengah untuk menunggu kakaknya mengajarinya mengerjakan tugas itu.


***


bersambung dulu...

__ADS_1


Tambah vote dan juga tinggalkan like dan komentarnya ,ya! Amih sangat berterima kasih atas dukungan pembaca sekalian.


__ADS_2