Destiny Of Love

Destiny Of Love
Ingin berdua


__ADS_3

Jordy hanya mengangguk-anggukkan kepala nya pelan, dia pun sekarang mengerti rasa bersalah yang di alami bosnya, tapi menurutnya itu bukan sepenuhnya kesalahan Rey, Martin juga salah kenapa dia tidak jujur saja pada Rey. Sehingga Rey tidak merasa patah hati yang mendalam pada Gisella, dan menunggunya sampai bertahun-tahun.


"Kamu tidak sepenuhnya salah bos, mereka juga salah karena telah membohongi perasaan mereka sendiri." Ucap Jordy menenangkan hati Rey.


Rey menghela nafas, "Mungkin iya, tapi aku tetap masih punya hutang budi pada Martin, aku tidak bisa begitu saja melupakan jasanya padaku." Rey kembali mengambil cangkir teh nya dan meminum teh itu sampai habis.


"Tapi rasa bersalahmu ini, akan membuat kesalahpahaman buat Nayla, dia akan berpikir kalau kau masih mencintai Gisella." Sahut Jordy menasihati.


"Aku akan menjelaskannya nanti, aku tahu dia sangat cemburu jika aku sedang membela Gisella jika didepannya." Ucap Rey sambil beranjak berdiri. Dia hendak pergi ke kamar nya, karena Rey tinggal di kamarnya sendiri di villa itu, sedangkan Jordy sekamar dengan Ardi.


"Aku ke kamar dulu, mau istirahat." imbuh Rey,lalu berjalan menuju kamar nya. Jordy hanya menatap punggung Rey sampai hilang di balik pintu.


Setelah sampai di dekat kamarnya, Rey melihat Nayla yang baru keluar dari kamarnya, karena kamar mereka berdekatan. Rey menunggu Nayla di depan kamarnya, Nayla pasti akan melewati kamar itu, karena kamar Nayla berada di ujung kamar Rey.


Deg! deg!


Nayla jadi tidak tenang saat melihat Rey yang berdiri di depan kamarnya sambil menyandarkan tubuhnya di tembok, dengan tangannya yang melipat di depan dada. Nayla pun pura-pura tak melihat Rey, dia melewati Rey begitu saja, hingga membuat Rey geram dan mencekal tangan Nayla.


"Kau pikir aku ini patung, ya?" seru Rey dengan kesal, dia mendekatkan tubuh Nayla hingga jarak mereka hanya beberapa senti saja.


Nayla berusaha meronta dan melepaskan tangan Rey, tetapi tidak bisa. "Lepaskan, Mas! Nanti ada yang lain lihat," pinta Nayla sambil terus berusaha melepaskan tangannya.


Rey menyeringai. "Kalau begitu ikut aku!" ajak Rey menarik tangan Nayla, Rey dengan cepat membuka pintu kamarnya dan membawa masuk Nayla ke dalam kamar.


"Eh ... eh ... ngapain kesini?" Nayla tak terima dirinya di tarik masuk ke dalam kamar Rey, pasti Rey akan berbuat macam-macam padanya.


Rey melepaskan tangan Nayla, lalu dia berjalan menuju pintu dan mengunci pintunya, menyimpan kuncinya dalam saku dan kembali ke arah Nayla. "Kau sendiri yang bilang kalau di luar takut ada yang lihat, kalau di sini kita bebas, kan?" Rey mulai memainkan alisnya sebelah, tatapannya terlihat berbeda.


Nayla melangkah mundur, dia langsung berlari ka arah pintu, saat dia sadar pintu nya di kunci dan ternyata kuncinya juga tidak ada, dia kembali berbalik menghadap Rey. "Kau cari ini?" Rey menunjukkan kunci pintu dan dengan cepat memasukkannya kembali ke dalam sakunya.

__ADS_1


"Mas, jangan macam -macam, ya! Aku bisa saja menghajarmu di sini, kalau kamu berani memaksaku." Nayla mulai ketakutan, dia tak mungkin membiarkan Rey melakukan sesuatu yang di luar batas hubungannya.


Rey berdecak. "Begitu buruk kah aku di pikiranmu Nayla? Kau selalu curiga padaku, apa aku terlihat seperti seorang pria perusak wanita?" Rey kecewa dengan sikap Nayla yang tidak pernah mempercayai Rey selama ini.


Nayla hanya terdiam, matanya menatap lekat kedua mata Rey, terlihat jelas gambaran kekecewaan tersirat di mata itu. "A—aku ...." Nayla terbata.


Rey kemudiam berjalan ke arah Nayla yang sedang berdiri di depan pintu, dan mengambil kunci di dalam sakunya. Nayla pun menatap Rey yang melewatinya dan membuka kunci pintu tersebut. "Keluarlah! Jika kamu takut berdua denganku," seru Rey dengan nada kesal.


Nayla terdiam, dia menatap sayu wajah Rey,


"Apa kau marah?" Nayla mencoba menyenangkan hati Rey.


"Tidak," sahut Rey ketus. "Aku hanya ingin berdua denganmu," Imbuh Rey sambil menatap manik-manik mata Nayla yang indah.


Nayla menatap sendu wajah Rey, "Aku minta maaf!" Ucapnya lirih.


Rey tersenyum. "Aku tidak bisa marah padamu. Kamu mau tetap keluar?" Imbuh Rey menawarkan Nayla lagi.


"Kamu suka?" Tanya Rey di samping telinga Nayla.


"Hmm ...." Nayla mengangguk dengan cepat.


"Aku hanya ingin menunjukkan ini," Ucap Rey lagi.


Nayla pun menoleh ke arah Rey, "Kenapa gak bilang dari tadi ? Hampir saja aku akan menghajarmu tadi," decak Nayla kesal.


Rey mengerutkan dahi. "Apa ini resiko punya pacar seorang jagoan? Jika aku punya salah, kamu akan langsung menghajarku, 'kah?" Tanya Rey bergidik ngeri.


Nayla tertawa kecil. "Apa kau takut?" godanya.

__ADS_1


Bukannya takut Rey malah merengkuh pinggang Nayla, "Aku tidak takut, kalau kau menghajarku, aku akan pasrah saja, berarti saat itu aku memang benar-benar salah." ucapnya dengan nada yang sangat lembut. Membuat hati Nayla berdesir tak karuan.


"Tapi, jika sudah menikah nanti, jika kau melakukan kesalahan aku yang akan menghajarmu habis-habisan," Imbuh Rey, membuat Nayla tersentak dan dengan cepat melepaskan tangan Rey di pinggang nya.


"Apa Mas akan melakukan KDRT padaku?" Nayla menajamkan kedua alisnya.


Rey tertawa, kemudian kembali merangkulkan tangannya di ceruk leher Nayla "Aku akan menghajarmu di atas kasur habis-habisan, melakukan kewajibanku sebagai seorang suami, sampai kau menyerah dan bilang ampun padaku, apa itu termasuk KDRT?" Goda Rey sambil sedikit mencondongkan sedikit wajahnya.


Nayla tersipu, dia mengerti maksud dari ucapan Rey itu, "Kenapa di otakmu cuma ada hal-hal mesum saja?" ucap Nayla sambil mengerucutkan bibirnya.


Rey menatap wajah Nayla, dia sangat gemas melihat bibir Nayla seperti itu, dia menelan ludahnya dengan berat. "Bagaimana aku tidak berpikir mesum, jika kau selalu menggodaku seperti ini." Rey mengecup bibir Nayla yang masih manyun.


Nayla terkesiap, "Kau mulai lagi?" Decak Nayla.


Rey tersenyum cengengesan. "Aku cuma minta itu, tidak akan lebih," ucapnya dengan tatapan penuh arti.


"Boleh, kan?" imbuhnya dengan lirih.


Nayla terdiam, sebenarnya dia juga ingin berduaan dengan Rey, dan dia juga kadang tak bisa menahan hasratnya ketika berdua dengan lelaki yang di cintainya itu, makanya dia selalu berusaha untuk menjauh dari Rey sebelum mereka benar-benar halal satu sama lain. Dia takut tidak bisa mengendalikan hasratnya.


Nayla memejamkan matanya, dan mengangguk dengan pelan, Rey pun tak menyia-menyiakan kesempatan itu. Maka terjadilah apa yang Rey mau.


"Aku semakin tidak sabar menjadikanmu sebagai istriku," Ucap Rey dengan penuh harapan. Nayla hanya tersenyum malu menanggapinya.


****


Spoiler dikit nih....konflik baru belum di mulai ya readers....perjalanan cinta Nayla masih panjang.


Jangan lupa klik Like , koment , favorit ya...

__ADS_1


dan Vote nya lebih banyak lagi..


salam hangat dari author..


__ADS_2