Destiny Of Love

Destiny Of Love
Masa lalu


__ADS_3

Keesokan harinya, Tina dan Dimas pergi ke penjara untuk membesuk Nayla, sesampainya di kantor polisi ternyata Rey juga datang kesana dan mereka bertemu di halaman kantor polisi saat Rey juga akan masuk ke dalam. Langkahnya terhenti saat kedua matanya menangkap sosok kedua orang tua Nayla yang kebetulan baru datang.


"Paman, tante, kenapa tidak menghubungi ku dulu kalau mau kesini? Tahu gitu kan bisa bareng." Rey menyapa kedua orang tua Nayla dan mencium punggung tangan keduanya.


Tina dan Dimas saling pandang, mereka sedikit heran kenapa Rey bisa ada disana. "Nak Rey ada disini juga ya? Ada perlu apa?" Tanya Tina yang menyangka jika Rey ada keperluan lain pergi ke tempat seperti itu. Bukan tanpa alasan Tina bertanya seperti itu, Rey adalah orang lain dan juga bukan kekasih anaknya. Jadi ia tidak sampai berpikir jika Rey sengaja datang untuk membesuk Nayla.


"Tentu saja mau besuk Nayla tante. Aku hampir setiap hari ke sini." Jawab Rey sambil tersenyum lebar.


Ada kelegaan tersendiri di hati kedua orang tua Nayla,ternyata masih ada orang yang peduli dengan anak mereka. Tina jadi ingat saat ia bertanya pada Nayla tentang perasaannya pada Rey. Melihat kesungguhan Rey sepertinya Rey benar-benar mencintai anaknya.


"Kita bareng aja paman, tante." Rey mengajak kedua orang tua Nayla untuk masuk bersama-sama menemui pujaan hatinya itu. "Kalian bisa bertemu Nayla lebih dulu. Ada hal yang perlu aku tanyakan lagi pada polisi mengenai kasus Nayla." Imbuhnya lagi.


Dengan senang hati Tina dan Dimas mengikuti langkah kaki Rey untuk masuk kedalam. Tapi selintas tawaran Panji terpikir di otaknya. Hingga menghentikan langkah kakinya. "Mungkin ini kesempatanku untuk bicara pada Rey tentang tawaran Panji." gumam Dimas dalam hati.


Tina yang menyadari kalau suaminya tidak mengikuti nya dan Rey menoleh pada suaminya tersebut. "Ada apa yah, kenapa diam saja di situ?" Tanya Tina sedikit heran. Rey juga mendengarnya lalu menghentikan langkahnya dan juga ikut menoleh pada Dimas.


Dimas tersenyum tipis lalu berjalan menghampiri Tina, "Sebaiknya ibu sendiri dulu menemui Nayla, ada sesuatu yang ingin ayah bicarakan dengan Rey. Bisa kan Rey?" Dimas mengalihkan pandangannya pada Rey, tentu saja Rey menyetujui ajakan bakal calon mertuanya itu. Apapun ia akan lakukan untuk merebut hati orang-orang terdekat Nayla.


"Mau ngomongin apa sih? Jangan main rahasia-rahasia an deh!" Cebik Tina sambil mendengus kesal.


"Gak ada rahasia, nanti ayah ceritain ke ibu. Udah sana! Nanti makanannya keburu dingin itu." Dimas membujuk sang istri agar tidak curiga padanya. Dan terpaksa Tina mengikuti perintah suaminya.


Tina mengangguk. "Ya udah, jangan lama-lama."


"Iya.... " Dimas mengangguk.


"Kalau sudah selesai telepon ayah, ya, kami akan ngobrol di kafe itu." Ucap Dimas sambil menunjuk sebuah kafe yang berada di seberang kantor polisi. Mata Tina mengikuti arah telunjuk Dimas kemudian mengangguk. Lalu melanjutkan niatnya untuk menemui Nayla.


"Mari paman!"


Rey mengajak Dimas menuju sebuah kafe yang tak jauh dari sana.


Setelah sampai di kafe tersebut Rey memesan dua cangkir kopi pada pelayan disana.


Rey menautkan jari-jari tangannya dan menopangkan nya di atas meja. Ia menunggu apa yang akan di bicarakan oleh lelaki paruh baya yang sedang duduk di hadapannya itu. "Jadi paman mau bicara apa?" Tanya Rey membuka perbincangan mereka.

__ADS_1


Dimas terlihat gugup, dia bingung mau mulai dari mana menceritakan masalahnya itu. "Begini Rey, sebenarnya.... Ana masih hidup." Seru Dimas sedikit ragu. Ia menatap serius ke arah Rey, takut-takut jika lelaki muda itu tidak percaya dengan perkataannya.


Rey membulatkan matanya, dia sangat terkejut mendengar ucapan Dimas. "Paman yakin? Bukannya pihak rumah sakit sudah menyatakan Ana meninggal? Darimana paman tahu?" Karena ragu, Rey memberondong banyak pertanyaan pada Dimas.


Dimas menelan ludahnya, dia sedikit ragu untuk menceritakan masa lalu nya pada Rey, "Sebenarnya ... semua kejadian yang menimpa Nayla adalah akibat dari kesalahan paman dimasa lalu, ada seseorang yang mengatur semua ini. Nayla benar-benar dijebak. Dan alasannya karena paman." Ucap Dimas dengan nada sendu.


Rey mengangkat kedua alisnya. "Masa lalu paman?" Tanyanya.


"Hmmm..." Dimas mengangguk.


"Boleh aku tahu?" Pinta Rey sedikit ragu. Rasanya tidak sopan untuk menanyakan masa lalu seseorang.


Dimas menghela nafas kasar. Tidak ada pilihan lain baginya selain menceritakan masalah ini pada Rey. Mungkin saja lelaki itu bisa membantunya. "Tentu saja, paman akan menceritakannya padamu, paman harap kamu bisa membantu paman mengatasi masalah ini." Ucapnya yang terjeda sebentar saat seorang pelayan membawakan dua cangkir kopi pesanan mereka tadi.


Setelah mengucapkan terimakasih pada pelayan Dimas kembali fokus pada ceritanya. Ia pun menceritakan kisah masa lalu nya, tentu saja awal hubungan pernikahannya bersama Tina pun tak luput ia ceritakan. Rey jadi paham, kenapa Nayla selalu menolaknya. Mungkin inilah alasannya Nayla tidak mau nasib cintanya sama dengan kisah percintaan ibunya.


***


Di Penjara.


"Iya sayang. Maafin ibu ya! Ibu gak tiap hari bisa nengokin kamu." Ucap Tina dengan wajah sendu.


Nayla menatap ibunya dengan tatapan sedih. "Gak apa-apa kok bu. Aku baik-baik aja di sini. Bagaimana kabar Dio? Apa dia masih banyak makannya" Nayla mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tak mau melihat ibunya selalu sedih jika memikirkan nasib dirinya.


Tina menarik bibirnya segaris. Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak menangis.


"Dio masih sama, makannya tetap banyak. Tapi dia juga merindukan kakaknya. Dio titip salam. Katanya dia selalu berdoa semoga kamu cepat bebas."


"Aamiin." Sahut Nayla


Keheningan sejenak melingkupi keduanya. Lalu Tina ingat dengan suaminya yang sedang ngobrol dengan Rey, kenapa lama sekali? Pikirnya.


"Eh.... Nay, apa Rey tiap hari kesini?" Pertanyaan itu kemudian terlontar untuk memecah keheningan mereka.


Nayla tersentak, kenapa tiba-tiba ibunya bertanya tentang hal itu? Apa karena tadi ia bertemu dengan Rey di luar? Apa Rey mengatakan sesuatu pada orang tuanya?

__ADS_1


Nayla tahu jika orang tuanya bertemu dengan Rey di luar, karena sebelumnya Tina sudah mengatakan saat Nayla kenapa ayahnya tidak datang.


"Ehm.... Iya." Jawab Nayla sedikit gugup.


Tina terkekeh. "Kenapa jadi gugup gitu?" Tina menggoda anaknya.


Nayla jadi salah tingkah, ia yakin wajahnya sudah berubah merah. "Aku gak gugup." Sanggah nya.


Tina mengerutkan dahi. "Yang bener?" Desak Tina.


"Ibu tahu, Rey menyukai kamu, dan kamu juga menyukai dia." Imbuh Tina sambil menahan senyumnya.


Nayla menelan ludahnya dengan berat "Aku..."


"Jangan berbohong, ibu sudah tahu." Sela Tina memotong keraguan anaknya. Tina yakin jika Nayla hendak membantahnya.


Nayla terpaku. "Darimana ibu tahu?" tanya Nayla sedikit malu.


"Aku ini ibu kandungmu , kamu tidak bisa menyembunyikan apapun dari ibumu ini, ibu hanya ingin mengingatkanmu kalau....."


"Aku sudah tahu bu, tak perlu ibu ingatkan lagi! Aku mengerti dengan statusku saat ini, jadi ibu tidak usah khawatir. Aku bisa menyimpan perasaan ku ini, aku cukup tahu diri." Nayla memotong ucapan ibunya. Ia berpikir jika ibunya akan melarangnya seperti waktu itu.


Tina bingung dengan ucapan anaknya, sebenarnya bukan itu yang ingin dia katakan, mungkin Nayla salah paham dengan tanggapan ibunya pada perasaan Nayla terhadap Rey.


Tina mulai sadar kalau Rey benar-benar mencintai anaknya dan dia tidak mau nasib percintaan nya di masa lalu harus di alami oleh Nayla juga, walaupun memang akhirnya dia bisa mencintai ayah Nayla tapi sesungguhnya perpisahannya dengan mantan kekasihnya dulu sangatlah menyakitkan.


Saat Tina mau menjelaskan lagi, kedatangan petugas yang memberitahu jika jam besuknya sudah selesai mengurungkan niatnya itu. Dan terpaksa menelan kembali ucapannya yang tercekat di tenggorokan.


Nayla seketika muram, dia masih kangen ibunya, "Aku bahkan belum ketemu ayah, lama banget sih ngobrolnya?" Protes Nayla.


Tina mengerti, ia juga masih kangen dengan sang putri. "Nanti ibu dan ayah ke sini lagi. Kamu jangan sedih gitu dong. Mereka mungkin lagi ngomongin masalah penting." Seru Tina membuat Nayla mengangguk paham.


****


Bersambung dulu...

__ADS_1


__ADS_2