Destiny Of Love

Destiny Of Love
MENCARI TAHU


__ADS_3

Rey dan Jordy langsung kembali ke perusahaan mereka setelah mengisi acara di kampus Nayla, dan mereka kini telah sampai di kantor dan turun dari mobil nya, Rey masuk menduhului Jordy, Rey jadi bersikap aneh saat itu dia menyapa setiap karyawan yang bertemu dengan nya ketika menuju ke ruangan kerjanya di lantai 5, Jordy juga merasa ada yang aneh dengan bos nya itu, bos yang terkenal kaku dan dingin tiba - tiba saja berubah menjadi ramah dan sering tersenyum sendiri bahkan saat mereka masih berada dalam mobil di perjalanan menuju kantor.


"Bos apakah anda baik- baik saja?" tanya Jordy penasaran setelah mereka sampai dan masuk ke ruang kerja Rey.


Rey langsung duduk di kursi kebesarannya, hendak membuka beberapa berkas yang sudah menumpuk disana. Dia pun tersenyum mendengar pertanyaan Jordy. "Kenapa memang nya? Aku baik- baik saja." Jawabnya.


Jordy hanya menggelengkan kepala nya pelan dan semakin takjub melihat perubahan bos nya, tumben sekali Rey menjawab pertanyaan sambil tersenyum seperti itu. "Apa dia kesambet waktu mengisi acara di kampus itu ya?" pikir Jordy.


"Tidak apa bos, mungkin aku yang terlalu berhalusinasi dari tadi selalu melihat bos yang senyum- senyum sendiri." Tambahnya kemudian.


Rey kemudian tertawa mendengar ucapan asistennya tersebut, dan melanjutkan kembali membuka dan membaca berkas nya. "Aku tidak apa-apa, pergilah urus pekerjaanmu!" Perintah Rey tanpa melihat pada Jordy.


"Baik bos." Ucap Jordy seraya pergi meninggalkan ruangan bosnya.


Ketika Jordy hendak menuju ke ruang kerjanya tanpa sengaja dia mendengar percakapan karyawan lain yang tengah membicarakan bos ganteng nya itu.


"Eh, kamu tau gak? Tadi tuh ya, aku dapat senyuman yang pertama dari Ceo kita, ya...ampun senyumnya manis banget terus dia nyapa aku pula." Ucap karyawan wanita yang bernama Rika sambil memegang kedua pipinya dan tersenyum.


"Masa sih Rik?" Tanya Santi teman kerja Rika di bagian marketing itu dengan herannya. "Seumur- umur aku kerja disini gak pernah tuh lihat bos kita senyum." Tambahnya lagi.


Rika masih senyum- senyum seperti orang yang sedang mabuk kepayang, kemudian menopang kan tangan di dagu nya. "Bener tahu San, kayak nya aku kesemsem deh sama si bos, masa dari tadi wajahnya terus yang ada di mata aku." Ucap Rika dengan pandangan jauh ke depan.


Santi kemudian tertawa mendengar ucapan Rika "Jangan mimpi kamu!" Ucapnya sambil melambaikan tangan mengusap wajah Rika dan membuyarkan lamunannya.


"Sepertinya kalian tidak terlalu sibuk." Tukas Jordy yang seketika membuat Rika dan Santi terdiam dan berpura- pura sibuk dengan pekerjaan mereka masing- masing.


"Rika .... Apa laporan penjualan bulan ini sudah selesai? Bos kita sudah menanyakannya barusan." Tambah Jordy dengan wajah dingin.


Rika menoleh ke arah Jordy, lalu tersenyum kaku. "Maaf pak, sebentar lagi ini masih di kerjakan." Jawabnya dengan gugup.


"Kerjakan dengan cepat, bos tidak suka dengan keterlambatan." Ucap Jordy dengan tegas seraya pergi meninggalkan dua karyawan itu.


Setelah di rasa Jordy tidak kelihatan lagi, kedua karyawan itu menghembuskan nafas kasar nya dan merasa lega. "Kamu sih ngegosip mulu, bos kita itu sama asistennya waktu bayi ibunya ngidam es balok kayaknya deh, sampai-sampai anaknya jadi pada dingin gitu." Bisik Santi pada Rika.


"Ish .... Kamu tuh nyalahin aku ngegosip lah kamu sendiri ini ngapain ngegosip juga toh?" Tukas Rika sambil memukul pelan bahu teman kerjanya itu. "Udah ah, nanti kedengeran pak Jordy lagi terus di laporin bisa-bisa habis kita di marahin bos." Tambah Rika sambil kembali memegang laptopnya dan fokus dengan pekerjaannya.


***


Renata dan Ardi tengah berada di kantin kampus karena Nayla belum selesai dengan mata kuliah nya dan mereka janjian bertemu disana setelah jam kuliah selesai.


"Nayla belum selesai Re?" Tanya Ardi setelah mereka memesan makanan dan menunggu makanan di siapkan oleh mang Ujang sang pemilik kantin.


Renata hanya menggeleng sambil sibuk mengetikkan sesuatu pada layar ponsel di tangannya seperti membalas chat dari seseorang. "Belum, bentar lagi katanya." Jawab nya kemudian sambil menyimpan ponsel nya dalam tas.


Ardi hanya mengganguk-anggukkan kepala nya pelan lalu dia melihat - lihat sekeliling dengan seksama.


Renata terkekeh melihat tingkah Ardi. "Kenapa?Takut ada mantan kamu lagi ya?" Tanya Renata sambil melebarkan senyumnya yang membuat Ardi kaget dan menatap ke arah Renata, Renata memang tidak terlalu akrab dengan Ardi jadi dia tidak terbiasa menggunakan kata lo gue seperti ketika ngobrol bersama Nayla.


"Ah gak kok, cuma lihat sekeliling aja rame juga ya hari ini." Jawab Ardi mengelak dengan sangat gugup karena merasa malu takut kejadian tempo lalu bersama Nayla terjadi lagi.


Kemudian Nayla yang entah datang darimana tiba-tiba duduk di samping Ardi dan langsung menyedot minuman dingin yang di depannya.


"Set dah ni orang, udah datengnya kayak angin tahu-tahu muncul, abis deh minuman gue." Sahut Ardi yang kaget dengan kedatangan Nayla dan tiba-tiba menyambar minumannya.


Nayla menyimpan gelas minuman yang udah kosong di atas mejanya. "Ya elah Ar, pelit baget sih. Haus banget gue, tinggal pesen lagi kan beres." Ucap Nayla dengan santainya lalu mengacungkan tangannya memanggil mang Ujang untuk memesan minuman lagi untuk mengganti minuman Ardi. Renata sudah memesankan makanan untuk Nayla jadi ia tak perlu memesan makanan lagi.

__ADS_1


Tak lama makanan mereka pun datang, mereka pun dengan tenang melahap makanan mereka masing - masing sambil mengobrol dan sesekali melempar candaan. Hingga suara dering ponsel milik seseorang mengalihkan perhatian mereka.


"Drrrt.....drrrttt...."


Ponsel Renata bergetar menunjukkan satu panggilan masuk disana, Renata yang menyadari itu pun langsung mengambil ponsel dari dalam tas nya dan melihat siapa yang menelepon.


"Bang Rey." Gumamnya dengan pelan ketika melihat layar ponselnya yang menunjukan tulisan Bang Rey yang memanggil. Renata menekan tombol hijau lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Assalamualaikum bang, tumben telpon Rere ada apa?" Tanya Renata membuka pembicaraan.


"Walaikumsalam, emang gak boleh ya abang telpon kamu Dek?" Ucap Rey di sebrang telepon.


"Ya, aneh aja bang, gak biasa- biasa nya." Balas Renata sambil terkekeh pelan.


"Hari ini kamu pulang jam berapa Re? Biar abang yang jemput dan kamu tidak boleh menolak abang mau ada perlu sama kamu." Ucap Rey sedikit memaksa.


Renata mengernyitkan dahinya seakan tidak percaya dengan yang di ucapkan kakaknya. Tumben sekali abangnya itu mau menjemput nya pulang kuliah. "Abang sakit lagi ya? mau minta Rere temenin ke rumah sakit ya bang?" Tanya Renata dengan heran.


Rey menghela napas. "Kamu nyumpahin abang mu sakit Renata? Abang cuma ada perlu sama kamu ada yang mau abang tanyain sama kamu." Jelas Rey lagi.


"Owh...ya udah abang jemput aku jam 2 aja."


Tut.... Tut....Tut... Panggilan terputus begitu saja.


Tanpa basa basi lagi Rey menutup panggilan teleponnya, membuat Rere berdecak sebaliknya dengan ulah abangnya tersebut.


"Siapa re?" Tanya Nayla yang penasaran sambil mengambil gelas berisi minumannya dan menyedotnya dengan sedotan.


"Abang gue." Jawab Rere dengan malas kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Entar lo pulang sendiri ya, abang gue mau jemput katanya." Tambahnya lagi.


"Lo pulang bareng gue aja Nay." Ajak ardi sambil memainkan alisnya sebelah.


Nayla menoleh ke arah Ardi dan melemparkan senyum kecutnya. "Lo mau angkut si mocan di atas mobil lo atau di seret dari belakang gitu." Ucap Nayla dengan ketus.


Ardi tersenyum mendengarnya. "Ya elah Nay, tinggal aja di sini besok lo bisa bareng gue lagi gak bakalan ilang ko." Bujuk Ardi.


Nayla menggeleng. "Ogah ah, entar si mocan masuk angin dia tuh ga biasa tidur di luar." Tukasnya dengan serius.


Renata dan Ardi beradu pandang kemudian tertawa berbarengan. "Ada-ada aja lo Nay, masa motor bisa masuk angin gara - gara di simpen di luar doang." Seru Ardi lagi sambil terkekeh pelan.


"Jangan mau Nay, lagian gue cuma di jemput hari ini doang besok lo masih tetep jadi ojek gue." Ucap Renata menimpali ucapan Ardi dan membuat wajah Ardi merengut kecewa.


"Denger tuh, kontrak kerja gue belum selesai sama dia." Cibir Nayla pada Ardi, karena semenjak kejadian pelecahan yang hampir di alami oleh Renata, Nayla yang mengantarkan Renata pulang saat itu telah berjanji pada mama nya Renata yang memintanya membantu untuk menjaga Renata karena Renata sedikit manja dan keras kepala walaupun sudah terjadi kejadian seperti itu dia tetap tidak mau menggunakan mobil yang di berikan abangnya untuk ke kampus. Waktu itu Nayla belum punya motor jadi Renata selalu naik angkot yang sudah ada Nayla di dalamnya. Karena kebetulan rumah mereka searah.


***


"Bos, ini laporan keuangan yang anda minta." Ucap Jordy yang langsung masuk ke dalam ruangan Rey tanpa permisi karena memang sudah terbiasa dengan hal itu dan Rey tidak merasa keberatan dengan sikap sahabat sekaligus asistennya tersebut.


"Simpan saja di sini! Aku akan mengeceknya nanti." Ucap Rey sambil bersiap akan meninggalkan ruangan. "Tolong gantikan aku untuk pertemuan selanjutnya Jo! Aku mau ada urusan lain." Tambah Rey lagi.


Jordy menyimpan laporan di atas meja dan berdiri di depan meja Rey. "Bos mau ke tempat itu lagi? mau aku temani?" Jordy menawarkan diri karena biasanya juga Rey selalu minta di temani saat melakukan kebiasaannya tersebut.


Rey tersenyum lalu berjalan menghampiri Jordy dan menepuk pundaknya. "Tidak usah, aku sudah menemukannya." Jawab Rey mendekatkan wajahnya pada Jordy dan tersenyum senang.


Jordy terhenyak. "Benarkah? Dimana bos?" tanyanya kemudian, ia merasa ikut senang juga. Jordy memang sudah mengetahui perihal gadis itu Rey selalu menceritakan tentang masalah pribadi nya juga pada asistennya karena memang mereka sudah saling mengenal semenjak SMA .

__ADS_1


"Di kampus Renata kemaren, kalau aku tahu dia temannya Renata aku tidak akan susah-susah mencari nya selama ini." Ucap Rey seraya memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan menghadap ke arah jendela yang memperlihatkan pemandangan indah di balik kaca nya.


Jordy menghampiri dan menepuk pundak Rey "Jadi dia gadis nya, perempuan yang bersama Renata tadi pagi? Ehm... cantik, pantas saja kau dari tadi terlihat aneh." Ujarnya sambil tertawa kecil.


Rey berbalik dan tersenyum. "Aneh bagaimana?" Tanya Rey sambil mengernyit heran. "Ah sudahlah, aku akan pergi ke kampus Renata sekarang, aku pergi dulu ya." Tukasnya nya sambil bergegas pergi menuju pintu ruangan dengan begitu semangat.


"Kau gantikan aku dulu. Ingat itu!" Lagi-lagi Rey berpesan sambil membuka handel pintu dan keluar dari dalam ruangan kerjanya hingga tidak terlihat lagi oleh Jordy.


Jordy masih mematung di tempatnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan kemudian tersenyum. " Sudah lama sekali aku tidak melihatnya seperti ini, semenjak pergi nya Gisella waktu itu." Gumam Jordy kemudian pergi dari ruangan Rey.


***


Renata sudah berdiri di depan gerbang kampus nya menunggu abangnya menjemput di temani oleh Nayla yang masih nangkring di atas mocannya sambil memainkan ponsel. Tak lama datang sebuah mobil mewah terparkir di pinggir jalan dekat mereka berada, lalu keluarlah Rey dari sana.


"Hai." Sapa Rey pada dua gadis itu. Keduanya pun menoleh bersamaan.


"Lama banget sih bang." Ujar Renata sambil mengerucutkan bibirnya, sementara Nayla hanya menggangguk sambil tersenyum menjawab sapaan Rey.


"Tadi agak macet." Seru Rey tapi matanya tertuju pada Nayla. "Mau pulang sekarang?" Tanya nya lagi.


Renata mengambil helmnya yang masih menggantung di kaca spion motor Nayla. "Gue bawa aja helmnya ya! Jangan lupa besok lo jemput gue jam 7, gue ada kuliah pagi. Jangan telat!" Pamit Renata sambil mengingatkan Nayla.


Nayla juga memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya. "Iya gue inget, gue duluan ya!Mari bang!" Pamit Nayla sambil membungkukkan kepalanya tanda hormat pada Rey. Dan Rey hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Rey terus menatap Nayla sampai tidak terlihat karena menjauh.


Renata yang sudah mendekati pintu mobil menoleh ke arah Rey saat hendak membuka pintunya. "Bang ayo! Ngapain masih di situ?" tanya Rere heran mengapa abangnya masih tetap berdiri di tempat dirinya bersama Nayla tadi.


Rey menoleh dan bergegas masuk kedalam mobil kemudian melajukan mobil nya menuju ke rumahnya. "Kamu udah lama mengenal temanmu itu?" tanya Rey membuka permbicaraan.


"Nayla?" tanya Renata.


"Hemm.." Jawab Rey menganggukan kepalanya.


"Baru setahun lebih bang." Jawab Renata sambil memainkan ponsel.


"Belum lama, tapi seperti nya kamu sudah akrab banget dengan dia, sampai-sampai dia mau antar jemput kuliah kamu segala, apa dia meminta bayaran?" Tanya Rey.


Renata mengernyitkan dahinya. "Satu-satu dong, bang!" Protesnya.


"Jawab saja semua, apa susahnya sih?" Rey memaksa.


Renata mencebikkan bibirnya kesal. "Nayla tuh orangnya baik, dan dia juga gampang akrab, dia pernah nolongin aku saat ada orang jahat yang mau gangguin aku, terus dia janji sama mama buat jagain aku dan mau jadi temen aku. Dia juga gak minta bayaran, katanya persahabatan itu gak bisa di nilai dengan uang." Renata menjelaskan dengan panjang lebar.


Rey sejenak berpikir dan menoleh pada Renata mencoba mencerna ucapan adiknya itu dan kemudian mengangguk pelan dan kembali menatap ke depan ke arah jalan. "Apa dia yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi pahlawan keluargaku?" Gumamnya yang nyaris tidak terdengar. Karena pertemuan awal mereka sama-sama karena di tolong oleh gadis jagoan itu.


Mobil Rey telah sampai di depan gerbang rumah mereka, dan pak Bandi selaku satpam keluarga Rey langsung membuka pintu gerbang sambil membungkukkan sedikit badannya tanda memberi hormat ketika Rey melintasi gerbang. Setelah sampai garasi Renata turun duluan dan setengah berlari menuju pintu tapi dia berhenti ketika teringat sesuatu "Eh, abang mau perlu apa sama aku? tadi katanya ada perlu sampai jemput segala." Tanya nya.


Rey yang sudah turun dari mobil dan hendak masuk juga ke dalam rumah dan berhenti di depan renata "Sudah tadi." Jawabnya singkat lalu pergi masuk duluan ke dalam rumah nya. Karena ia hanya ingin mencari tahu tentang kepribadian Nayla.


Renata sejenak terpaku dengan jawaban kakaknya tapi kemudian menggelengkan kepalanya dan mengangkatnya kedua bahunya "Aneh banget sih si abang, bodo amat emang gue pikirin." Ucap Renata seraya masuk ke dalam rumah.


****


Perjalanan masih panjang ya Readers, semoga masih setia buat menanti kisah selanjutnya....happy reading..


jangan lupa like, komentar dan votenya ya..

__ADS_1


__ADS_2