Destiny Of Love

Destiny Of Love
Terbaik untukmu


__ADS_3

Hari berganti hari, waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa seminggu sudah Nayla perawat Rey untuk sementara, dan hari ini sepertinya tugasnya menjadi perawat dadakan telah selesai. Mengingat luka di perut Rey sudah mulai membaik. Dan sikap Rey pun kembali seperti biasa, tetap menggoda Nayla dengan rayuan gombalnya. Karena memang lelaki itu tidak mau kalah. Pantang menyerah sebelum bisa menikah. Begitulah mottonya.


"Tante, sepertinya mulai besok aku gak mampir kesini lagi deh. Luka bang Rey kayaknya udah mulai kering jadi gak perlu pakai perban lagi, tinggal pakai obat oles aja. Sendiri juga bisa. Iya kan bang?"


Rey yang sedang sibuk menatap gadis yang sedang mengoleskan obat pada lukanya itu jadi sedikit terjingkat. "Eh.... Apa?" Tanyanya.


Nayla mendengus. "Mulai besok abang pakai salep nya sendiri aja, soalnya udah gak perlu pake perban." Seru Nayla mengulangi ucapannya.


Rey merasa kecewa, wajahnya berubah masam. Itu artinya kesempatannya bertemu dengan Nayla akan semakin berkurang. Dan modusnya untuk mendekati sang pujaan hati harus berganti strategi.


"Kata siapa aku sudah sembuh? Kau tidak tahu dalamnya masih terasa cenat-cenut, apalagi disini." Seloroh Rey sambil memegang bagian dadanya.


Nayla mengerutkan kening, di iringi oleh cebikkan di bibir. "Apa hubungannya?" Gumam Nayla dalam hati.


"Kalau untuk penyembuhan luka dalam, abang tinggal minum obatnya aja. Kan udah ada resepnya. Tinggal di minum sesuai jadwal. Masa kayak gitu juga mesti di ajarkan?" Seru Nayla dengan senyum yang di paksakan.


Rey mengedikkan bahu, lalu ia mencoba untuk mencari perhatian Nayla, dia mengambil salah satu obat yang ada di hadapannya. "Aku kan tidak tahu nama-nama obat, kalau yang ini obat apa Nay?" Rey berkata dengan menunjukkan wajah imut, dengan sorot mata yang terlihat polos seperti anak kucing yang minta di elus oleh sang majikan.


Rey memang tampan, mimik wajahnya yang di buat imut malah membuat jantung Nayla berdenyut-denyut. Hingga hatinya terkunci dalam perasaan yang kian larut. Sungguh lucu gadis ini, sama-sama ingin memiliki tapi hatinya malah di kunci.


"Nay, di tanya Rey tuh!" Mama Rania yang duduk di samping Rey menepuk pundak gadis itu.


Nayla terhenyak, ia pun jadi salah tingkah. "Eh.... Apa bang?" Tanyanya mengulang.


Rey menyunggingkan senyum tipis. "Ini obat apa?" Rey mengulangi pertanyaannya. Dengan cepat Nayla menyambar obat yang ada di tangan Rey lalu memperhatikan kemasannya.


Sebagai seorang calon dokter tentu saja Nayla tahu fungsi beberapa obat di lihat dari komposisi dari obat tersebut. Dia menjelaskan secara rinci fungsi obat yang Rey tanyakan. Termasuk obat lain yang harus Rey minum nantinya.


Rey begitu fokus memperhatikan Nayla, tapi bukan pada penjelasannya melainkan pada bibir tipis berwarna merah jambu yang begitu menggoda. Rey membayangkan betapa manisnya bibir itu andai ia bisa mengecupnya. Hah, kotor sekali pikiran lelaki ini.

__ADS_1


"Ada lagi yang mau di tanyakan?"


"Kalau obat jika aku kangen kamu, ada gak?" Rayuan itu terlontar begitu saja dari mulut Rey yang begitu manis. Mama Rania pun ikut tersenyum tipis.


Nayla tersipu, tak ayal dirinya begitu malu. Hingga rona merah yang tercetak di wajahnya itu terlihat begitu lucu. "Sepertinya sudah cukup, bolehkah aku permisi untuk pulang?" Nayla mencoba menghindar dengan cara mengalihkan pembicaraan.


"Sebentar lagi lah!" Rey merengek seperti anak kecil. Ini masih siang dan belum waktunya Nayla untuk pergi.


Rey menoleh ke arah Rania, memberikan kode berupa kedipan mata pada wanita yang sudah melahirkannya itu. "Ma, bukannya tadi mama bikin kue ya? Rey mau nyobain dong!"


"Mata kamu kenapa Rey, kedip-kedip gitu?" Mama Rania ternyata tidak mengerti, ia malah bertanya sambil mengerjapkan mata.


Rey mendesis, menepuk keningnya dengan telapak tangan. "Hish.... Mama ini, bikin malu saja." Gumam Rey begitu pelan.


"Rey mau nyobain kuenya mama, boleh?" Rey menarik nafas panjang, bicara dengan mamanya ini harus pelan-pelan.


"Eh.... Tumben kamu nyicipin kue yang mama bikin? Beneran loh ya? Awas aja kalau di muntahin!" Seru mama Rania dengan nada menyindir, Rey memang selalu menolak untuk mencoba kue buatan mamanya, karena bukan hanya bentuknya yang terlihat nyeleneh, rasanya pun sangat aneh.


"Iya Ma, iya.... Tolong ambilin ya!" Pinta Rey dengan manjanya.


Rania mencebikkan bibir. Merasa aneh dengan sikap anaknya tersebut. "Iya mama ambilin." Seru mama Rania sedikit kesal.


Setelah Rania pergi ke dapur, Rey terlihat senyum-senyum sendiri, membuat Nayla menatapnya dengan tatapan curiga. "Kenapa bang Rey senyum-senyum?" Tanya Nayla penasaran dengan kening berkerut dalam.


"Gak apa-apa." Jawab Rey, keheningan pun datang. Dan keduanya sama-sama diam. Kedua manik-manik mata Rey melirik Nayla yang masih diam saja. Lalu ia sedikit mencondongkan kepalanya ke arah Nayla membuat gadis itu sontak memundurkan kepalanya.


"Apa?" Nayla bertanya sambil mengangkat dagunya.


Rey terkekeh. "Takut banget sih." Seloroh nya lucu. Rey kembali diam, sebelum ia melanjutkan kembali ucapannya. "Nay, aku boleh mengantar jemputmu kuliah lagi gak?"

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Nayla seketika menggelengkan kepala. "Gak boleh! Bang Rey kan udah janji gak bakal maksa lagi." Tolak Nayla dengan begitu tegas, ia tak ingin menjaga hatinya. Semakin jarang mereka bertemu, Nayla akan lebih mudah untuk menekan perasaannya.


"Ya udah, kalau begitu tapi tiap hari aku akan ke kampus mu." Rey berkata dengan nada santai. Seolah kampus itu adalah rumahnya.


Nayla membulatkan matanya dengan lebar. "Untuk apa?" Tanyanya heran..


"Hanya ingin bertemu denganmu."


Deg


Jantung Nayla kembali berdegup kencang, Rey selalu berhasil membuat Nayla melayang dengan kata-katanya yang penuh dengan rayuan.


Setiap hari mendapatkan rayuan seperti itu, membuat hati Nayla semakin tidak tenang, Nayla takut kalau dia tidak bisa menahan dengan perasaannya selama ini dia pendam. Dia selalu berusaha menjauh tapi Rey malah semakin mengejar.


"Bang Rey, kenapa selalu seperti ini?" Nayla bertanya dengan nada begitu lirih. Ia menatap bola matanya Rey yang menunjukkan bayangan wajahnya di mata itu. Tatapan mereka terkunci tanpa rasa malu.


"Kau tahu sendiri jawabannya Nayla."


"Aku sudah menolakmu. Tolong jangan seperti ini! Carilah gadis lain yang sepadan denganmu!" Nayla berusaha menolak lagi, dan meyakinkan Rey jika dirinya bukan satu-satunya gadis yang bisa ia kejar.


Rey mengerutkan kening, ia tak suka dengan ucapan Nayla yang menyuruhnya untuk mencari gadis lain. Kenapa begitu sulit untuk membuka hatinya? Padahal Rey sangat yakin jika Nayla juga mencintainya.


"Aku tidak mau, kau pikir segampang itu hah? Aku akan tetap mengejarmu. Jika kau tidak mencintaiku, aku akan membuatmu mencintaiku." Ucap Rey dengan penuh penekanan. "Berikan aku kesempatan Nay!" Imbuh Rey penuh harap.


Nayla menghela nafas kasar, tatapannya jadi samar saat ada cairan bening dari pelupuk matanya yang hampir keluar. Nayla hanya bisa menunduk, berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.


"Aku sudah mencintaimu bang, dan tolong jangan buat cinta ini semakin dalam, aku tidak bisa bersamamu. Ku harap ini terbaik untukmu dan aku." gumam Nayla dalam hati.


***

__ADS_1


Dukung terus karyaku ini ya teman-teman tambah vote star nya lagi dong kalau boleh saja hadiahnya. Biar tambah kenceng up nya..makasih.


__ADS_2