
Dengan semangat Rere menarik tangan Nayla ke kamar mama nya, hingga tepat di depan pintu kamar tanpa ragu gadis itu membuka pintu, berteriak pada sang mama, menunjukkan gadis yang dia bawa.
" Mama...., lihat lah siapa yang Rere bawa ! "
Rania sontak menoleh saat dirinya tengah sibuk membantu MUA memasangkan baju pengantin pada Gisella. " Ada apa sih Renata ? mama lagi sibuk, abang mu sudah siap belum ?" Rania kembali beralih pada Gisella seakan tak peduli dengan siapa yang dia bawa.
Rere mengernyit heran, kenapa mama nya bersikap datar seperti itu, ketika melihat Nayla kembali, dia pun menoleh ke arah Nayla yang berada di belakangnya, dan benar saja Nayla sengaja menutupi wajahnya dengan selendang miliknya. Rere berdecak dan menyaut selendang itu dengan cepat.
" Di bilangin jangan di tutupin, ngeyel banget sih " Gerutu Rere sambil melepas selendang itu.
Kini wajah Nayla terpampang nyata, Gisella yang sedang berdiri di depan cermin begitu terkesiap saat melihat pantulan diri Nayla pada cermin di hadapannya. Mata nya membulat sempurna, tanpa pikir panjang dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Rere dan Nayla, membuat Rania tersentak dan melepaskan tangannya dari baju Gisella.
" Ada apa Gie ?" Rania merasa bingung melihat wajah Gisella yang berubah tegang seperti dia sedang melihat hantu di siang bolong, Rania pun ikut menoleh ke arah anaknya tadi.
" Nayla ? " Rania berucap lirih, tanpa sadar kakinya melangkah maju menghampiri gadis yang selama ini membuat hati anaknya membatu, bukan ingin marah tapi dirinya juga sangat rindu, dia langsung merengkuh tubuh Nayla, dengan rasa penuh haru.
" Kamu masih hidup sayang, kemana saja kamu? kenapa baru kembali ? kamu tidak tahu betapa hancurnya hidup Rey saat di tinggalkan olehmu Nayla." Rania meluapkan rasa rindu dan kekesalannya pada Nayla, terdengar sedikit egois, Rania seakan tak peduli dengan rasa sakit yang Nayla rasakan saat dirinya di hempaskan dari bukit yang sangat tinggi.
Nayla membalas pelukan Rania dengan hangat, dirinya sangatlah mengerti dengan sikap Rania, bahwa kasih ibu sepanjang masa, tak peduli berapa banyak masalah yang di hadapinya, baginya kebahagiaan anaknya adalah yang paling utama.
" Maafin Nayla tante, Nayla juga gak tahu kenapa jadi seperti ini, mungkin memang mas Rey bukan jodoh Nayla, karena Nayla datang pada saat yang tidak tepat. " Ujar Nayla
Rania melepas pelukannya, sejenak menatap wajah Nayla dengan tatapan sendu " Kamu datang di waktu yang paling tepat Nay, Rey bahkan belum menikah " Ucap Rania, tanpa di sadari kata - kata itu terlontar dari mulutnya, membuat seseorang di belakangnya merasa tak di anggap ada.
" Tapi tante, bagaimana dengan mbak Gie...? lihat lah ! apa tante tidak memikirkan perasaan dia ? " Sebagai wanita Nayla sangat mengerti perasaan Gisella saat ini, dirinya juga pasti sangat terluka.
Rania terdiam, dia menoleh ke arah Gisella yang masih berdiri mematung di tempatnya semula, sambil memasang wajah kecewa. Rania bingung, rasa bersalah seketika merasuki pikirannya, andai saja dulu dia tidak meminta Rey menikahi Gisella mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Gisella menguatkan hatinya, dan berjalan menghampiri Nayla, Rania tak bisa berbuat apa - apa, ini memang sebuah kesalahan, tapi dia juga tahu Gisella juga pasti terluka, nasi sudah menjadi bubur, kini hanya Gisella yang akan menentukan bagaimana nasib anaknya di masa datang.
Tanpa di duga Gisella memeluk Nayla dengan sangat kencang, Nayla sedikit meringis menahan rasa sakit pada luka nya yang belum sembuh benar. Untungnya pelukan itu tak berlangsung lama, Nayla bisa bernafas lega.
" Kamu sudah kembali Nay, maafkan aku ! " Ucap Gisella, tanpa dia sadari air matanya mengalir deras di pipi.
Nayla menyeka air mata tersebut, dengan memasang wajah bingungnya melihat Gisella yang teramat sedih ketika melihatnya kembali, dan kenapa juga dia yang harus meminta maaf.
" Mbak Gie, kenapa harus minta maaf ? aku yang sudah menyebabkan kekacauan ini, harusnya aku yang meminta maaf mbak, aku akan segera pergi dari sini, kalian bisa melanjutkan acara nya dengan lancar. " Nayla mencoba menahan rasa sakit di hati nya saat bibirnya berucap sedemikian tabahnya.
Nayla berbalik hendak pergi meninggalkan tempat itu, tapi dengan cepat Gisella mencekal tangan Nayla dan menahannya agar tidak kembali melangkah.
" Aku mohon Nayla, diamlah di sini, jadilah pengantin Rey, aku tidak berhak mengambil Rey dari hidupmu. Bahkan aku masih menyimpan gaun pengantin yang kalian pesan dariku dulu. " Gisella memelas, dia menarik tangan Nayla, dan menggiringnya mendekati sebuah koper milik Gisella. Rania dan Rere merasa lega, ternyata Gisella begitu berbesar hati mengalah untuk Nayla.
__ADS_1
Saat koper itu di buka, terlihat sebuah gaun cantik untuk acara resepsi pernikahan, dan sebuah kebaya formal untuk acara akad yang sangat Nayla ingat saat itu, dia yang meminta Gisella membuatnya dengan warna yang dia inginkan.
Nayla menatap sendu baju- baju tersebut, kemudian beralih lagi pada Gisella. " Maaf mbak Gie, aku gak bisa ! mungkin mas Rey juga ingin menikah denganmu, buktinya dia setuju dengan pernikahan ini. "
" Tidak sayang, Rey sangat mencintaimu, tante yang salah, tante yang paksa Rey menikahi Gisella ." Sahut Rania, yang tak sabar dengan sikap Nayla yang tak mau mengerti.
" Maaf nyonya, penghulu sudah menunggu sejak tadi, katanya dia akan ada acara lagi setelah ini, jadi dia minta pengantin wanitanya untuk segera datang, tuan Rey juga sudah menunggu di sana. " Ucap seorang pelayan yang datang tiba- tiba , dia di perintahkan Rey menemui Rania dan Gisella, sontak perdebatan mereka berakhir, dan suasana menjadi hening seketika
Gisella tak ambil pusing, dia langsung mendudukkan tubuh Nayla di kursi kecil di depan cermin, dan memerintahkan MUA dengan cepat mendandani Nayla seperti layaknya pengantin.
" Aku beri waktu kalian 15 menit, jadikan dia putri sejagat hari ini, aku akan melipat gandakan bayaran kalian " Perintah Gisella pada para MUA, mereka sangat bersemangat apalagi saat mendengar bayaran mereka akan berlipat.
Nayla hendak berdiri tapi sekali lagi Gisella menahannya. " Diamlah, jika kamu tidak menurut aku akan mengikatmu disini !" Ancam Gisella dengan memasang wajah kesal, Nayla begitu keras kepala.
Nayla mengerutkan dahi, sebenarnya dia tidak takut, tapi rasanya dia tak kuasa untuk menolak. Kemudian Gisella menoleh ke arah Rere.
" Rere , bilang sama penghulu 15 menit lagi pengantin wanitanya akan siap, dan katakan padanya nama pengantinnya telah berubah, dan persiapkan ayah Nayla sebagai wali nikah." Gisella ingin semuanya bergerak cepat, karena tidak ingin kesempatan ini hilang begitu saja. Dia sangat senang melihat Nayla kembali, Gisella sudah melihat kesungguhan cinta Rey pada Nayla, Nayla harus mendapatkan cintanya itu. Rere bergegas melakukan apa yang di perintahkan oleh Gisella.
Nayla pun pasrah, wajahnya di poles sedemikian rupa oleh para MUA, dalam waktu singkat wajah Nayla sudah terlihat berbeda, lebih mempesona, Gisella mengambilkan baju kebaya pengantin milik Nayla, dan menyuruh MUA memakaikan nya pada Nayla, Nayla merasa risih dan malu saat akan menanggalkan bajunya dan berganti dengan baju kebaya pengantin tersebut.
" Boleh kah aku pakai di kamar mandi saja ? " Tanya Nayla sedikit malu.
Gisella mengernyit saat melihat perban yang membalut pinggang Nayla. " Apa ini Nay ?" Gisella memegang luka akibat di tikam penjahat itu.
Nayla menunduk, sedikit memiringkan wajahnya untuk melihat luka di pinggangnya itu, " Oh... ini luka tusuk yang aku dapatkan sebelum aku di lempar ke jurang mba, sudah mau sembuh kok. " Ucap Nayla dengan entengnya.
Entah kenapa air mata Gisella kembali mengalir, membayangkan betapa tersiksanya Nayla saat itu. " Mba, kok nangis lagi ? aku sudah tidak apa - apa sekarang, sangat beruntung ada sebuah keluarga yang baik yang meyelamatkan aku, dan merawat lukaku dan tulang kaki ku yang sedikit patah."
" Patah ?"
" Iya " Nayla menunjukkan kaki nya masih di balut kain perban.
Gisella menatap nya dengan tatapan iba, air mata nya tak henti - henti mengalir deras, Nayla merasa tidak enak, Gisella memang berhati lembut, dia tidak pernah tega jika mendengar seseorang tersakiti.
" Sudahlah mba, aku tidak apa - apa, tolong jangan menangis lagi !" pinta Nayla sambil kembali menyeka air mata Gisella.
" Bisa lebih cepat Gisella ? penghulunya akan segera pergi. " Tukas Rania, yang tak sabar melihat reaksi Rey saat melihat Nayla sebagai pengantin wanitanya.
Gisella tersentak, dia lupa waktunya cuma tinggal beberapa menit lagi, MUA mempercepat riasan nya, setelah memakaikan baju, kini beralih pada riasan rambut Nayla. Dalam sekejap rambut sudah tersanggul rapi, dengan manik - manik cantik terselip di atas gumpalan rambut yang tidak terlalu besar itu.
15 menit berlalu, para MUA benar - benar berhasil menyulap Nayla menjadi ratu sejagat pada hari itu. Nayla sampai tak mengenali dirinya sendiri.
__ADS_1
" Kamu sudah cantik, ayo keluar !" Mereka pun bergegas membawa Nayla ke tempat akad, tapi Nayla merasa ragu, dia takut Rey akan keberatan dengan keputusan yang mereka buat, tubuhnya seakan kaku dan tak mau bergerak, Rania dan Gisella jadi gemas dengan sikap Nayla, mereka mengancam akan menggotong Nayla ke pelaminan jika dia tetap berdiam diri di kamar. Nayla tidak mungkin membiarkan itu terjadi akhirnya dia menurut saja.
Ketika mereka sampai di tempat akad, beberapa tamu undangan tampak berbisik, pasalnya yang mereka tahu pengantin wanitanya adalah Gisella, tapi kini wanita itu malah menggandeng pengantin wanita lain untuk duduk di depan penghulu.
Suara riuh di sekitar tak membuat Rey memalingkan wajah, Rey selalu menghadap kedepan dengan tatapan kosongnya, Rey masih memikirkan Nayla. Dia seakan tak peduli dengan kedatangan calon mempelai wanita yang kini telah duduk di sampingnya.
Nayla menatap wajah Rey yang terlihat datar, dia mengira jika Rere sudah memberitahu Rey akan kedatangannya, Nayla kecewa ternyata Rey tidak senang saat dirinya menggantikan Gisella menjadi pengantin wanita, bahkan laki- laki itu tak mau menatap Nayla saat dirinya sudah ada di dekatnya.
" Bahkan dia tak menoleh sedikit pun padaku. " Gumam Nayla sambil menunduk sedih.
Acara pun di mulai, pak Dimas pun duduk di dekat penghulu, Rey tidak curiga mungkin pak Dimas di tunjuk sebagai saksi pernikahannya, dia masih terlihat cuek. Hingga tiba pada acara inti pak penghulu menyuruh pak Dimas menjabat tangan Rey.
Rey mengernyit " Sejak kapan pak Dimas menjadi wali hakim ? apa Gisella mempunyai tali kekerabatan dengan keluarga Nayla ? " Pertanyaan -pertanyaan itu mulai bermunculan di pikiran Rey.
Hingga saat pak Dimas menjabat tangan Rey dan mengucapkan lafal. " Ananda Reydian Rahadi bin Romi Rahadi saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya Nayla Agustina binti Dimas Anggara dengan mas kawin 100 gram emas di bayar tunai." Rey terdiam, mulutnya seakan tercekat untuk bicara, membuat semua orang menunggu jawaban Rey tanpa bersuara.
" Apa aku sedang bermimpi, atau aku salah dengar ? kenapa pak Dimas berucap nama Nayla, apa mungkin di sebelahku ini memang Nayla " Gumam Rey dalam hati, dia memutar kepalanya dengan pelan, berharap tebakannya itu benar, jantung nya tiba - tiba berdegub dengan kencang tatkala dia melihat sosok gadis yang selalu ada di pikirannya itu duduk manis di sampingnya, binar kebahagiaan terpancar di mata nya, ingin sekali dia memeluk gadis itu, tapi tangannya tertahan oleh pak Dimas yang dari tadi menunggu jawaban ijab nya tadi.
" Eh... mau ngapain ? jawab dulu, belum sah ini ! " Seru pak Dimas menarik sebelah tangan Rey dengan kencang.
Rey menoleh " Jawab apa ?" tanya nya tak sadar, Rey melupakan akad nikahnya.
" Ijab qabul " Pak Dimas sedikit kesal, calon menantunya itu sebenarnya serius atau tidak menikahi anak gadisnya.
Rania yang duduk di dekat Rey mendekatkan mulutnya ke telinga Rey " Cepat Rey, keburu Nayla pergi lagi ! " bisik Rania sambil tersenyum geli melihat reaksi Rey yang tiba - tiba seperti orang linglung.
Rey menautkan kedua alisnya, hal itu tidak boleh terjadi, dia kembali menegakkan tubuhnya berhadapan dengan pak Dimas sambil mengencangkan genggaman tangannya.
" Bisa di ulangi ? " pinta Rey dengan tegas.
Pak Dimas pun kembali melafalkan ijab qabul tersebut, dan langsung di jawab dengan lantang oleh Rey, semua orang pun bersorak saat saksi berkata ' sah ' sebagai tanda bahwa mereka sudah resmi menjadi suami istri.
Rey menatap wajah wanita yang kini sudah menjadi istrinya dengan lekat, kerinduan nya seperti tak bisa di bendung lagi, saat Nayla mencium punggung tangan Rey dengan cepat dia langsung merengkuh tubuh Nayla ke dalam pelukannya, sontak semua orang yang menyaksikan acara itu tergelak tawa, tampaknya pengantin pria sudah tidak mau menunggu lama.
Rania dan keluarga merasa terharu melihat moment tersebut, takdir cinta mereka sungguh penuh dengan drama, tapi kini berakhir dengan bahagia, semoga mereka tetap selalu bersama sampai akhir hayat memisahkan mereka.
***
Belum end ya.....cerita masih berlanjut...hehehe
Tetap dukung author ya readers, kasih jempol, komentar, favorit sama rate 5 bintang. jangan lupa VOTE poinnya juga ya...itu yang paling di harapkan, kan gratis ya!😉😉...salam hangat.
__ADS_1