
Waktu berlalu, malam hari pun tiba, tak terasa setiap detik waktu yang Nayla lalui membuatnya merasa kalap sendiri, perasaan gugup dan bahagia bercampur jadi satu.
" Bu, cepet dong dandanin nya, bentar lagi kan mas Rey datang " Ucap cemas Nayla yang kala itu sedang di dandani ibu nya Tina.
" Kamu maunya cepet atau mau terlihat cantik ? " Tanya Tina, gemas dengan sikap anaknya, karena dari tadi sore dia terlihat sangat gugup.
" Kamu tuh mau di lamar, bukannya mau perang, jadi jangan tegang gitu !" imbuh bu Tina lagi, masih memoles wajah anaknya dengan menggunakan bedak padat.
Nayla mendelik, " Memangnya ibu dulu gak gugup gitu pas di lamar sama ayah? " Sedikit kesal, Nayla malah bertanya seperti itu pada ibunya, membuat ibunya sejenak menghentikan aktifitasnya dan wajahnya berubah muram lalu menarik nafasnya dalam- dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
Melihat perubahan wajah ibunya, Nayla pun tersadar " Ah , aku lupa dulu ayah tidak pernah melamar ibu bersama keluarganya. Mereka kan langsung memutuskan untuk menikah. " Gumam Nayla dalam hati.
" Maaf bu, Nayla gak maksud " Ucap Nayla dengan nada menyesal.
Tina tersenyum "Gak apa -apa kok, ibu emang gak pernah ngerasain kayak kamu gini, tapi ibu juga pernah ngarasain gimana gugupnya menjadi seorang pengantin, mungkin lebih gugup dari pada kamu sekarang " Tina pun kembali melanjutkan aktifitasnya ,kini dia hendak memoles lisptik di bibir mungil Nayla.
Nayla tak bisa berkata-kata lagi, ketika aksi sang ibu yang menaikkan dagu Nayla dan menyuruhnya untuk diam dan tak banyak bicara lagi.
***
Setelah beberapa menit berlalu, Nayla dengan dandanan cantiknya, sudah menunggu kedatangan sang kekasih yang hendak melamar, dia sedang duduk di tepi ranjangnya dan tangannya sibuk mengetikkan sesuatu di layar ponsel miliknya. Dia sedang mengirim pesan singkat pada Rere.
Nay : Re, lo ikut ke rumah gue kan ? abang lo jadi kan ngelamar gue ? gue gugup banget nih..Kasih gue semangat dong !"
Nayla menunggu balasan dari Rere, cukup lama membuat Nayla berdecak dan kembali mengetikkan sesuatu lagi di kontak pesan milik Rere.
Nay : Woy.... balas dong, gue lagi curhat Renata.
Sayang nya pesan itu pun tak kunjung mendapat balasan dari Rere, selang 10 menit berlalu, satu panggilan masuk dari nomor ponsel Rere terpampang di layar ponsel Nayla. Nayla pun segera menekan tombol hijau untuk menerima telepon tersebut.
" Hallo Renata, lama banget sih balas nya ? gue mesti gimana ini, gugup banget " Suara cempreng Nayla, memulai percakapan telepon itu.
" Apa sih sayang ?" Nayla tersentak saat dia mendengar suara yang menjawab panggilan telepon tersebut adalah suara laki-laki, suara Rey.
" Mas....Rey ?" Nayla tergagap " Rere nya mana ?" imbuh Nayla bertanya lagi. Dia sebenarnya malu, tapi heran juga kenapa bisa ponsel Rere ada pada Rey.
" Rere ada di samping mas, dia lagi pegangin hp nya, sambil di tempelin ke telinga mas, soalnya mas lagi nyetir, katanya kamu mau ngomong, ada apa ? " Tanya Rey di sebrang teleponnya, membuat Nayla bingung mau menjawab apa.
" Sialan lo Re ! " Gumam Nayla dalam hati.
Nayla menarik nafas, agar lebih tenang "Kenapa gak Rere saja yang bicara mas ? tadi kan aku ngirim pesannya ke dia. "
__ADS_1
" Kita lagi di jalan, ini bentar lagi nyampe rumah kamu kok " Pernyataan Rey berhasil membuat Nayla gugup kembali, jantungnya tiba- tiba berdegup kencang, dan tangannya sedikit gemetar.
" Yang bener mas ?" Tanya Nayla tak percaya.
" Ini udah di depan rumah " Suara deru mobil di pekarangan rumah Nayla, terdengar sangat jelas dari kamar Nayla, seketika Nayla mengakhiri panggilan teleponnya tersebut, dan melempar ponselnya ke atas kasur.
" Waduh...gini banget sih rasanya, baru aja mau di lamar apalagi kalau nikah ya ?" Gumam Nayla .
Suara ketukan pintu kamar Nayla, dan di iringi sahutan ibunya dari luar membuat gadis itu semakin kalang kabut " Nay, cepet keluar ! tamu nya udah datang nih " Teriak bu Tina dari luar kamar.
Nayla sejenak memejamkan mata, kemudian menarik nafasnya dalam - dalam dan menghembuskan nya perlahan, sedikit memberikan ketenangan dalam hati dan pikirannya.
" Bismillah..." Ucapnya dengan yakin. Lalu dia membuka pintu kamar dan keluar dari sana.
Setelah Nayla berada di ruang tamu, semua mata tertuju padanya, terutama mata Rey yang tak mau berkedip saat melihat Nayla dengan baju koleksi Gisella yang terkenal dengan kemewahannya. Di padukan dengan polesan make up ala- ala bu Tina yang minimalis tapi cukup berkelas. Membuat Nayla semakin terlihat menawan.
" Biasa aja dong bang matanya !" Seru Rere sambil menyenggol tubuh Rey yang kebetulan duduk di sampingnya.
Rey terkesiap, dia menoleh pada Rere dan menautkan kedua alisnya, seperti tak suka jika Rere mengganggu nya. Rere beringsut mundur, dia takut dengan tatapan kakaknya itu, dengan memperlihatkan senyumnya yang lebar, dia mendekati mama nya yang juga duduk di sebelah nya yang lain.
" Sorry..." Ucap Rere tanpa mengeluarkan suara, sambil mengacungkan dua jari nya pada Rey.
Nayla dengan malu-malu berjalan menghampiri mereka dan duduk di tempat yang di tunjukkan oleh ayahnya. Suasana agak sedikit canggung.
" Maaf bu Rania, apa kira nya maksud dan tujuan ibu dan sekeluarga ke sini ? " Pak Dimas mengawali percakapan mereka.
" Eh...maaf sebelum nya nih pak Dimas, keluarga kami tuh gak ada wali laki-laki, jadi saya sendiri yang mewakilkan, boleh ya pak ?" Tutur Rania, karena keluarga Rey termasuk keluarga yang minimalis, papa Rey merupakan anak satu-satunya dan begitu pun Rania, mereka sebenarnya punya keluarga lain, yakni adik dari sang kakek dari pihak papa Rey, tapi dia sudah meninggal, dia mempunyai satu anak tapi sekarang tinggal di luar negeri bersama keluarganya.
Pak Dimas mengulas senyum hangat di bibirnya " Tidak perlu terlalu formal bu Rania, anggap saja kita sedang bersilaturahmi sekarang " Ucapnya kemudian.
Keluarga Rey pun tersenyum lega mendengarnya. "Baiklah kalau begitu " Rania menghela nafas lega. Kemudian menoleh ke arah Rey, yang juga sedang menunggu ucapan mama nya selanjutnya.
" Apa kamu ingin bicara sendiri Rey ?" Tanya Rania sedikit menggoda.
Rey menautkan alis " Mama saja lah " Ucapnya sedikit gugup.
" Payah kamu ! " Seru Rania, sontak membuat semua orang di sana berusaha menahan tawa, termasuk juga Nayla, wajah Rey seketika memerah, dia malu dan juga kesal, bisa- bisa nya mama nya berkata seperti itu di acara pentingnya itu.
" Mama !" Rey menekankan panggilannya, mengajak mamanya untuk lebih serius.
" Iya...iya..." Rania masih tersenyum tipis menahan tawa nya, melihat anak lelaki nya itu bisa juga terlihat malu.
__ADS_1
Rania kemudian menegakkan duduknya dan menghadap kepada Dimas " Begini pak Dimas, dan bu Tina, maksud kedatangan kami kemari berniat untuk melamar putri kalian, Nayla " Rania sejenak memberi jeda pada ucapannya, dia ingin melihat reaksi wajah Nayla yang masih tertunduk malu.
" Kira-kira, maksud kami ini di terima atau tidak ya oleh pihak kalian ?" Rania melanjutkan kata-kata nya lagi.
Dimas menoleh ke arah Nayla " Kami sih terserah Nayla saja, " Dimas menepuk pundak Nayla "Gimana nak , di terima gak ?" tanya nya kemudian.
Nayla gugup, tangannya sedikit bergetar tapi dia mencoba mengalihkannya dengan meremasnya kuat-kuat. Dengan malu- malu Nayla mengangguk memberi jawaban tanda setuju, dan terlihat lah senyum merekah di wajah kelurga Rey.
" Jawab dong sayang, jangan ngangguk aja !" Seru Tina, sengaja menggoda anak gadisnya.
" Iya...jawab dong Nay !" ucap Rere ikut menimpali, kemudian tertawa kecil merasa puas telah mengerjai sahabatnya tersebut.
Nayla mendongak, memicingkan matanya pada Rere. Kemudian menoleh ke arah Rania dan Rey bergantian, wajah mereka tampak penasaran, sedang menunggu jawaban langsung dari mulut Nayla.
" Iya...tante, Nayla terima " Ucap Nayla dengan yakin, seketika senyum kebahagiaan terpancar di wajah kedua keluaga tersebut.
" Wah,, terimakasih Nayla, tante senang banget, iya gak Rey ?" Rania menoleh pada Rey, dan Rey hanya mengangguk sambil memperlihatkan senyumnya yang menawan.
" Oh...iya, Renata mana cincin tunangan yang tadi mama titipin ke kamu ? " Rania beralih pada Rere, sambil mengadahkan telapak tangan kanannya pada Rere.
Rere mengernyit " Cincin yang mana ?"
" Jangan bercanda dong Re !" Rey menyenggol tubuh adiknya itu.
Rere menoleh ke arah Rey " Rere gak becanda bang, kapan mama nitipin nya " Rere berkata sambil mengerutkan dahinya.
" Ish... tadi waktu mama bantuin bi ijah ambil bingkisan, mama titipin ke kamu cincinnya, mama suruh kamu bawa. " Rania menepuk bahu Rere sedikit keras, membuat nya meringis sambil mengelus bahu nya itu.
Rere berpikir sejenak, mengingat -ingat kejadian di rumah nya, saat dia hendak pergi ke rumah Nayla. Sampai dia teringat sesuatu, dia ingat saat itu dia sedang fokus memainkan ponsel nya, dia memang mendengar mama nya berbicara dan memberikan satu kotak berwarna merah ke tangannya, tapi karena merasa terganggu dia langsung menyimpan kotak itu di atas meja, lalu dia kembali memainkan ponselnya. Tak lama mamanya memanggil dan mengajaknya naik mobil, dia pun melupakan kotak itu.
" Hufft " Rere menarik nafas, kemudian tersenyum kikuk di depan semuanya " Maaf ma, cincin nya aku tinggalin di meja " ucap Rere dengan hati -hati sambil menunjukkan senyum yang di paksakan.
" Apa ? " Sontak Rania dan Rey terlonjak karena kaget.
" Rere .." Rey melototkan matanya, seakan ingin menelan adiknya hidup-hidup.
***
Maaf baru up, authornya lagi kurang semangat nih, biar tambah semangat kasih dukungan lagi ya readera tersayang, biar makin cinta dan semangat buat nulis...
love U all....
__ADS_1