Destiny Of Love

Destiny Of Love
Rencana Lamaran


__ADS_3

Gisella menghampiri Nayla dan Rey yang masih berdebat masalah baju kebaya yang akan di pilih sebenarnya untuk acara apa.


" Rey, Nayla, kalian kok kesini ? Kenapa tadi gak bilang saat di acara wisuda, Mau cari baju buat siapa ?" Tanya Gisella, menghentikan perdebatan mereka. Membuat kedua nya menoleh.


" Eh...mba Gie, tahu nih mas Rey, dari milih -milih terus,katanya sih buat aku, tapi sampe sekarang aku juga gak tahu buat apa beli baju baru, kebaya pula di bilangin wisuda nya udah selesai. " Sahut Nayla dengan wajah di tekuk.


Rey berdecak " Siapa bilang ini untuk wisuda ? " Rey berkata sambil memegang baju yang di rekomendasikan oleh pegawai Gisella. " Coba dulu sih " Imbuh nya sedikit memaksa.


" Buat apa dulu ?" Nayla tetap kekeh menolak.


Gisella hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah pasangan itu " Buat apa Rey bajunya, biar aku yang pilihkan " Ujar Gisella, membuat Nayla mengangguk mengiyakan.


Rey menatap tajam Nayla yang seperti mendapat dukungan. Tadi nya mau ngasih kejutan, tapi malah tersudutkan.


" Ok...buat acara lamaran, puas nona Nayla " Ucap Rey dengan wajah datar, dengan sedikit mencondongkan kepalanya tepat di wajah Nayla. Dan ucapan itu, sanggup membuat kedua wanita di hadapan Rey terpaku di tempatnya.


" Lamaran siapa ?" Nayla membuka suara.


" Kamu lah " Jawab Rey sejenak memberi jeda. Dia kembali menegakkan tubuhnya " Nanti malam mas mau ngajak mama sama Rere ke rumah kamu, jadi mesti dandan cantik " Belum lagi Nayla menjawab, ucapan Rey selanjutnya membuatnya semakin terkesiap.


Gisella merasa risih, mendengar ucapan Rey mau melamar Nayla. Dia melirik Nayla yang masih bengong di tempatnya. Sampai satu tepukan pelan di bahu Nayla membuat gadis itu tersentak.


" Kenapa bengong ? sini mba bantu pilihkan " Ajak Gisella menarik tangan Nayla melihat baju - baju kolesinya.


Nayla menurut, dia ternganga melihat baju - baju cantik di hadapannya, harganya pasti mahal pikir Nayla saat dia memegang salah satu bahan baju tersebut.


" Mba, yang biasa saja lah " Pinta Nayla sedikit minder.


Gisella tersenyum " Kamu jangan mempermalukan Rey, dia itu anak pemilik rumah sakit terbesar di kota ini, dia juga mempunyai resort di beberapa kota besar. Kamu tidak bisa tampil biasa-biasa saja. "


Ucapan Gisella malah membuat percaya diri Nayla semakin menciut, dirinya hanyalah seorang dokter anak, itu pun baru gelar, belum dapat izin apalagi pengakuan. Rasanya dia hanya secuil debu di hadapan Rey.

__ADS_1


Sebelum Nayla hendak menanggapi, Rey yang tiba- tiba datang merangkulkan sebelah tangannya di leher Nayla. " Cepet pilih, mau pulang gak ?" Rey semakin tak sabar.


Nayla mendongakkan wajahnya melihat wajah Rey yang sedikit lebih tinggi dari nya. "Mas, gak bercanda kan?"Tanyanya masih tak percaya.


Rey terkekeh " Enggak sayang " Jawabnya sambil menjawel dagu Nayla yang runcing.


Nayla mengerjap, wajahnya bersemu merah. tubuhnya seakan melambung tinggi ke udara, jantung dan hati nya ikut berdesir tak karuan, Rey benar- benar melakukan ucapannya dulu, akan melamar Nayla saat dirinya sudah lulus, tapi Nayla tak menyangka akan secepat itu, bahkan dirinya belum ada 24 jam di nyatakan lulus dari kuliahnya, Rey sudah gerak cepat saja.


" Aww..." Pekik Rey, saat satu sikutan tajam menghujam perutnya. " Sakit sayang " Imbuhnya meringis sambil memegang perutnya. Badannya sedikit mundur ke belakang membuat rangkulannya terlepas dari leher Nayla.


Nayla terkesiap, dia benar-benar tidak sengaja, niatnya hanya ingin memberi sikutan kecil tapi ternyata tenaga dalam nya terlalu bersemangat untuk ikut keluar. "Sory..sory " Ucapnya kelabakan.


" Sadis banget sih " Rey masih meringis.


Nayla terkekeh, kemudian mengusap perut Rey dengan lembut " Masih sakit ?" tanya nya dengan lembut.


Rey tersenyum senang, memegang tangan Nayla, mengajaknya berpindah ke arah dadanya " Di sini masih sakit " ucapnya sedikit menggoda.


Gisella memutar bola matanya jengah, melihat kemesraan mereka membuat matanya semakin perih saja. Dia pun melipatkan tangannya di atas dada.


Membuat Nayla dan Rey menoleh ke arah Gisella, dan dengan cepat Nayla menarik tangannya dari genggaman Rey, Nayla tersenyum kikuk.


" Jadi dong Gie " Tukas Rey


Gisella kembali menunjukkan baju -baju koleksi nya, lalu dia memilihkan satu untuk Nayla " Ini sepertinya cocok untukmu Nay " Ujar Gisella mengambilkan satu baju kebaya dengan motif sederhana tapi tetap kelihatan anggun.


Nayla menatap bajunya dengan lekat, dia ingin memberi tanggapan tapi tangan Gisella lebih cepat menariknya ke ruang ganti di pojok ruang butik itu. " Cobain dulu yuk " pinta Gisella.


Nayla hanya pasrah menurut, Nayla di bantu oleh karyawan Gisella, selang 15 menit berlalu, Nayla keluar dari ruang ganti dengan menggunakan baju kebaya yang di berikan Gisella, dia terlihat sangat anggun dan mempesona dengan busana itu, Rey tampak ternganga pemandangan indah nya muncul kembali.


" Gimana Rey ?" Tanya Gisella yang berdiri di samping Rey, matanya masih tertuju pada Nayla. Di rasa tak ada jawaban, Gisella pun menoleh ke arah Rey yang menunjukkan wajah bengongnya dengan mulut yang sedikit bercelah.

__ADS_1


" Malah bengong " Gisella mengusap kasar wajah Rey, hingga membuyarkan pikiran Rey yang berlarian kemana-mana.


" Hehe...maaf " Rey menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. " Aku ambil yang itu saja " imbuhnya sambil menunjuk ke arah Nayla.


" Ok " Sahut Gisella, dia pun kembali menggiring Nayla masuk kembali ke ruang ganti. Kali ini dia yang membantu melepaskan baju itu.


Setelah selesai mendapatkan baju, Rey dan Nayla berpamitan untuk pulang pada Gisella.


" Makasih ya Gie, pembayarannya akan langsung masuk ke rekening mu nanti, kami pulang dulu " Pamit Rey sambil menggandeng tangan Nayla.


" Hmm " Gisella hanya menjawabnya dengan bergumam, dia mengantarkan Rey dan Nayla ke luar pintu butiknya, lalu melambaikan tangannya saat Rey sudah melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu, sejenak dia menatap mobil tersebut hingga menghilang dari pandangannya, dia pun kembali masuk ke dalam butik.


***


" Mas pulang dulu ya, siap-siap nanti malam harus tampil cantik " Rey berucap saat dirinya dan Nayla sudah ada di depan rumah Nayla.


" Mendadak banget sih, ibu juga pasti kaget " ucap Nayla sedikit kesal.


" memangnya kamu gak mau ?" tanya Rey sedikit mengerutkan dahi.


" Mau " ucap Nayla tanpa sadar, dia langsung membungkam mulutnya dengan telapak tangan.


Rey menyunggingkan senyum " Ya udah kalau mau, bilang dulu sama ibu, gak usah bikin persiapan, gak usah sediain makanan aneh - aneh, mama udah persiapin rencana lamaran ini dari jauh-jauh hari. Kami datang buat ngelamar bukan buat makan " Tutur Rey sambil memegang bahu Nayla. Membuatnya tertunduk menahan malu.


" Gak usah gitu mukanya, nanti mas gak kuat" Imbuh Rey, dan berhasil mendapat cubitan kecil di perutnya, Rey tak bisa menghindar, kemudian terkekeh sambil memegang perutnya yang sedikit berdenyut, dia sangat senang melihat wajah Nayla yang memerah saat dia menggodanya.


***


Maaf baru up...


moga readersnya tetep setia ya sama cerita ini, jangan lupa kasih jejak ya readers like, coment dan Vote kalian sangat berarti buat penyemangat author..

__ADS_1


Baca juga karyaku yang lain ya


MY LOVELY IDIOT HUSBAND


__ADS_2