Destiny Of Love

Destiny Of Love
Buku Panduan


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, Nayla melanjutkan pengobatannya secara menyeluruh selama satu bulan, hingga kakinya benar - benar bisa berjalan. Nayla pun ingin kembali pada aktifitasnya semula, dia ingin kembali bekerja di rumah sakit Rey. Awalnya Rey melarang hal itu, karena dia jadi lebih posesif terhadap Nayla apalagi kini dia telah menjadi suaminya, bahkan di hari pertamanya Nayla kembali menjadi co-assistant di rumah sakit untuk melanjutkan tahap pendidikannya , Rey tak mau pergi dari rumah sakit, dia malah membawa pekerjaan nya ke ruangan Nayla bekerja.


" Suami mu over protective sekali sekarang, aku sungguh bosan melihatnya seharian di sini, seperti serurity saja, dia mengawasimu selalu. " Seru dokter Ryan saat dirinya dan Nayla kembali sehabis mengontrol pasien mereka, dan melihat Rey masih duduk setia di sofa yang sengaja sediakan oleh staff rumah sakit di ruangan dokter Ryan khusus untuk dirinya. Rey yang sedang memangku laptopnya jadi mendelik tajam pada dokter Ryan saat mendengar ucapan yang membuatnya kesal.


" Kalau kau keberatan melihat wajahku, kau bisa cari ruangan lain, kau jangan lupa ini rumahsakitku. " Sahut Rey sambil mendengus kesal.


Dokter Ryan mencebikkan bibirnya, sambil duduk di kursi kerjanya. " Iya kau memang big bos nya, tapi ini ruanganku sebelumnya, kenapa kau tidak sediakan saja ruangan khusus untuk istrimu bekerja, biar kalian tidak ada yang mengganggu. " Decak Dokter Ryan.


Nayla juga duduk di kursi kerjanya, dia tidak mau memperdulikan perdebatan yang menurutnya tidak penting itu.


" Tenang saja, aku akan melakukan itu sebelum kau mengatakannya, aku sudah mempersiapkan semuanya, ruangan Nayla akan ku lengkapi dengan kamar khusus untuk aku berkunjung."


Mendengar itu, Nayla langsung menoleh ke arah Rey sambil melototkan matanya. " Yang benar saja mas, sekalian saja kau kurung aku di rumah. " Gerutu Nayla, yang membuat dokter Ryan sontak tertawa.


" Memangnya kenapa ? " Rey menunjukkan wajah tak suka, apalagi saat Rey melihat dokter Ryan menertawakannya.


" Aku ini dokter, jadi mas gak bisa berada di sini sepanjang waktu, mas sudah janji jika hanya hari ini saja mas akan mengganggu kerjaanku. "


" Tapi aku suamimu.."


" Huuuft..." Nayla menghela nafasnya kasar,


" Terserah mas saja lah " Ucapnya pasrah.


" Hey,, jangan bertengkar di sini. Kalian tidak malu padaku hah ?" Dokter Ryan menengahi keduanya.


" Ini semua gara - gara kamu, tahu gak ? " Rey menatap tajam ke arah dokter Ryan membuatnya merinding karena ketakutan.


Ruangan itupun seketika sepi, dalam beberapa menit tak ada sepatah katapun terlontar dari mulut mereka bertiga. Rey melihat jam tangan yang melingkar di tangannya dan beranjak berdiri menghampiri istrinya .


" Kamu sudah selesai kan ? ayo pulang !" Ajak Rey dengan lembut.


Nayla pun melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, memang sudah waktunya pulang, karena jam kerjanya sudah selesai. Kemudian menoleh ke arah Rey, walau dia masih kesal tapi Nayla memang selalu tak berdaya jika melihat suaminya sudah melemparkan senyum termanisnya. Diapun membalas senyuman Rey tersebut, dan bergegas membereskan berkas- berkas pasien yang menumpuk di meja kerjanya.


" Dokter Ryan, aku duluan ya..." Seru Nayla sambil menyaut tas kerjanya di atas meja.

__ADS_1


Dokter Ryan menoleh ke arah sepasang suami istri baru itu, lalu mengangguk sambil melambaikan tangannya. Keduanya pun melangkah pergi hendak keluar ruangan. Tapi saat Rey hendak membuka pintu, dokter Ryan memanggil Rey kembali.


" Ada apa? " tanya Rey dengan ketus.


" Kemarilah dulu ! bukankah tadi pagi kau menanyakan buku referensi ?" Rey menoleh ke arah Nayla dengan wajah berbeda, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Lalu menyuruh Nayla untuk keluar duluan karena dia masih ada perlu dengan dokter Ryan. Tanpa curiga Nayla menganggukkan kepala dan menuruti perintah suaminya.


" Mana ?" Rey menadahkan sebelah tangannya pada dokter Ryan dengan nada ketus.


" Apa kau tidak bisa meminta dengan halus ?" dokter Ryan berkata sambil tersenyum usil.


" Ckkk, cepatlah ! aku tidak ada waktu bercanda ." Decak Rey dengan gaya angkuhnya.


Dokter Ryan berdecih " Menyebalkan. " Umpat Dokter Ryan. Dia pun memberikan sebuah buku panduan yang di inginkan oleh Rey, dia langsung menyimpannya di dalam saku jasnya, karena memang buku nya tidak terlalu besar.


" Terima kasih, aku akan segera mengembalikannya " Ucap Rey sambil tersenyum senang.


" Tidak perlu, aku sudah hafal isinya. " seru dokter Ryan sambil tersenyum menyeringai. Keduanya pun tertawa dan Rey pamit untuk menyusul istrinya kembali.


***


Sesampainya di rumah, Nayla dan Rey langsung masuk ke dalam kamarnya, dan Nayla meminta izin untuk mandi terlebih dulu, dan Rey pun mengizinkannya karena dia juga sebenarnya belum selesai menyelesaikan pekerjaanya tadi, Rey memutuskan untuk membuka laptopnya kembali sambil menunggu Nayla mandi.


Tak berapa lama, Nayla keluar dari kamar mandi sudah berganti baju dengan menggunakan mini dress berwarna biru muda, Nayla sangat terlihat sexi dengan baju tersebut. Membuat mata Rey selalu tertuju pada Nayla.


" Mengapa menatapku seperti itu mas? apa aku terlihat jelek ? " Tanya Nayla sambil memperhatikan penampilannya.


Rey mengeleng kemudian menutup laptopnya dan berjalan menghampiri Nayla. " Kau sexi sekali , aku mandi dulu ." Bisik Rey di telinga Nayla, membuat bulu guduk Nayla merinding geli.


Nayla terpaku sesaat menatap suaminya berjalan ke arah kamar mandi, wajahnya tampak bersemu merah, tapi kemudian dia tersadar kembali saat Rey menutup pintu kamar mandinya dengan rapat.


Nayla menggelengkan kepalanya dengan cepat, dan menepuk - nepuk pipinya agar rona di wajahnya sedikit berkurang. Nayla mencoba mengalihkan rasa malu nya dengan membereskan pakaian kerja Rey yang di simpan di atas ranjang.


Nayla mengambil jas itu hendak memasukkan nya ke keranjang baju kotor, tapi tak sengaja dia menyentuh sesuatu yang aneh di dalam saku Rey, sontak dia langsung merogoh saku tersebut dan mengeluarkan isinya.


" Sebuah buku .." Nayla membalik buku itu dan melihat cover depannya.

__ADS_1


" Buku panduan......" ucapan Nayla terjeda seketika dan tak mau melanjutkan membaca judul buku tersebut. " Astaga ! " Imbuh Nayla sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.


Nayla dengan cepat melempar buku tersebut ke atas tempat tidur. " Buat apa dia membaca buku seperti itu. " Gumamnya sambil memperhatikan buku tersebut.


Beberapa menit Nayla tertegun, bahkan saat Rey membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana dia tak menyadari nya. " Sayang, kamu kenapa ?" tanya Rey sambil memeluk Nayla dari belakang.


Nayla begitu terkesiap dengan perlakuan Rey, dia pun menoleh dengan cepat, Nayla menunjuk ke arah buku di atas ranjang


" Kenapa kamu baca buku seperti itu mas ?" Tanya Nayla dengan hati - hati.


Mata Rey mengikuti arah telunjuk Nayla, dan tiba - tiba membulat sempurna saat melihat buku tersebut dan seketika dia langsung menyautnya dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.


" Ini punya Ryan, dan aku tidak membaca nya sayang. " Ucap Rey dengan gugup.


Nayla mengernyit dahi. " Jadi itu buku referensi yang dokter Ryan bilang tadi ?" tanya Nayla , saat dia ingat saat dokter Ryan menghentikannya sebelum mereka pulang.


" Itu... itu... cuma buat ilmu saja sayang, gak ada salahnya bukan jika kita tahu lebih banyak dari buku." Rey berkelit, dia sebenarnya malu tapi apa daya, Nayla sudah melihat bukunya.


" Tapi buat apa ? apa mas tidak bisa melakukannya sendiri ?" tanya Nayla sedikit ragu.


Mendengar itu Rey membelalakkan matanya, dia tak menyangka istrinya meragukan dirinya. Dia langsung melempar buku itu ke sembarang arah, dan dia terlihat sangat marah sambil terus menatap istri nya dan melangkah menghampirinya.


Nayla jadi ketakutan, dia menarik mundur tubuhnya dengan melangkahkan kakinya ke belakang. Rey mempercepat langkahnya dan dengan cepat tangannya merengkuh pinggang Nayla lalu menempelkan pada tubuhnya yang hanya berbalut handuk saja.


" Kamu meragukan ku, hemm ?" Bisik Rey di telinga Nayla, terdengar begitu lembut dan sangat menggoda. Nayla menelan salivanya dan menatap Rey yang juga menatapnya dengan penuh arti.


" Kau mau mencobanya ? bukankah kau sudah sembuh sekarang ? biar ku buktikan kalau aku tidak membutuhkan buku itu buat referensi lagi, apa kau sudah siap ? " Nayla begitu merinding saat Rey berkata seperti itu di telinga Nayla, hembusan nafas Rey begitu memburu terasa di leher Nayla yang membuatnya memejamkan mata.


" Mas..." Keluh Nayla saat Rey memulai aksinya.


***


Happy reading 😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers Like , comment , favorite , rate 5 , dan VOTE sebanyak - banyaknya. makasih.

__ADS_1


__ADS_2