Destiny Of Love

Destiny Of Love
Merasa Iri


__ADS_3

Esok hari nya, Nayla dan keluarga nya sudah mulai bersiap setelah solat subuh, dengan hebohnya Tina mendandani anak gadis nya agar terlihat menawan di hari pentingnya itu.


"Bu, jangan tebal-tebal make-up-nya, aku bukan badut!" seru Nayla dengan kesal, saat ibunya sedang asyik memoles dan menempelkan aneka jenis make up di wajah cantik Nayla.


"Diam dulu, pasti cantik, kok," sahut Tina merasa terganggu saat anaknya sedikit bergerak.


Nayla berdecak kesal, dia memang tidak pernah berdandan yang berlebihan. Tapi Tina tidak ingin anaknya tampil biasa-biasa saja, dia harus tampil luar biasa.


"Memangnya Ibu bisa gitu ngerias wajah aku, nanti malah terlihat aneh lagi," ucap Nayla tidak percaya, karena dia juga tidak pernah melihat ibunya dandan sendiri atau mendandani orang lain.


"Kamu gak usah takut, make-up Ibu gak kalah kok sama yang di salon-salon mahal itu, Ibu kan dulu pernah ikut kursus rias pengantin," tutur Tina.


Nayla mendelik, sedikit mengangkat dagunya dan melirik sang ibu. "Kapan?" tanyanya.


"Waktu masih kuliah."


"Hah? Ibu yakin gak lupa lagi?" Nayla tersentak, ibunya lulus kuliah sudah lama sekali, bahkan sebelum dirinya belum ada di dunia ini.


"Gak lah, Ibu kan, gak pikun."


Nayla menghela nafas, akhirnya dia pasrah dirinya di make-over oleh sang ibu, mudah-mudahan hasilnya tidak aneh. Pikir Nayla.


Setelah setengah jam ibunya berkutik dengan berbagai macam alat make-up, akhirnya Tina selesai merias wajah Nayla dengan sangat cantik, Tina pun menyuruh Nayla bangun dari posisinya yang tadi di suruh berbaring di kasur saat di rias oleh sang ibu yang berubah menjadi penata rias dadakan itu.


Nayla belum memakai baju kebayanya, dia baru saja mandi dan hanya memakai handuk kimono saat ibunya datang membawa peralatan make up yang katanya dapat pinjaman dari teman ibunya, Tina langsung menyuruh Nayla berbaring dan melancarkan aksi make over tersebut.


Nayla beranjak dari kasur, dia segera melangkahkan kakinya ke arah cermin, sesaat dia tercengang, saat dia melihat pantulan wajahnya yang terlihat di cermin, sedikit ada celah di bibirnya yang sekarang terlihat lebih sexi dan menawan.


"Gimana, cantik, kan?" tanya Tina dengan gaya angkuhnya, "Itu baru make-up di wajah, apalagi kalau semuanya udah rapi, sini sekarang Ibu rapikan rambutnya. " Tina menarik sebuah kursi kecil di depan lemari rias Nayla dan mendudukkan tubuh Nayla di atas kursi itu.

__ADS_1


"Aku gak nyangka ibu bisa ngerias, kenapa gak buka jasa rias saja, Bu?" Nayla merasa puas dengan hasil riasan ibunya.


"Kamu kan, tahu, make-up ini tuh gak murah, apalagi kalau buat rias pengantin, harganya mahal banget, Ibu mana ada uangnya," curhat bu Tina yang membuat Nayla sejenak menatap pantulan wajah ibunya di cermin yang berada di hadapannya. Lalu dia tersenyum tipis.


"Nanti kalau Nayla udah kerja, Nayla beliin ya, Bu." ucap Nayla membuat Tina sejenak berhenti saat merapikan rambut Nayla. Kemudian tersenyum menatap pantulan dirinya dan Nayla di cermin.


"Iya, Ibu doain kamu bisa menjadi dokter yang hebat, bisa menolong orang sakit tanpa pandang bulu, inget loh Nay, pekerjaan kamu tuh bukan untuk ngehasilin uang yang banyak, tapi lebih memberikan jasa dan keahlianmu untuk menolong orang lain, jadi jangan pilih- pilih pasien, ya!" Nasihat bu Tina sambil meneruskan kembali aktifitasnya menyisir rambut Nayla dan membuat sebuah sanggul kecil di sana.


"Iya, Bu," sahut Nayla.


Beberapa menit kemudian rambutnya pun selesai, "Sudah beres, cantik banget sih, gadis Ibu," puji Tina dengan gemasnya.


"Emang cantik ya, Bu?" Nayla sedikit tersipu melihat wajahnya sendiri yang terlihat berbeda.


"Hmm ...." Tina mengangguk senang.


Nayla tersenyum, saat dia sadar sesuatu dia pun menoleh pada sang ibu.


"Lah ... gimana ini? Ibu lupa." Tina melongo, lalu menepuk keningnya pelan. Lalu berpikir keras bagaimana caranya memakaikan kebaya Nayla tanpa merusak riasan rambutnya.


***


Kini Nayla sudah berada dalam mobil Ardi, yang sejak setengah jam yang lalu dia dan keluarganya menunggu Tina yang bergiliran bersiap diri setelah selesai merias Nayla.


Ardi tampak terpesona dengan penampilan Nayla, semenjak dia bersahabat dengan Nayla baru kali ini Nayla tampil berbeda. "Lihat ke depan, Ar! Gue mau wisuda, ya. Gue gak mau harus mampir ke rumah sakit dulu gara-gara ulah lo yang nyetir sambil nengok-nengok terus ke arah gue," sindir Nayla, yang duduk di samping Ardi yang mengemudikan mobil yang mereka tumpangi. Nayla memang sudah tak sungkan dengan keluarga Ardi, sejak kecil dirinya sering diajak Ardi bermain ke rumah mereka.


Ardi merasa malu, diapun menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, kemudian tersenyum kikuk. Kedua keluarga pun jadi tertawa kecil.


"Iya, Ar. Kamu harus fokus nyetir, dong! Nayla emang cantik banget hari ini, tapi sayang udah punya pacar, iya kan, Bu Tina?" tanya bu Yuli ibunya Ardi.

__ADS_1


Tina hanya tersenyum menanggapi nya, sedikit canggung, ucapan Yuli terdengar seperti menyindir itu, karena cinta anaknya ditolak oleh Nayla. Suasananya seketika hening.


Tak lama mereka pun sampai di gedung tempat wisuda, Ardi pun memarkirkan mobilnya di parkiran gedung tersebut, setelah mereka semua turun dari mobil, terlihat sebuah mobil yang di kenal oleh Nayla, membuatnya menghentikan langkah nya menunggu penumpang mobil tersebut turun.


"Nay ...." teriak heboh Rere saat sudah turun dari mobil, kemudian setengah berlari menghampiri Nayla. Kemudian di susul oleh Gisella dan mama Rania di belakangnya.


"Bu Tina, itu siapa yang jalan bareng calon besan, cantik, ya? Udah kayak artis," bisik Yuli yang ikut memperhatikan kedatangan keluarga Rere, berdiri sedikit jauh dari Nayla.


"Itu Gisella, temannya Rey," jawab Tina dengan santai.


"Oh ... hati-hati loh, Bu! Cantik loh, itu. Kelihatannya juga anak orang kaya," bisik Yuli lagi.


Tina mengernyit, sejenak terdiam mencerna ucapan Yuli yang ada benarnya juga, terlebih dia tahu kalau Gisella adalah mantan kekasihnya Rey. "Gak usah takut, Bu Yuli, kalau udah jodoh gak akan ketuker, kok," ucapnya kemudian dengan suara pelan juga.


"Pangling Nay, udah kayak cewe lo kayak gini." Suara Rere terdengar nyaring saat sudah berhadapan dengan Nayla.


Nayla mengerutkan dahinya, "Memangnya selama ini lo pikir gue ini apaan?" seru ayla sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hehehe ... maksud gue, lo terlihat lebih cantik. Bang Rey pasti gak bisa bakal ngedip saat pertama kali lihat lo kayak gini," kekeh Rere sambil cengengesan.


Nayla tersipu, apalagi saat mama Rania juga memuji nya dengan heboh, "Calon mantuku, pangling banget, deh," seru Rania sambil memeluk Nayla berkali-kali. Sejenak melupakan Gisella yang berdiri di sebelahnya. Membuat Gisella merasa sedikit iri melihatnya.


"Mbak Gie, kirain gak bakal datang?" Nayla tersenyum senang, saat dirinya sudah terbebas dari pelukan calon mama mertua.


Gisella mengulas senyum, "Aku pasti datang, aku kan sudah janji sama kamu."


"Nay, kita masuk, yuk! Nanti kita kebagian kursi paling belakang," tukas Rere mengajak Nayla dan mengandeng tangan Nayla berjalan mendahului Gisella yang masih mematung seorang diri. Saat itu mama Rania sudah menghampiri orang tua Nayla dan Ardi. Gisella menjadi terasa asing saat itu, hatinya sedikit menciut, seketika bayangan Martin kembali menghantui pikirannya yang sedikit kacau. Dia menangis dalam kesendiriannya.


***

__ADS_1


Jangan lupa like, coment, dan juga vote yang banyak ya...


__ADS_2