Destiny Of Love

Destiny Of Love
Terselamatkan


__ADS_3

Cahaya mentari pagi, menyeruak di ufuk timur, tampak seorang gadis sedang termenung di depan teras sebuah rumah tua yang berdindingkan anyaman bambu, dia sedang memegangi kakinya yang terbalut oleh kain dengan ramuan di dalamnya, dia duduk berselonjor kaki di sebuah kursi yang terbuat dari bambu panjang yang mempunyai sandaran di atasnya. Suasana rumah yang asri dan beberapa pohon yang berada di sekiling rumah membuat suara - suara burung kecil saling bersautan memecah keheningan.


" Neng, sedang apa ? " Tanya seorang nenek, yang berusia sekitar 65 tahun itu, dengan logat sunda yang masih kental dalam nada bicaranya, suaranya yang mengagetkan membuat gadis itu menoleh.


" Aku hanya sedang memikirkan keluarga ku Mak, sudah hampir dua bulan aku di sini, mungkin mereka sangat khawatir padaku saat ini " Ucap sang gadis yang tak lain adalah Nayla Agustina yang terselamatkan dari insiden percobaan pembunuhan atas dirinya waktu itu, karena pertolongan sepasang suami istri dan juga seorang cucu perempuan nya.


*** Flasback on


" Nini, ada mayat ! " Teriak seorang anak perempuan yang berusia 10 tahun ketika dia sedang mencari kayu bakar. ( Nini sama dengan Nenek ya...)


Sang Nenek pun mendekat bersama dengan suami nya. " Mayat apa ?" tanya nenek yang bernama Lastri itu.


" Si Teteh cantik Ni, badannya penuh dengan luka " Cerita anak kecil bernama Ayu itu dengan hebohnya.


Nenek Lastri dan kakek Asep pun menghampiri gadis yang di ceritakan oleh cucunya, kakek Asep memeriksa denyut nadi gadis yang lain adalah Nayla yang sengaja di lempar oleh penjahat ke dalam jurang tersebut.


" Dia masih hidup " Ucap kakek Asep.


" Cepat tolong dia Aki! " Seru sang cucu dengan heboh nya.


Kemudian kakek Asep pun membopong Nayla dengan susah payah menuju ke rumahnya. Rumahnya sangat jauh dari area hutan itu, mereka tinggal di suatu perkampungan terpencil yang berada di dalam hutan, yang berpenduduk tidaklah banyak, mereka seperti warga yang terisolir, tapi memang itu pilihan mereka, yang tinggal disana hanya lah orang - orang yang tidak pernah mau berhubungan dengan yang namanya hingar bingar duniawi yang selalu di perebutkan oleh orang - orang kota pada umumnya.


Mereka hanya ingin hidup damai bersama alam, tanpa harus ikut bersaing dan saling menjatuhkan antar sesama manusia lainnya. Gotong royong dan kebersamaan masih terjaga dan lestari di desa itu.


Mereka membawa Nayla ke rumah gubuk yang berdinding anyaman bambu, tampak sederhana tapi sangat nyaman untuk di tempati. Mereka merawat Nayla dengan penuh ketelatenan, kakek Asep sedikit mengerti pengobatan tradisional, karena di sana tidak ada puskesmas atau balai pengobatan, jika mereka sakit, mereka hanya bergantung kepada alam yang menyediakan berbagai tanaman obat - obatan yang melimpah ruah di sana. Nayla sangat beruntung di ketemukan oleh keluarga itu hingga akhirnya dirinya terselamatkan.


*** Flasback Off


" Jika kaki neng sudah bisa berjalan dengan baik, neng bisa pulang ke keluarga neng Nay " Ucap nenek Lastri sambil menepuk pundak Nayla.


Nayla tersenyum getir, dia jadi mengingat kembali kejadian yang menimpa nya waktu itu, harusnya dia sekarang sudah menjadi istrinya Rey, tapi sekarang dia malah terjebak di sebuah desa yang terpencil yang harus melewati hutan saat ingin kembali ke perkotaan tempat tinggal Nayla berada. Tapi dia masih bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk hidup.

__ADS_1


Saat dirinya terbangun dari koma, yang kata nenek Lastri hampir satu bulan Nayla tak sadarkan diri, Nayla merasa dirinya sudah berada di syurga, tapi ternyata dia masih hidup, walaupun dengan kondisi yang sangat menyakitkan, kaki nya patah, dan begitu banyak luka di tubuhnya, terutama luka tusuk di pinggangnya, tapi beberapa luka kecil sudah berangsur mengering, karena keterbatasan pengobatan yang Nayla dapatkan, membuat proses penyembuhan Nayla menjadi sangat lama.


" Mak, bagaimana jika keluargaku sudah menganggapku sudah meninggal ?" Hal yang selalu di pikirkan Nayla saat ini, jika keluarganya menyangka dirinya sudah meninggal dunia, membuatnya merasa bersedih hati, keluarga nya pasti sangat terluka saat ini.


" Neng tidak boleh berkata seperti itu, neng masih hidup, ketika neng kembali ke rumah, keluarga neng pasti sangat bahagia. " Mak Lastri selalu memberikan semangat pada Nayla, saat mereka sedang asyik berbincang disana, tiba - tiba kedatangan Ayu bersama kakek Asep membuat suasana jadi berisik, Ayu dengan hebohnya menceritakan kejadian yang di alami nya di hutan tadi saat mencari makanan dan kayu bakar.


Nayla ikut tertawa kecil mendengar cerita heboh anak itu, kakek Asep duduk di samping Nayla, memperhatikan kaki Nayla yang masih di balut kain perban alakadarnya.


" Bagaimana dengan kakimu Nay, sini aki lihat dulu. ! " Tanpa segan kakek menggerakkan sebelah kaki Nayla yang tadinya patah akibat benturan yang sangat keras saat terjatuh dulu.


Kakek Asep membuka perban itu dan memijat perlahan persendian Nayla yang sudah mulai membaik itu, membuat Nayla sedikit meringis kesakitan.


" Masih sakit ? " tanya kakek Asep.


" Sedikit "


Kakek Asep membalutkan kembali perban di kaki Nayla. " Ini sudah mulai membaik, sebentar lagi kamu akan segera bisa berjalan, bagaimana dengan luka mu yang lain? luka di pinggang mu ? "


"Terimakasih emak dan aki, kalian sudah merawatku dengan sangat baik, jika Nay tidak di temukan oleh kalian mungkin Nay sudah mati waktu itu " Imbuh Nayla sambil menatap sendu kedua orang tua yang di hadapannya secara bergantian.


Mereka membalas dengan mengulas senyuman hangat nya " Neng jangan sungkan begitu, itu mah sudah menjadi kewajiban tiap orang buat saling tolong menolong " Nenek Lastri berkata dengan gaya nya yang kemayu.


" Teh Nay, Ayu juga ikut nolongin ci eteh nya loh waktu itu !" Ayu yang sedari tadi ada di situ merasa terabaikan dan di anggap tidak ada, dia pun merajuk dengan kesal. (Teteh atau eteh panggilan kakak dalam bahasa sunda ya reads)


Nayla menoleh pada Ayu kemudian menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum manis di sana.


" Tentu atuh, Ayu kan yang paling berjasa pada teh Nayla, sini eteh kasih hadiah ! " Nayla melebarkan kedua tangannya, ingin memberikan sebuah pelukan hangat untuk anak yang sudah di tinggal kan oleh kedua orang tuanya itu. Ayu pun tersenyum senang, dia tak segan berlari kecil dan memeluk tubuh Nayla yang hanya bisa duduk di tempatnya, Nayla juga memberikan sebuah kecupan kecil di puncak kepala anak itu.


" Teteh tinggal di sini aja atuh, gak usah balik ke kota " Ucap polos Ayu saat Nayla sudah melepas pelukannya.


" Teteh juga punya keluarga Ayu, gimana kalau mereka cariin teteh selama ini, kasian kan ?" Seru Nayla, memberikan pengertian pada sosok anak yang selalu merasa kesepian itu, adanya Nayla membuatnya merasa ada teman baru yang menemaninya di rumah tua itu.

__ADS_1


Ayu menekuk wajah nya dengan kesal, dia cemberut dan mengalihkan pandangannya dari Nayla, membuat Nayla merasa bersalah melihatnya.


" Eteh bisa ajak kamu ke kota nanti, jika kamu mau ?" Ajak Nayla, yang membuat bibir Ayu mengembang dengan senyuman yang merekah. Dia sangat ingin pergi ke kota sejak dulu, tapi saat dia melihat wajah aki dan nini nya yang juga sedang memperhatikan reaksi wajah Ayu, dia kembali beraut muram sambil menunduk dan menggelengkan kepalanya pelan.


" Kenapa ? " Nayla mengernyit dahi, merasa heran dengan perubahan wajah Ayu yang seketika sedih kembali.


" Ayu gak mau ke kota, nanti Ayu gak bisa pulang lagi kesini, kasian aki sama nini. " Ayu berbicara sambil menundukkan wajahnya, kemudian beranjak pergi melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Nayla mengerjap bingung, menatap punggung Ayu sampai hilang di balik pintu. Nayla beralih kembali kepada Mak Lastri dan aki Asep.


" Ayu kenapa ?" Tanya Nayla dengan heran.


"Te kunanaon neng, gak apa - apa, dia memang gitu kalau ada orang yang mau pergi ke kota " Mak Lastri menjelaskan dengan mengibaskan tangannya sebelah.


" Tapi kenapa ?" Nayla masih bingung dan merasa penasaran.


Mak Lastri sejenak berpikir, kemudian menoleh ke arah aki Asep, melihat suaminya menganggukkan kepala, mak Lastri seakan mendapat ijin dan beralih kembali pada Nayla.


" Sebenarnya gini neng, orang tua Ayu itu masih hidup, mereka sudah lama sekali pergi ke kota, waktu itu mereka pamit untuk mencari kehidupan yang lebih layak disana, dan menitipkan Ayu pada kami. Tapi, sudah tiga tahun mereka tidak kembali, Ayu sangat merindukan kedua orang tua nya, tapi dia juga mengkhawatirkan kami di sini. " Tutur emak Lastri, raut kesedihan pun tak luput dari wajahnya yang sudah terlihat mengerut, dia juga merindukan anak dan mantunya tersebut.


" Kalian tidak pernah mencari mereka ?" Nayla merasa iba dengan nasib keluarga itu.


Mak Lastri menggeleng dengan tatapan sendunya, dan sang suami ikut merasakan kesedian istrinya dengan menepuk pelan pundak mak Lastri.


" Kami tidak pernah ke kota Nay, kami takut nyasar " Ucap Aki Asep ikut menimpali.


Nayla terenyuh, dalam hatinya dia merutuki sikap anak aki dan emak tersebut, anak macam apa yang meninggalkan orang tuanya seperti itu, dan masih harus di bebani seorang anak yang masih kecil, dan mereka juga tidak kasihan kepada anak mereka yang harus merawat nenek dan kakek nya yang sudah mulai renta.


***


Maaf ya reads,, jangan dulu di un favorit dong novel ini ! masih tetap berlanjut kok ceritanya...makasih ya yang udah stay on terus di cerita ini, author sangat berterima kasih atas dukungannya. Biar tetap semangat !

__ADS_1


__ADS_2