
Mobil yang membawa Nayla dan penjahat itu telah sampai di kantor polisi, begitu juga dengan Gisella. Dengan langkah pasti Gisella dengan yakin akan mengakui kejahatannya pada polisi.
Setelah sampai di dalam kantor Nayla menjelaskan perihal kecelakaannya waktu lalu. Polisi segera mencatat kasus hukum tersebut sebagai tindak pidana, dan sementara Gisella harus mendekam di penjara sampai ketiga teman penjahat tersebut tertangkap. Gisella tak merasa takut lagi, setidaknya dia tahu Nayla tidak membencinya.
" Mbak, apa kau tidak apa - apa di sini dulu ? " Tanya Nayla merasa tak tega melihat kakak angkatnya berada di balik jeruji besi.
Gisella tersenyum lalu mengenggam tangan Nayla. " Ini adalah hukuman yang sebenarnya Nayla, kamu sangat berhati lapang bisa memaafkanku begitu saja, padahal nyawa mu juga hampir menghilang. Tapi aku harus membayar kejahatanku sendiri. Pulang lah ! " seru Gisella dengan yakin.
Nayla diam sejenak, sebenarnya dia kasihan tapi negara ini adalah negara hukum, jadi semuanya harus sesuai prosedur, Gisella yang memutuskan untuk mengakui semua kesalahannya dan mengikuti semua aturan hukum yang ada.
" Baiklah, aku akan membantumu keluar dengan cepat dari sini. " Nayla pun akhirnya mengiyakan keinginan Gisella.
" Terima kasih Nay , aku boleh minta tolong lagi ?"
" Katakan mbak, jika aku bisa pasti ku bantu. "
" Tolong hubungi pengacara ku, suruh dia bawa orang untuk membawa mobilku pulang nantinya, biarkan dia yang urus masalah ini Nay, aku tidak mau menyusahkanmu terus ! " Seru Gisella meyakinkan bahwa dirinya tidak apa - apa.
Nayla mengangguk, setelah berpamitan untuk pulang, dia pun pergi meninggalkan Gisella dan kembali ke rumah Rey, niatnya untuk pergi ke rumah orang tuanya dia urungkan, karena dia ingin sekali bertemu dengan suaminya tercinta.
" Pak, kembali ke rumah ya ! " perintah Nayla pada pak Eko saat dia sudah masuk ke dalam mobil.
" Baik bu ." Pak Eko pun langsung memutar mobil nya dan melajukannya ke arah rumah bos nya.
Nayla kembali ke rumah Rey saat senja sudah tiba, dan mentari telah tenggelam di ufuk barat meninggalkan semua kenangan tanpa isyarat, dan menunggu hari esok dengan penuh semangat.
Nayla bertemu dengan mama Rania dan juga Rere di ruang tengah. Setelah menyapa keduanya dia pamit untuk masuk ke kamarnya, karena kata Rere suaminya sudah pulang dari tadi.
Dengan langkah gontai dia bergegas menuju kamarnya, Nayla sangat tidak sabar bertemu dengan suami yang sangat di cintainya itu, dia sangat merasa bersalah karena saat mereka menikah dadakan itu, dia pernah tak percaya dengan kesetiaan suaminya. Dia pikir selama ini Rey tak benar - benar mencintainya karena dengan mudah Rey melupakannya dan bersedia menikah dengan Gisella saat itu.
__ADS_1
Nayla ingin meluapkan rasa cintanya untuk suaminya tersebut, hati nya kini sedang berbunga - bunga dan begitu berbahagia. Ingin sekali dia memeluk suami nya itu.
Sesampainya di depan kamar, Nayla langsung membuka pintu dan masuk tanpa permisi berbarengan dengan Rey yang baru keluar dari kamar mandi baru selesai membersihkan diri. Dengan hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di bawah perut sambil menggosok - gosokkan handuk kecil di rambutnya yang basah.
Nayla berdiri mematung, dengan sesekali menelan ludahnya dengan berat, rasa malu dan kagum bercampur jadi satu, Nayla bingung keinginannya memeluk suaminya jadi tertahan saat dia melihat pemandangan yang akan meruntuhkan pertahanan. Jika Nayla melakukannya sekarang mungkin Rey akan berpikir macam - macam, jadi dia memutuskan untuk masuk perlahan dan mengalihkan pandangan.
" Kau sudah pulang ? bagaimana keadaan keluarga disana ? mereka baik - baik saja kan ? " Rey bertanya saat dirinya melihat Nayla berjalan masuk ke dalam kamar dan menyimpan tas kecilnya di tempat biasanya. Rey tak menyadari istrinya sedang menahan malu melihatnya dengan hanya menggunakan handuk saja.
" Aku tidak jadi kesana, tadi ada masalah sedikit di rumah sakit. " Jawab Nayla berbohong sambil berjalan melewati suami nya tanpa menoleh hendak mengambil handuk berniat untuk mandi.
Rey mengernyit, merasa aneh dengan sikap istrinya tersebut. " Kamu ini kenapa ? kalau bicara lihat orangnya, memangnya kamu tak lihat mas disini ? " Rey mencekal tangan Nayla, dan mendekatkan tubuh Nayla dengannya hingga mereka kini saling beradu pandang, membuat jantung Nayla kembali berdetak kencang. Wajahnya kembali memerah. Rey menatap lekat wajah istrinya itu.
" Kenapa wajahmu memerah sayang ? Kamu sakit ? " Tanya Rey sambil memegang dahi istrinya.
Nayla pun merengut mendengar pertanyaan konyol suaminya tersebut. " Aku tidak sakit." ucap nya sambil menyingkirkan tangan suaminya dari dahinya sendiri.
" Tapi wajahmu merah sekali ." Seru Rey semakin khawatir dengan kondisi istrinya.
" Sudah ku bilang aku tidak sakit...pakai bajumu !" Teriak Nayla dengan sedikit emosi, dia kembali mengalihkan pandangannya.
Rey mengerutkan dahi, lalu menatap tubuhnya sendiri yang hanya menggunakan handuk saja, lalu tersenyum menyeringai penuh arti.
" Kau malu melihatku seperti ini hah ? bukankah kau sudah sering melihat semuanya yang ada di tubuhku ? " Goda Rey semakin mendekatkan tubuhnya pada istrinya yang semakin malu.
Nayla memang sudah beberapa kali melihat tubuh Rey semenjak kejadian malam itu saat dia memberikan mahkotanya pada suaminya, tapi tetap saja dia masih malu, dan malam ini rasa malu nya bertambah besar, entah kenapa tubuhnya begitu panas saat melihat Rey seperti itu. Darahnya seakan berdesir lebih hebat dari biasanya. Kata - kata pengakuan dari Gisella yang mengatakan Rey sangat mencintainya membuat kerinduan wanita jagoan ini ingin terluapkan.
Nayla memejamkan matanya sejenak, lalu berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan. Tubuhnya semakin panas, apalagi saat Rey merengkuh pinggangnya yang ramping, membuat detak jantung nya berdetak lebih kencang.
Cup
__ADS_1
Sekilas ciuman lembut mendarat di bibir Rey, membuat Rey terkesiap mendapat perlakuan manis dari istrinya tersebut. Bahkan dia belum memintanya tapi Nayla sudah memberikannya. Rey tersenyum senang.
" Istriku sudah pintar menggoda rupanya . " Ucap Rey sambil mengelus pipi Nayla.
Nayla kembali tersipu tapi di luar dugaan suaminya Nayla malah memeluk Rey dengan sangat erat, menyalurkan keinginannya yang dari tadi dia tahan, mengalahkan rasa ego dan rasa malunya untuk memulai.
" Terima kasih . " Ucap Nayla pelan.
Rey kembali terkesiap, ada yang aneh dengan istrinya tersebut, tapi tak di pungkiri dia juga merasa senang.
" Terima kasih untuk apa sayang ?" Rey mengusap punggung istrinya.
" Terima kasih karena mas sudah mencintaiku . "
Rey melepaskan pelukan istrinya. " Kau ini bicara apa ? aku akan selalu mencintaimu, tapi jika kamu ingin berterima kasih, ada caranya ." Ucap Rey sambil tersenyum penuh arti.
Nayla tersenyum mengerti, kini dia yang berinisiatif terlebih dahulu. " Aku tahu... " tanpa ragu Nayla menarik tangan suaminya. "Ayo ikut ! " Ajaknya kemudian.
" Mau kemana ? " Rey mengerjap bingung, kenapa istrinya begitu bersemangat sekali.
" Ikut aku mandi ." Jawabnya tanpa rasa malu, Entah syetan apa yang merasuki Nayla saat ini hingga dia berani berinisiatif sendiri.
Rey tersenyum lucu, istrinya yang terlihat lugu kini mengajaknya untuk bercumbu. " Apa kau yakin ? aku bisa melakukan apa saja disana jika kamu mengajakku masuk. " Ujar Rey sambil mencondongkan wajahnya mendekati wajah Nayla.
Nayla tersipu kembali tapi akhirnya tersenyum juga, " Aku tahu, aku pasrah saja." Ucap Nayla dengan gaya manjanya, membuat Rey merinding mendengarnya, dan sesuatu disana sudah mulai menegang, Rey semakin tak sabar untuk memulai.
Tanpa aba - aba Rey langsung membopong tubuh istrinya, dan membawanya ke kamar mandi. Dan mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan di sana.
****
__ADS_1
Happy Reading 😆😆
Authornya sedih sekali, lihat komentar dan like nya semakin sepi, walau sekarang gak dapat apa - apa, tapi jika melihat komentar readers yang menggemaskan, author jadi semangat lagi...VOTE...vote ...vote...😉