Destiny Of Love

Destiny Of Love
KISAH BARU


__ADS_3

Nayla menyusul adiknya ke kamarnya, dia merasa bersalah karena sudah membentak Dio seperti itu, sekaligus dia ingin menanyakan alasan Dio bersikap seperti itu terhadap Ayu.


Sesampainya di dalam kamar Dio, Nayla membuka pintu kamar yang sedikit terbuka, di lihatnya Dio sedang duduk bersila di atas tempat tidur. Saat kakaknya datang anak ABGo itu memalingkan wajahnya ke arah lain sambil melipat tangannya di depan dada. Nayla mendekati adiknya dan duduk di tepi tempat tidur.


" Kamu marah sama kakak ? " Tanya Nayla, tapi Dio hanya diam saja, tak memberi tanggapan apa - apa.


Nayla menghela nafas kasar. " Maaf ya, kakak gak sengaja bentak kamu . " Ucapnya dengan wajah sendu. Dio menoleh, melihat wajah kakaknya yang memelas membuat egonya sedikit mengalah. Dio menurunkan tangannya lalu menghadapkan duduknya pada sang kakak.


" Kakak sayang Dio gak ? " Tanya nya.


Nayla mengernyit, pertanyaan macam apa itu, mana ada kakak yang tak sayang pada adik kandungnya. " Tentu saja sayang, Kenapa nanya gitu ? " Tanya Nayla penasaran.


Dio mencebikkan bibirnya. " Bohong. " Cela nya. " Buktinya kakak selalu belain Ayu, semenjak dia di sini kakak selalu nanyain dia dulu daripada Dio. " Imbuh Dio meluapkan kekesalannya karena cemburu.


Mendengar alasan tersebut Nayla malah tertawa, dan Dio menajamkan kedua alisnya, semakin jelas bahwa kakaknya lebih menyayangi Ayu. Dirinya bahkan malah di tertawakan seperti itu.


" Tuh kan bener ! Kakak lebih sayang sama Ayu. " Dio kembali merajuk, dan satu pukulan kecil melayang di dahi laki - laki remaja itu.


" Kamu itu bicara apa ? Kakak itu sayang sayang sama kamu, sama Ayu juga. "


" Ayu bukan adik kakak, dia juga bukan keluarga kita. " Celetuk Dio lagi.


Nayla terdiam sejenak, menatap wajah sang adik yang sudah menginjak usia remaja, tapi tingkahnya masih seperti anak TK.


"Kamu tahu gak ? waktu kecelakaan itu, kalau tidak ada Ayu dan keluarganya mungkin kamu gak akan ketemu kakak lagi. Tubuh kakak sudah habis di cabik - cabik oleh binatang di hutan. Setelah apa yang mereka lakukan pada kakak, kamu masih berpikir mereka bukan siapa - siapa kita ? " Tutur Nayla memberi pengertian.


Dio mencoba mencerna perkataan kakak perempuannya tersebut, menatap wajah kakaknya yang terlihat serius dengan ucapannya. " Maaf kak, Dio lupa ! yang Dio ingat malah perhatian kakak yang berkurang karena kedatangan mereka, padahal jasa mereka sangat besar bagi keluarga kita. " Ucap Dio menyesali perbuatannya.


Saat Dio hendak mengucap kata lagi, pandangannya tersita pada seseorang yang mencuri dengar di balik pintu kamar. " Ayu, ngapain di situ ? " panggil Dio pada orang yang mencuri dengar disana dia adalah Ayu.


Nayla memutar kepalanya mengikuti arah pandangan Dio dan menemukan Ayu sedang berdiri takut - takut di ambang pintu.

__ADS_1


Nayla tersenyum lalu beranjak berdiri dan menghampiri gadis kecil itu. Dan menggiringnya masuk ke dalam kamar Dio.


" Duduk di sini ! ngapain berdiri disana ! " Seru Nayla sambil mendudukkan tubuh kecil itu di tepi tempat tidur dekat dengan posisi duduk Dio.


Dio merasa bersalah atas ucapannya pada Ayu, dia ingin meminta maaf padanya.


" Ayu minta maaf A Dio . " ucap Ayu lebih dulu meminta maaf sambil menundukkan wajahnya, Dio semakin merasa tak enak hati, dia yang salah tapi gadis itu yang minta maaf. Dio sekarang sudah kelas tiga SMP, sebentar lagi lulus dan lanjut ke Sekolah Menengah Atas. Harusnya dia sudah bisa berpikir lebih dewasa. Tapi karena kecemburuannya pada kasih sayang kakaknya yang merasa di rebut dirinya jadi tak bisa berpikir jernih.


" A Dio yang harusnya minta maaf sama Ayu. Maaf ya ! " Sahut Dio sambil menatap wajah polos Ayu yang terlihat manis.


Ayu mendongak memasang wajah senangnya pada Dio. " Jadi kita baikan ya ! " Ucapnya polos.


" Ciye....baikan " Ledek Nayla tiba - tiba, dan entah kenapa wajah Dio menjadi memerah, dia tersipu padahal Ayu terlihat biasa - biasa saja.


" A Dio, wajahnya kenapa ? kok pipinya merah ? " Tanya Ayu sambil memperhatikan wajah Dio dari dekat. Dio semakin blingsatan kenapa dirinya jadi grogi seperti itu.


Ayu dan Dio terpaut umur tiga tahun, jika sekolah harusnya Ayu sekarang sudah masuk di kelas satu Menengah Pertama. Wajahnya begitu polos dan ayu sesuai namanya.


Nayla tersenyum lucu, adiknya ternyata bisa juga malu - malu.


" Tidur yuk ! udah malam " Tukas Nayla, membuat perhatian Ayu tersita padanya.


" Iya, Ayu udah ngantuk . " Balasnya . " A dio, Ayu tidur dulu ya ! besok jangan marahan lagi ya ! kita kan udah baikan. " Imbuhnya, Dio melirik ke arah Ayu, sedikit berdecak mendengar ucapan Ayu yang menurutnya seperti ucapan seorang pacar.


" Tuh denger ! udah baikan jangan gangguin terus ! " Ledek Nayla lagi, dan mendapat delikan tajam dari mata Dio. Nayla hanya tertawa kecil melihat reaksi adiknya itu.


Nayla dan Ayu pun beranjak meninggalkan kamar Dio, sedangkan Dio hanya duduk terpaku menatap kepergian mereka yang kemudian hilang di balik pintu kamarnya.


" Manis juga ya gadis desa itu. " Gumam Dio pelan. Dia tersenyum sendiri mengingat senyuman dari bibir gadis kecil itu.


Sepertinya kisah baru akan segera di mulai, Dio yang sudah menginjak masa remajanya mulai tergoda oleh seorang gadis desa yang masih belia. Umur mereka memang sama - sama muda tapi cinta pertama kadang datang pada mereka yang sering main bersama.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, di pagi buta Nayla sudah mendengar suara bel pintu berbunyi tanda ada tamu di luar sana, Nayla yang baru selesai menjalankan solat subuh keluar dari kamarnya hendak membuka pintu tersebut karena sudah berkali - kali bel itu berbunyi, sepertinya penghuni rumah itu belum selesai dengan ritual pagi mereka.


" Siapa sih subuh - subuh bertamu ?" Decak Nayla sambil berjalan mendekati pintu.


Saat dia membuka kunci dan memutar gagang pintu, matanya begitu terkesiap melihat sosok suaminya yang berdiri mematung sambil memasang wajah lesunya, terlihat rona hitam di bola matanya yang menandakan pria itu kurang tidur semalaman.


" Eh.. masih pagi gini udah dateng, udah solat subuh belum ? " Tanya Nayla pertama kali.


Bukannya menjawab pertanyaan Nayla, tangan Rey langsung bergerak menarik tubuh di hadapannya itu masuk ke dalam pelukannya.


" Mas gak bisa tidur, Mas kangen kamu ! " Ucap Rey dengan manja di telinga Nayla. Nayla terperangah kaget, walaupun tak merasa aneh dengan sikap posesif sang suami, tapi tetap saja ucapan itu mampu membuatnya tersipu.


" Solat dulu ! " Seru Nayla, mencoba melepas pelukan Rey, tapi pelukan itu terlalu kuat, Rey tak mau merubah posisinya tersebut. Nayla pasrah membiarkan suaminya melampiaskan rasa kangennya tersebut. Tapi lama - lama pelukan itu semakin intim, tangan Rey tak mau diam, semakin lama tubuh Nayla seakan memberinya kehangatan yang membuat tubuh Rey menjadi panas.


" Mas ? " Nayla menepis tangan Rey, sejenak mata mereka saling tatap, terlihat tatapan penuh arti dari suaminya itu. Wajahnya terlihat sendu, sorot matanya mengandung nafsu yang menggebu.


" Ke kamar yuk ! " Pinta Rey kemudian.


Nayla menghela nafas kasar, suaminya benar - benar keterlaluan. Pagi - pagi buta datang hanya untuk meminta jatahnya yang cuma semalam tak dia dapatkan.


" Tapi solat dulu ! " Nayla kembali mengingatkan di perjalanannya menuju kamar.


" Iya. " Jawab Rey sambil tersenyum penuh kemenangan.


****


Maaf Up nya lama, dan hanya sedikit. Authornya lagi gak konsen buat nyari ide baru. Tapi author masih berharap dukungan para readers sekalian agar novel ini tetap berjalan. Terima kasih buat yang masih setia membaca. dan Mohon maaf jika masih banyak kekurangannya.


Happy reading 😉😉

__ADS_1


__ADS_2