
Hari bergulir begitu cepat, tak terasa sebulan berlalu meninggalkan kenangan pahit untuk Nayla. Hari - hari kembali seperti biasa, sekarang Nayla menjadi pribadi yang lebih waspada.
Pengalaman buruknya saat di fitnah membuat dia lebih berjaga diri akan segala masalah yang ada di sekitar dirinya. Tapi tidak juga membuat dia jera untuk tetap membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan nya.
Nayla tetaplah sosok pahlawan yang tak pandang bulu, seorang pendekar cantik yang siap turun ke medan perang ketika kejahatan mengintai dirinya ataupun orang lain.
Seperti biasa, pagi itu Nayla menjemput Rere ke rumahnya. Kini hubungannya dengan Rey sedikit lebih dekat. Tina sudah tidak lagi membatasi masalah percintaan Nayla. Karena Tina tidak ingin ada Panji kedua yang akan muncul nantinya, yang terlahir dari keegoisan cinta.
Pihak kampus sudah mendengar kalau Nayla tidak bersalah, atas persetujuan semua pemilik saham dan para staff direksi, akhir nya beasiswa Nayla di berikan kembali padanya. Nayla sangat senang bisa melanjutkan kuliah nya yang tinggal beberapa bulan lagi.
"Siang tante Rania..." Nayla menyapa Rania yang sedang sibuk mempercantik tanaman bunga kesayangannya.
Rania menoleh ke arah Nayla. Lalu senyum merekah mengembang di bibirnya. "Eh... Nayla, tumben agak siangan." Rania berucap sambil celingukan ke arah belakang Nayla.
"Cuma mau ngasih modul skripsi ke dosen pembimbing aja tante, janjiannya agak siangan." Nayla berucap sambil mengikuti gerakan Rania dengan menoleh ke belakangnya. "Tante cari apa?" Tanyanya.
"Motormu mana? Kok kamu jalan kaki?"
Nayla menoleh kearah pos satpam yang terletak agak jauh dari pelataran rumah Rey. "Tuh...di sana tante, aku titipin pak satpam." Unjuk Nayla dengan jari telunjuknya.
"Oh... Ya udah sana masuk! Rere ada di kamarnya." Perintah Rania lalu melanjutkan kembali kegiatannya tadi.
"Ok tante." Nayla bergegas melangkah menemui Rere masuk ke dalam rumah. Setelah sampai di dalam rumah, ia langsung saja naik ke lantai atas menuju kamar Rere.
Nayla menaiki anak tangga dengan perlahan, sebenarnya dia masih takut untuk bertemu dengan Rey, Rey masih suka mengoda Nayla dengan gombalan- gombalan receh nya. Nayla bukan orang yang pandai mengungkapkan perasaannya.
Walaupun sudah mendapatkan lampu hijau dari sang ibu, tetap saja dia masih malu. Nayla juga masih belum percaya diri. Rasanya ia tidak pantas bersanding dengan orang hebat macam Rey ini.
Saat Nayla melewati kamar Rey, dia merasa jantungnya berdebar lebih cepat, "Aduh...kenapa lagi nih jantung, orangnya gak ada juga tetap aja bergenderang." Gumam Nayla sambil memegang dadanya.
Tapi, ketika hendak melangkahkan kakinya tepat di depan pintu kamar Rey, sebuah tangan kekar menggapai tangan Nayla dan menariknya masuk ke dalam kamar.
Tubuh Nayla di sudutkan, menempel pada tembok dan sebuah tangan kekar menghadang tubuhnya hingga tak bisa berkutik.
"Bang Rey.. mau ngapain?" Nayla jadi gemetar, rasanya lebih baik bertempur di medan perang dari pada berhadapan dengan lelaki yang selalu sukses membuat jantung nya berdegup kencang.
Rey menutup pintu dengan menggunakan sebelah kaki nya, sebuah senyuman menyeringai terbentuk di bibir tipisnya. "Menurutmu?" Rey bertanya balik.
__ADS_1
Nayla semakin gemetar saja, jarak wajah mereka terlalu dekat hingga Nayla bisa merasakan kehangatan nafas Rey yang menerpa kulit wajahnya. "Bang Rey, bukannya harus kerja yah, kok masih di rumah, ini udah siang loh.." Ucap Nayla mengalihkan pembicaraan.
Jantungnya seakan mau lepas dari tempatnya. Tangan dan kakinya tiba-tiba tak punya tenaga untuk berontak. Dan tentang hatinya itu tidak perlu di tanya sudah pasti hatinya itu seakan melambung ke udara.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan perasaan mu, hem? Apa kau masih takut kisah cintamu akan sama seperti kisah cinta masa lalu ibumu?" Rey sudah kehabisan kesabaran jika terus-terusan mengejar cinta yang sudah pasti tapi sangat sulit untuk di dapatkannya.
Nayla menajamkan kedua bola matanya dengan keningnya yang berkerut dalam. Tatapan mata mereka saling bertemu. Sorot mata yang dalam dengan bulu mata yang jentik dan panjang menambah aura kecantikan Nayla semakin terpancar di mata Rey. Sesaat keheningan menerpa suasana kamar.
"Dari mana bang Rey tahu masa lalu ibuku?" Pertanyaan Nayla membuyarkan pandangan Rey.
Melihat tatapan Nayla hati Rey semakin berdesir. Seakan ada hawa panas bergejolak dalam tubuhnya. Rey langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menjauhkan tubuhnya dari Nayla, Rey takut tak bisa mengendalikan hasratnya. "Sial...Tatapan mata indah itu, hampir membuat benteng pertahananku hancur." Rutuk Rey dalam hati.
Nayla mengernyit heran, bukan nya menjawab Rey malah membuang muka. Dan hal itu di jadikan kesempatan buat Nayla untuk melarikan diri, Nayla berusaha untuk menggapai gagang pintu dan membuat pintu sedikit terbuka.
Tapi usahanya sia-sia, tangan Rey dengan cepat mendorong pintu itu hingga tertutup kembali. "Mau kabur ya?" Rey mengulas senyum devil tatapan matanya membuat Nayla jadi bergidik.
"Bang Rey aku harus ke kamar Rere, dan kami akan pergi kuliah. Jadi...." Ucapan Nayla tertahan saat tangan Rey kembali mengurung tubuhnya.
"Jadi..." Rey mengulangi ucapan terakhir Nayla.
"Katakan dulu, kamu mencintaiku!" Rey semakin gencar menggoda Nayla. Nayla semakin gemetar di buatnya.
"Bang Rey salah paham. Aku tidak.... "
"Jangan bohong! Cepat katakan! Kalau tidak aku tidak akan melepaskanmu!" Seru Rey semakin mengancam.
Hah, apa-apaan? Lelaki ini selalu saja memaksakan keinginannya. Nayla ingin sekali menghajarnya, tapi jika mengingat jasa-jasa lelaki itu yang sudah banyak membantunya. Tentu saja ia mengurungkan niatnya.
"Ya sudah iya." Nayla terpaksa berkata seperti itu. Dalam pikirannya sekarang yang penting dia bisa bebas dulu dari kungkungan manusia itu.
Rey mengerutkan keningnya, rasanya ucapan Nayla terdengar tidak ikhlas. "Katakan lebih tulus!" Seru Rey sambil mendengus.
Nayla menghela nafasnya perlahan. Ia seperti terjebak dalam permainan. Oke sebaiknya ia lanjutkan.
Nayla menatap Rey dengan tatapan sendu, ia menarik kedua sudut bibirnya membentuk satu senyuman tulus disana. Ah, membuat hati Rey semakin berbunga-bunga saja.
"Aku cinta sama kamu.... Bang Reydian." Nayla mengucapkan kalimat itu dengan penuh penekanan. Rey menatap Nayla dengan tatapan tak percaya. Apakah gadis yang di hadapannya itu adalah benar-benar Nayla? Gadis petarung tapi pemalu dalam hal cinta?
__ADS_1
Tatapan Rey seakan membuat Nayla jadi tersihir. Entah kenapa dirinya jadi suka menatap wajah Rey dengan jarak sedekat ini. Hingga tak terasa tangan yang menahan dada Rey agar tidak lebih mendekat padanya jadi turun kebawah.
Hal itu tentu saja di jadikan kesempatan untuk Rey untuk lebih mendekatkan tubuh mereka. Tatapan mata Rey kini tertuju pada bibir mungil Nayla. Begitu ranum dan terlihat menawan.
Rey sudah tidak bisa menahan. Berada di jarak sedekat ini dengan gadis pujaannya membuat pertahanannya hancur juga. Rey hampir mereguk manisnya bibir Nayla. Sampai seseorang mengganggu moment indahnya dengan Nayla.
"Aww..." Suara Rey memecah suasana romantis itu, kepala nya terbentur pintu yang tiba- tiba terbuka tepat di belakangnya.
"Eh....ngapain kalian di situ?" Rere yang tiba-tiba datang tidak di undang langsung masuk ke kamar tanpa permisi.
Nayla yang terkejut reflek mendorong tubuh Rey hingga tubuhnya terpental kembali membentur pintu, sampai Rey terjatuh ke lantai. Sudah jatuh terbentur pula. Malang benar nasibmu nak...
Rey mengaduh, entah dia harus memegang kepala atau badannya terlebih dahulu. Karena rasanya seluruh tubuhnya remuk saat itu.
"Eh...maaf aku gak sengaja." Ucap Nayla sambil membantu Rey berdiri.
Rere menautkan kedua alisnya, merasa curiga dengan kelakuan kedua orang di hadapannya. "Hei... Kalian dengar aku gak? ngapain di situ?" Rere mengulangi pertanyaan nya yang belum sempat mereka jawab.
Rey menoleh pada adiknya, tatapan tajam ia sorotkan pada gadis itu. "Diam kamu, gak lihat abang kesakitan?" Bentak Rey, sambil memegang pinggangnya.
Rere mundur satu langkah. Sepertinya dia telah melakukan kesalahan hingga membuat kakaknya begitu geram. Ia langsung menarik tubuh Nayla untuk mendekat ke arahnya. "Nayla, sini!" Rere menarik tangan Nayla dengan cepat.
Tapi Rey juga menarik tangan Nayla yang sebelah nya lagi, mereka seperti sedang rebutan Nayla. "Mau kemana? Aku kesakitan. Kamu gak mau obatin aku?" Rey menatap Nayla dengan tatapan menghiba.
Nayla dan Rere mengernyitkan keningnya hampir bersamaan. "Ada apa dengan lelaki ini? Apa dia kesurupan?" Gumam Nayla dalam hati.
"Bang Rey gak usah lebay deh! Cuma gitu doang juga." Ungkapan itu terlontar dari mulut adik kandung Rey. Membuat Rey semakin kesal saja. Bisa tidak sih adiknya mengerti untuk kali ini. Benar-benar merusak suasana.
"Udahlah, kita kuliah aja, ayo!" Tanpa perasaan bersalah Nayla meninggalkan Rey begitu saja. Hah, terbuat dari apa hati gadis itu. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia baru saja mengungkapkan perasaannya. Apakah semua itu hanya dusta?
Rey mengacak rambutnya begitu frustasi. Untuk kali ini dia gagal lagi. Tapi lihat saja nanti. Rey akan berusaha lagi.
***
Bersambung..
Kasih saran dan kritiknya dong readers. Biar amih selalu dapat inspirasi. Dukungan kalian selalu amih tunggu. Makasih.
__ADS_1