
Nayla mulai jengah dengan celotehan dokter Ryan yang terus saja menggodanya, sampai suara ketukan pintu di luar ruangan mereka membuat dokter Ryan seketika membungkam, ternyata dia pandai juga menutupi sifat aslinya itu.
" Masuk " Teriak dokter Ryan.
Pintu ruangan pun terbuka, dan masuklah seorang perawat dengan membawa beberapa map berisi berkas para pasien anak di rumah sakit itu.
"Permisi dok, ini data pasien anak rawat inap " Suster tersebut memberikan data itu pada dokter Ryan.
" Pasien kamar 201 sepertinya sudah bisa pulang hari ini dokter, kondisinya sudah kembali normal. " imbuh suster yang bernama Mira itu.
Dokter Ryan melihat berkas pasien anak di kamar 201, lalu menoleh ke arah Nayla yang sibuk juga dengan beberapa berkasnya yang sedang ia pelajari.
"Nayla, nanti kamu hubungi dokter spesialis jantung untuk memberikan berkas anak ini! Sekalian tanyakan padanya bagaimana kemajuan kondisi jantung pasien!"
Nayla menoleh, sejenak menatap map berwarna kuning yang di sodorkan oleh suster Mira, yang dia ambil dari dokter Ryan untuk di berikan pada Nayla. Nayla membuka map itu dan memperhatikannya sejenak.
"Baik, Dok!" Nayla pun beranjak berdiri, lalu melangkah pergi. Mengikuti perintah dokter seniornya tersebut.
Setelah beberapa jam berlalu Nayla selesai dengan pekerjaannya, dia terlihat sedikit lelah karena tugasnya hari ini cukup banyak.
" Kamu lelah Nay ?" tanya Dokter Ryan mengagetkan Nayla.
" Eh...iya dok, sedikit " jawab nya.
" Sudah waktunya istirahat, Ayo makan siang bareng di kantin kita ! " Ajak dokter Ryan.
Nayla beranjak berdiri, hendak mengikuti langkah dokter Ryan yang sudah mendahuluinya, tapi saat dia hendak membuka pintu, dokter Ryan terdiam lalu berbalik menghadap Nayla.
" Hari ini aku tidak melihat calon suamimu, Rey, tumben dia tidak datang " Tanya dokter Ryan dengan mengangkat halisnya sebelah.
Nayla juga berhenti berjalan lalu mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
" Mungkin dia sedang sibuk dokter " Jawab Nayla.
Dokter Ryan hanya mengangguk pelan, lalu melanjutkan aktifitasnya membuka pintu dan mengajak Nayla pergi ke kantin untuk makan siang.
Sesampainya di kantin Nayla melihat Rere dan Ardi sedang makan berhadapan di kantin khusus karyawan rumah sakit itu. Ardi bisa masuk karena rekomendasi dari Rere, Nayla dan dokter Ryan pun memutuskan untuk ikut bergabung bersama mereka berdua.
" Ih....gak ngajak - ngajak ya, sekarang tuh mau nya berduaan terus " Ledek Nayla saat sudah mendekati meja Rere dan Ardi.
Mereka berdua begitu terkesiap melihat kedatangan dokter cantik itu, lalu mempersilahkan Nayla dan dokter Ryan untuk duduk di kursi kosong yang ada di sebelah mereka.
" Bang Rey gak kesini Nay ? " Tanya Rere saat Nayla sudah mendaratkan tubuhnya di kursi kosong itu.
Nayla menggeleng " Enggak " jawabnya singkat.
" Gak ambil makanan dulu ? " Tanya Ardi ikut berbicara.
" Ah...iya, kami lupa, ayo Nay ! " ajak dokter Ryan. Disana memang sudah di sediakan berbagai makanan sehat yang di sediakan oleh pihak rumah sakit untuk karyawan dan para dokter yang ada di rumah sakit itu.
__ADS_1
Mereka berdua pun mengambil makanan dan kembali ke kursi yang di duduki semula.
" Kalian sudah selesai ?" tanya Nayla pada Ardi dan Rere.
" Belum, kami juga baru datang abis mengambil makanan, lalu kalian datang " jawab Ardi .
Nayla hanya ber oh tanpa suara, dan langsung melahap makanan yang ada di hadapannya, begitu juga dengan dokter Ryan.
Baru beberapa suap makanan itu masuk ke dalam mulutnya, suara dering ponsel milik Nayla terdengar begitu nyaring di saku blazer yang dia kenakan.
Nayla mengambil ponsel miliknya dan melihat layar ponsel tersebut, terlihat panggilan video dari Rey yang memaksanya untuk menekan tombol hijau untuk menerima panggilan video tersebut.
" Lagi ngapain ?" Tanya Rey di balik layar kotak ponsel milik Nayla.
Nayla menunjukkan piring yang masih berisi makanan miliknya, tak bicara pun Rey mengerti kalau Nayla sedang makan siang.
" Maaf ya, mas gak bisa nemenin kamu, sebentar lagi mas ada rapat penting "
" Rapat apaan tuh, hati -hati loh Nay ! " Rere yang mendengar percakapan mereka pun ikut berbicara menyela obrolan mereka.
" Siapa tuh ?" wajah Rey berubah sinis.
" Rere " Jawab Nayla, sambil menghadapkan layar ponselnya pada calon adik iparnya itu.
" Hallo abang " Sapa Rere sambil tersenyum cengengesan di depan layar ponsel yang menunjukkan wajah abangnya. Nayla kemudian menghadapkan nya kembali ke arah nya.
" Udah ya mas, aku lagi makan. " Ucap Nayla ingin mengakhiri panggilan video itu.
Nayla memutar layar ponselnya menghadap ke dokter Ryan, kemudian Rere dan terakhir Ardi yang duduk di samping Nayla.
Rey terlihat geram, melihat Ardi ada di sana terlebih dia duduk berdampingan dengan Nayla.
" Ngapain Ardi di situ ?" pertanyaan Rey membuat Nayla jadi merasa tidak enak dengan Ardi, pasalnya Ardi juga mendengar nya. Nayla menoleh ke arah Ardi.
" Ya mau ketemu pacarnya dong, dia kan pacar Rere sekarang" suara Nayla terdengar lebih ketus.
" Iya tau, gak usah dekat - dekat kamu juga kan ?" ucap Rey semakin menyebalkan.
" Ish,,, mulai kumat dia " Gumam Nayla merasa kesal.
Dokter Ryan hanya tersenyum geli melihat kejengkelan dokter cantik di hadapannya itu.
" Iya... nanti aku makannya di luar, puas !" Seru Nayla sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan kesal, rasanya ingin sekali melahap tunangannya itu. Rey pun terkekeh
" Ya gak gitu juga dong sayang ! mas pergi dulu ya, Jordy sudah menunggu . bye.. mmuach ! " Tanpa membalas perpisahan dari Rey Nayla langsung menekan tombol akhiri panggilan, dan menyimpan ponsel nya di atas meja dengan raut wajah yang di tekuk kesal.
" Masih cemburu sama aku Nay ?" Ardi akhirnya berani berbicara saat Nayla sudah mengakhiri panggilan teleponnya.
Nayla menoleh " Begitu lah " Jawab Nayla santai. Ardi jadi berpikir sejenak.
__ADS_1
" Ehm... aku jadi takut jika pak Rey mengira aku jadian sama Rere cuma buat deketin kamu aja. " Ucapnya sedikit ragu.
" Memangnya kayak gitu, Yang ?" Rere yang mendengarnya jadi ikutan merajuk. Ardi merasa salah bicara, kemudian memegang kedua tangan Rere.
" Gak gitu lah, Sayang. Aku kan beneran cinta sama kamu," ucapnya mencoba membujuk Rere.
Nayla jadi terkekeh, kemudian melanjutkan makannya kembali. Nayla bukan sosok yang romantis jadi dia tidak begitu tertarik membicarakan hal - hal yang berkaitan dengan itu.
****
Detik berganti menit, menit berganti jam, tak terasa jam kerja Nayla sudah berakhir, dia pun bersiap untuk pulang ke rumahnya.
" Kamu tidak di jemput Nay ?" tanya dokter Ryan yang juga bersiap untuk pulang.
Nayla mendongakkan kepalanya dari tas kerja miliknya kemudian beralih ke arah dokter Ryan.
" Enggak dok, motor aku kan masih di sini " jawab Nayla kemudian kembali membereskan barang bawaannya.
Nayla pun berpamitan untuk pulang duluan, setelah mengendarai si mocan, Nayla berencana ingin mampir sebentar di taman bunga, tempat favoritnya itu.
Setelah beberapa menit Nayla sampai di taman bunga, Nayla menghirup dalam- dalam udara segar di sana, rasanya menenangkan sekali, rasa lelahnya bekerja seharian menjadi hilang seketika, melihat keindahan bunga - bunga cantik dan segar di sana. Nayla duduk di dekat monumen kecil yang bertuliskan nama, dan dia tersenyum lebar ternyata Rey sudah mengganti nama taman itu menjadi namanya sendiri 'Nayla. A' di tambah tulisan '♡ Reydian. R' dibawah nya.
" Kayak anak ABG aja " Nayla tersenyum geli, sambil mengusap halus tulisan itu.
Tak berapa lama dia pun bergegas untuk pulang ke rumahnya, setelah melajukan motor nya beberapa meter dari taman, dia melihat seseorang yang tergeletak tidur tengkurap di tengah jalan yang masih sepi tersebut.
" Eh.... kenapa tuh orang ?" Nayla menghentikan motornya dan menghampiri orang tersebut.
Tapi saat Nayla sudah mendekat dan hendak menyentuh orang tersebut, orang itu langsung berbalik dan menyerang Nayla dengan sebuah pisau.
Nayla berhasil mengelak, tubuhnya menghempas menjauh dari orang tersebut. Nayla mengernyitkan dahi.
" Mau apa kamu ?"
" Jangan galak - galak neng, entar cantik nya ilang tuh " Terdengar suara laki - laki dari arah belakang Nayla, kemudian di susul oleh dua orang lainnya di sisi yang berbeda, kini mereka mengelilingi Nayla sambil tertawa sarkas.
Nayla menatap ke empat laki - laki yang berpakaian seperti preman itu bergantian.
" Kalian mau apa ?" Nayla mengulangi pertanyaannya.
" Jangan banyak bicara, hajar !" Teriak salah satu preman tersebut.
Mereka langsung menyerang Nayla bersamaan, Nayla masih bisa menangkis dan menghajar preman- preman itu dengan beberapa pukulan. Tapi, lama kelamaan Nayla mulai kewalahan, karena mereka menyerang dengan keroyokan dengan susah payah Nayla bisa menghajar mereka sampai babak belur.
Nayla juga terlihat babak belur, tapi dengan sekuat tenaga dia mencoba mengumpulkan kembali tenaga nya agar bisa meninggalkan tempat itu. Tapi di saat dirinya lengah, dan hendak berjalan menuju motornya, salah satu dari preman itu membekap mulut Nayla dari belakang, lalu satu lagi menusukkan pisau di pinggang Nayla. Membuat Nayla terkulai lemas dan tersungkur tak berdaya.
Ke empat preman tersebut mengelilingi Nayla sambil tertawa terbahak - bahak, Nayla mencoba menjaga kesadaran dirinya, tapi rasa sakit yang menghujam pinggangnya itu memaksa matanya untuk menutup rapat, seketika pandangan Nayla jadi menghilang hanya kegelapan yang muncul di pelupuk matanya, hingga dia benar kehilangan kesadarannya.
***
__ADS_1
Konflik baru ya readers....mohon bantuan nya untuk menaikkan rating novel ini dong... mohon maaf kalau jalan cerita nya sudah tidak menarik...author akan berusaha berpikir lebih keras lagi. jadi semangatin terus author ya readers semua.
Klik tombol like , kasih komentar apa aja, dan juga Vote nya jangan lupa.. tetap jadiin favorit ya author amy...makasih.